Arsip Blog

Camping di TNGP Cibodas

Minggu lalu kami sekeluarga pergi berkemah di Cibodas Golf Camping Ground dekat Cimacan. Lokasinya setelah Puncak Pass kalau dari Jakarta. Kalau mau ke sini pakai angkutan umum, naik saja elf atau bis dari Bogor, arah Cianjur. Nanti tinggal turun di pertigaan Cibodas, naik angkot sekitar 2 km ke Taman Nasional Gede Pangrango.

Img7

Ridwan, teman saya sekantor juga membawa keluarganya untuk camping bersama. Winny Marlina, teman blogger lama, ikutan bersama juga. Sayang dua temannya tidak bisa ikutan karena ada aktivitas dadakan terkait pekerjaan.

Ini kali ketiga saya datang ke TNGP. Pertama kali bersama rekan-rekan sekantor untuk mendaki Gunung Gede sekitar empat tahun silam. Yang kedua, tadinya mau naik ke Pangrango namun karena ada sesuatu hal, kami hanya trekking ke Curug Cibeureum sekitar dua tahun yang lalu. Nah kali ini kami membawa keluarga, dan ingin mengenalkan indahnya kawasan TNGP Cibodas, sambil camping dan trekking ke air terjun Cibeureum.

Berkemah di Cibodas Golf Camping Ground sangat direkomendasikan. Mengapa?

Read the rest of this entry

Iklan

Berkemah di Situ Gunung

Halo, outdoor lovers! Kali ini saya akan berbagi pengalaman berkemah di tempat baru buat kami, di Situ Gunung, Cisaat, Sukabumi, Jawa Barat, Indonesia. Seperti biasa saya akan ndongeng, cerita ngalor-ngidul selama kami melakukan perjalanan, so bear with me aja lah ya.

Oh ya, buat kalian yang baru pertama kali mampir dan pengen kepo pengalaman berkemah saya sebelumnya, monggo dibaca di pranala berikut ini:
1. Ranca Upas Ciwidey, Bandung,
2. Sukamantri, Bogor
3. Gunung Lembu, Purwakarta
4. Cipamingkis, Bogor
5. Guci, Tegal
6. Tambang Ayam, Anyer
7. Cidahu, Sukabumi

Berangkat dari Serpong hari Jum’at (12 Mei 2017) sekitar jam 11 siang. Akhirnya berhenti untuk sholat Jum’at dan makan siang dulu di Masjid Al Madinah sebelah Rumah Sehat Dompet Dhuafa di daerah Parung, Bogor. Masjidnya bagus, cukup luas dengan bentuk memanjang, dan toiletnya wangi banget! Ah keputusan tepat untuk singgah dan sholat di masjid ini.

Kami berangkat meninggalkan masjid untuk menuju Sukabumi sekitar pukul 2 siang. Berhenti untuk sholat ashar, sholat maghrib, dan makan nasi goreng kambing dengan total istirahat sekitar dua jam. Kami sampai di lokasi sekitar pukul 8 malam. Itu berarti total di jalan dari Parung ke Sukabumi sekitar 4 jam, sudah termasuk kemacetan di beberapa titik di Sukabumi.

Buat kamu-kamu yang males kena macet atau tidak ada kendaraan pribadi, saya sarankan bisa menggunakan kereta api dari Stasiun Paledang Bogor yang berdekatan dengan Stasiun Bogor. Ada kereta ekonomi AC dan juga eksekutif Pangrango. Turun saja di Stasiun Cisaat, lalu sewa angkot ke lokasi. Memang kalau berkemah rempong ala kami agar ribet juga kalau sewa angkot. Bawaannya banyak. Tenda tidur dua (salah satunya turbo tent yang segede gaban), satu tenda payung untuk masak, flysheet, alas tenda, dua kompor, dua kasur pompa, bantal, selimut, jaket, pakaian ganti, berbagai bahan makanan seperti kentang, mie, sosis, roti, dan alat makan seperti mangkok, piring, gelas, dan sebagainya. Lebih cocok backpackeran kalau mau naik kereta api.

