Arsip Blog

Review Novel (dan Film) Critical Eleven

Saya tertarik membaca novelnya setelah film ini diputar di bioskop. Sebagai seorang penggemar film, saya lebih suka membaca bukunya terlebih dahulu, lalu langsung nonton filmnya. Film dan novel adalah dua media berbeda, jadi saya tidak suka menghakimi semua film pasti lebih jelek dari bukunya. Menurut saya, tidaklah adil membandingkan kedua media tersebut, karena tidak apple to apple. Saya lebih suka menilai apakah jiwa dari novelnya tersampaikan di filmnya. Ada perbedaan di sana sini wajar, karena kita menonton film yang audio visual, dibandingkan novel yang hanya murni tekstual. Hanya karena tidak seindah imajinasi kita, apa filmnya patut dicaci maki? Nggak fair menurut saya.

Img2

JW Eagan Quotes

Film yang menurut saya cukup baik menggambarkan jiwa novelnya adalah Disclosurenya Michael Chrichton dan Laskar Pelanginya Andrea Hirata. Yang gagal menurut saya adalah The Chambernya John Grisham. Balik ke Critical Eleven, saya mesti nonton dulu filmnya sebelum bisa berkomentar lebih lanjut. (Updated: saya sudah menonton filmnya, dan menurut saya, filmnya lebih menarik daripada novelnya dari sisi pesan yang ingin disampaikan! Ngambeknya Anya digambarkan secara proporsional dan tidak bertele-tele seperti di novel. Akting Reza Rahardian dan Adinia Wirasti cukup meyakinkan penonton. Latar belakang musik dan sinematografi sangat mendukung, terutama masa-masa di Amerika. Acungan jempol untuk Monty Tiwa yang sukses berat menyutradarai bersama Robert Ronny dan ikut menulis skenarionya. Beberapa penyesuaian cerita dilakukan dari apa yang ada di novelnya, dan membuat filmnya berasa lebih natural dan plausible. 8 skala 10 deh filmnya!).

Novel yang saya beli sampulnya bukan yang pesawat terbang, namun adegan Reza Rahardian memeluk Adinia Wirasti dari belakang di Amerika. Waktu saya intip di bagian awal bukunya, ternyata ini sudah cetakan kedua puluh! Luar biasa. Ini adalah novel Ika Natassa yang pertama saya baca. Novel setebal 335 halaman ini tidak butuh lama untuk membuat saya terus membacanya. Setiap menunggu kereta dan bergelantungan di commuter line saya selalu melahapnya, ditambah waktu malam dan hari libur.

Terus terang, judulnya lumayan catchy. Critical Eleven. Dalam dunia penerbangan, dikenal sebuah istilah yakni Critical Eleven, 11 menit paling kritis di dalam pesawat. Dimulai dari 3 menit setelah take off dan 8 menit sebelum landing — karena secara statistik, 80% kecelakaan pesawat, umumnya terjadi dalam rentang waktu 11 menit ini.

Di cerita ini, Critical Eleven menggambarkan 11 menit penting di momen pertemuan pertama, di mana 3 menit pertama bersifat kritis karena saat itulah kesan pertama mulai terbentuk, lalu ada 8 menit sebelum berpisah — saat ketika senyum, melihat tindak tanduknya, dan ekspresi wajah orang tersebut, menjadi pertanda apakah itu akan menjadi awal suatu hubungan atau hanya sekadar akhir dari pertemuan tidak ada artinya.

Ale (dalam filmnya diperankan oleh Reza Rahadian) dan Anya (Adinia Wirasti) pertama kali bertemu dalam penerbangan Jakarta – Sydney. Saat pertemuan terjadi, 3 menit pertama Anya mulai terpikat, 7 jam berikutnya mereka duduk bersebelahan dan saling mengenal lewat percakapan dan tawa satu sama lain, sampailah pada 8 menit sebelum berpisah. Sejak pertemuan itu berakhir, dalam hatinya, Ale yakin bahwa dia begitu menginginkan Anya. Dan dari peristiwa berkesan itu, Ale dan Anya menjalin hubungan dan melanjutkannya dalam sebuah mahligai pernikahan.

Kehidupan begitu indah dalam kehidupan mereka berdua, hingga sebuah musibah besar menimpa keluarga kecil mereka. Di titik ini Anya dan Ale diuji kesabaran, komitmen, dan pengorbanan mereka untuk menentukan apakah mitsaqon ghalidzha ini perlu dipertahankan atau disudahi.

Saya merasa bahwa istilah Critical Eleven ini tidak hanya masa sebelas menit yang paling menentukan dalam pertemuan dua orang manusia, namun juga dalam 11 tahun awal pernikahan. Setiap keluarga, memiliki badainya masing-masing. Dan badai terbesar, biasanya diuji dalam masa awal pernikahan. Tiga tahun di awal pernikahan dan delapan tahun berikutnya, biasanya bisa menentukan apakah pernikahannya cukup matang atau rapuh.

Dalam novel ini, cinta Anya dan Ale diuji. Ini masalah komitmen dan masalah apa yang kita butuhkan dalam hidup ini. Ketika masalah terjadi, apakah kita termasuk yang mendiamkannya dan berharap masalahnya beres sendiri, melibatkan orang ketiga, atau bersikap layaknya dua orang dewasa untuk mendiskusikannya dari hati ke hati mencari solusinya bersama.