Img4.jpg

Kereta Pangrango

Nah karena sampai di sana sudah malam dan banyak perabotan yang kami bawa, akhirnya kami putuskan malam itu tidak langsung berkemah di area wisata. Untungnya, sekitar 10 meter sebelum pintu masuk ada penginapan, Villa Cemara. Dari salah satu teman pencinta outdoor, kabarnya villa ini pemiliknya cukup ramah (Ibu Tuti), dan memang benar adanya. Buat kalian yang ingin menikmati indahnya Situ Gunung dan Curug Sawer tanpa ingin berkemah, bisa memilih untuk menginap di sini. Saya sarankan untuk booking sebelum datang, karena bisa saja penuh. Untung saja waktu itu kami masih mendapatkan dua kamar kosong di rumah bata. Dua kamar kosong yang tersisa berisi masing-masing tiga dan dua tempat tidur dengan kamar mandi di dalam. Air panas tersedia lho. Biaya menginap di kamar dengan tiga tempat tidur pada malam itu adalah 500 ribu semalam dan yang dua kamar 300 ribu semalam. Karena kami berlima bersama asisten RT, saya mengambil kedua kamar itu, agar kata anak pertama kami, saya dan istri bisa mendapatkan quality time. Hahaha.. dasar bocah kelas 2 SMP sekarang udah ngerti aja.. Sebenarnya bisa sih kami menginap dalam 1 kamar berlima dengan menggelar kasur pompa, namun ya itu.. saya dan istri tidak bisa mendapatkan “quality time”. 

Kebetulan kami juga membawa Wifi Portable dengan Kartu XL dengan kekuatan sinyal yang sangat kuat. Maklum saja di dekat situ ada tower XL. Sinyal Telkomsel kurang begitu kuat di daerah Situ Gunung. Jadi malam itu kami tetap bisa berkomunikasi dengan Whatsapp secara nyaman.

Pagi setelah sarapan kami bersiap-siap dengan memasukkan semua perabotan lenong ke dalam mobil, lalu pergi ke tempat wisata.

WhatsApp Image 2017-05-13 at 8.52.25 AM

Ini tiket masuk di pintu gerbang

WhatsApp Image 2017-05-13 at 8.52.26 AM

Tarif sesuai Peraturan Pemerintah RI

WhatsApp Image 2017-05-13 at 8.52.25 AM (1)

Nah, tarif 29 ribu, namun kami bayar 35 ribu

Meski bandrol tertulis 29 ribu rupiah, namun kami diharuskan membayar 35 ribu rupiah dengan alasan untuk uang kebersihan dan sebagainya. Well, baiklah. Kami berlima hanya empat yang harus bayar, Aila yang masih kelas 1 SD gratis.

Setelah urusan administrasi beres, kami segera bergegas menuju danau. Dari pintu gerbang jaraknya sekitar 700 meter. Bisa naik ojek ke sana, namun kami memutuskan untuk berjalan kaki membakar kalori sambil menikmati sejuknya alam.

Perjalanan menuju danau berbatu-batu seperti terlihat pada gambar di atas. Anak saya yang kelas 1 SD sangat menikmati perjalanan dan tidak memberatkan dia sama sekali.

Begitu sampai di danau, kami semua takjub akan keindahan alam ciptaan Ilahi. Begitu sempurna.

WhatsApp Image 2017-05-23 at 6.38.38 AM

Ada rakit yang bisa digunakan dengan tarif 15 ribu per orang

WhatsApp Image 2017-05-23 at 6.38.36 AM

Mentari baru saja naik dari peraduannya – begitu indah dipandang mata

WhatsApp Image 2017-05-23 at 6.20.13 AM (1)

Pepohonan begitu menghijau tampak asri dipandang mata

Ada toilet dekat danau, jadi jangan kuatir kalau nature calls semua aman 🙂 Warung makanan dan gorengan juga banyak. Termasuk cinderamata juga dijual di situ. Oh  ya dilarang berkemah di sekitar danau. Jangan coba-coba kalau tidak mau diusir hehehe..

Pada awalnya saya berpikir, kenapa sih gak boleh bikin tenda dekat danau? Kan viewnya bagus. Setelah dipikirkan kembali, bayangkan jika ada 100 tenda yang ada di sekitar danau. Maka bila ada yang pagi-pagi sakit perut dan toilet penuh, maka akan banyak ditemui ranjau di rumput dekat danau. Ini sangat mengesalkan bila kamu menginjaknya, kan? Belum lagi kalau malamnya membakar api unggun, maka bekas sisa pembakaran akan mengotori daerah dekat danau. Keputusan yang baik juga sih kalau dipikir-pikir.

Oh ya, gambar di atas ada gambar Pak Miftah, orang tua yang mengenakan ikat kepala. Dia yang mengoperasikan rakit bambu dengan tarif 15 ribu per orang. Kalau mengambil foto di atas rakitnya, kasihlah barang sedikit uang untuk keluarganya.

Nah, pulangnya kami mengambil mobil di Vila Cemara, lalu memarkir mobil di dalam tempat wisata untuk mendirikan tenda. Kalau tidak salah ada sekitar 5 atau 6 camping ground dengan 6 pintu toilet untuk tiap lokasinya. Lahannya bukan luas seperti di Ranca Upas atau di Sukamantri, namun bertingkat-tingkat atau berterasering. Berikut ini adalah penampakan tenda yang kami buat.

Kami membawa dua kasur pompa sehingga punggung tidak sakit. Dingin-dingin empuk hehehe.. Kalau mau pasang listrik, tinggal bayar 100 ribu, dapat lampu penerangan, dan extension. Saya sendiri bawa beberapa kabel extension termasuk lampu USB. Kalau malas masak, bisa order dari warung bawah. Kalau kesulitan membawa perabotan, ada porter kok.

Saya mendapat bantuan dari Mas Yandi yang bisa dihubungi di 0856-60-99-77-17. Silakan hubungi dia kalau mau berkunjung ke Situ Gunung, dia akan bantu semuanya. Saya sangat terbantukan dengan pelayanan dia selama di sana. Mau pisang goreng panas di pagi hari, tinggal SMS, langsung datang. Mau api unggun, tinggal sms, udah tersedia. Asyik deh, berasa di hotel bintang semilyar hehehe..

WhatsApp Image 2017-05-23 at 4.00.27 PM

Yandi —085759976870

Ada makanan apa aja sih di sana? Banyak kok. Jangan kuatir. Seblak, karedok, nasgor, pisgorcokju, dsb.

Malamnya kami makan malam dan membaca buku ditemani api unggun.

WhatsApp Image 2017-05-23 at 4.16.40 PM

Suasana sangat hening, syahdu, dan ada kesempatan untuk menjalin hubungan dengan anggota keluarga. Tidak hanya mal, mal, dan mal.

Pagi harinya, setelah packing, kami mengunjungi wisata air terjun Curug Sawer yang jauhnya sekitar 2 km. Jalannya naik turun, menantang buat mereka yang tidak pernah olah raga. Tapi tenang saja, jika malas jalan dan keringetan, ada jasa ojek sampai ke air terjun seharga 35 ribu per orang. Kalau kami memilih jalan ke sana sambil menikmati udara segar dari pepohonan yang menghijau. Kalau bisa pakai sepatu outdoor agar tidak lecet kena batu.

situgunung-71

Gimana? Udah ngebet belum wisata ke Situ Gunung? Asyik yaaa..

Gini. Kalau alasan gak punya tenda, bisa sewa, bisa pinjam.
Kalau alasan gak punya mobil atau takut macet, bisa naik kereta. Tol langsung ke Sukabumi sedang digarap. Jangan kuatir ya.
Kalau gak suka berkemah tapi ingin ke sana, bisa nginap di villa.
Kalau gak mau nginep, bisa datang pagi sekali, pulang sore. Tapi disarankan menginap, karena danau itu cakep banget pas sunrise.
Tips:

  • Usahakan menginap, minimal semalam
  • Suhu tidak terlalu dingin, tidak membawa jaket hangat tidak apa-apa. Selimut tetap lah
  • Tidak ada nyamuk, namun membawa lotion anti nyamuk bisa berguna untuk mengusir hewan atau serangga kecil lain
  • Warung banyak, mau masak sendiri bisa, mau makan di warung bisa
  • Pakai sepatu hiking lebih asyik daripada pakai sendal jepit ke air terjun
  • Bawa kamera, karena pemandangannya ciamik

Have fun ya!