Penuturan sudut pandang dalam novel ini mengingatkan saya pada novel Pada Sebuah Kapalnya N.H. Dini. Bedanya kalau N.H. Dini membagi sudut pandang tokoh utama lelaki dan wanita dalam dua bagian besar. Bagian awal sudut pandang sang wanita, dan bagian kedua akhir sudut pandang sang pria. Critical Eleven membagi sudut pandangnya secara bergantian. Dalam satu bab, Ika bisa bercerita dalam sudut pandang Anya, Ale, lalu balik ke Anya lagi, dan seterusnya. Terkadang kita bingung, ini yang lagi bicara siapa ya? Anya atau Ale. Pada saat itu saya terpaksa membalik halaman untuk mengetahuinya.

Ika menceritakan kisahnya terkadang menggunakan Bahasa Inggris (bahkan kalimat pertama dalam novel ini dituliskan dalam Bahasa Inggris), which is fine by me, namun ada orang yang memandang sinis : apakah Bahasa Indonesia tidak cukup ekspresif untuk mewakili seluruh penceritaan kisahnya? Menurut saya sah-sah saja, dan terkadang ada istilah yang memang lebih pas ketika diucapkan dalam Bahasa Inggris. Bukannya mau sok-sokan enggres, tapi di samping asyik, kadang lebih pas, karena Bahasa Inggris cukup ekspresif. Dalam beberapa huruf dan kata yang lebih sedikit bisa mewakili padanannya dalam Bahasa Indonesia. Tentu Ika memilih cara seperti ini bukan karena sok enggres dan tidak cinta Bahasa Indonesia. So please, give her a break!

Setiap pengarang memiliki ciri khas dalam bertutur. Saya suka Andrea Hirata karena dia jago mengocok perut pembacanya sekaligus bisa membuat kita menitikkan air mata. Pengalamannya yang luas selama di luar negeri dan kehidupannya yang keras membuatnya kaya dalam bertutur dan mengombang-ambingkan emosi kita. Ika Natassa memiliki wawasan cukup luas, humoris, dan gaul. Ini tergambarkan dalam penuturan kisahnya. Ada banyak one liner atau kutipan yang asyik atau lucu untuk kita resapi dalam hati, kita kenang, kita tertawakan, dan kita amini.

“The best thing for being sad,” replied Merlin, beginning to puff and blow, “is to learn something. That’s the only thing that never fails. You may grow old and trembling in your anatomies, you may lie awake at night listening to the disorder of your veins, you may miss your only love, you may see the world about you devastated by evil lunatics, or know your honour trampled in the sewers of baser minds. There is only one thing for it then — to learn. Learn why the world wags and what wags it. (T.H. White)

In life, there are no heroes and villains, only various states of compromise.

In marriage, when we win, we win big. But when we lost, we lost more than anything. We lost ourselves, and there’s nothing sadder than that.

I’m starting to speak to myself in the third-person. This is not healthy. (Anya)

Not everything that counts can be counted, and not everything that can be counted counts. (Albert Einstein)

Membaca novel ini, bagi mereka yang belum menikah bisa mulai membayangkan bahwa pernikahan bukan hanya nikmatnya saja. Tetapi badainya juga hadir satu paket. Dalam hal ini keimanan dan kepercayaan pada Tuhan YME sangatlah penting. Bukan hanya sekedar beriman, namun takwa yang sebenar-benarnya takwa juga penting untuk menghadapi badai ini. Beberapa tokoh dalam cerita, meski muslim, digambarkan minum alkohol dan tidak sholat. Ada review yang mempertanyakan hal ini. Muslim kok digambarkannya tidak begitu taat sih? Menurut saya, justru banyak kok di masyarakat kita yang muslim namun belum menjalankan syariah agama secara benar. Karena mungkin belum cukup belajar agama lebih dalam. Dan ini potret Jakarta dan juga negara kita. Kita ambil yang baik, tinggalkan yang buruk. Ika tidak menulis tokoh yang sangat tinggi akhlaknya, namun mencoba mengambil salah satu contoh yang ada di masyarakat sekarang. Kalau ingin tokohnya sangat baik dalam agama, coba baca novelnya Kang Abik (Habiburrahman El Shirazy), yang biasanya tokohnya anak pondok, novelnya Mbak Helvy Tiana Rosa, dsb.

Novel ini agak terasa bertele-tele di bagian 2/3 menjelang berakhir. Penderitaan tokoh utama kok sepertinya berlarut-larut dan tidak kunjung dicari solusinya. Mungkin Ika merasa jika terlalu mudah konfliknya terasa ringan dan terlalu mudah untuk diceritakan. Namun efeknya adalah jika kompleksitasnya tidak rumit, malah seperti dibuat-buat dan bikin pembacanya geregetan. Mungkin kalau masalahnya dibuat lebih rumit dan berpotensi menimbulkan simalakama, akan lebih bisa diterima pembaca.

Kesimpulannya, secara keseluruhan saya menyukai novelnya. Akan lebih menarik jika kompleksitas masalah agak ditambah atau novelnya lebih diringkas. Saya akan mencoba membaca novel lain karangan Ika untuk lebih mengenal signaturenya.

Saya memberi nilai 7.5 skala 10. Cocok buat jomblo yang mau (baca: sudah kepengen banget) nikah (agar punya bayangan kalau nantinya gak jomblo lagi dan menikah), mereka yang sudah berumah tangga, maupun yang mengenang rumah tangganya. Membaca novel ini membuat saya ingin berbuat lebih untuk pasangan saya di rumah, bahwa cinta itu harus selalu dipupuk, jangan hanya take it for granted. Pernikahan adalah komitmen, komunikasi sangatlah penting dalam menyelesaikan masalah. Eskalasi kepada Tuhan YME juga sangat krusial agar kita tidak merasa dunia mau kiamat.

Terkadang, kita tidak pernah tahu bahwa kita memiliki sesuatu sampai kita kehilangannya.

 

Iklan