#Prompt 135: Antara Aku, Kau, dan Dia

Namanya Bagus. Kelahiran Semarang. Aku mengenalnya beberapa bulan yang lalu di sebuah rumah makan. Aku masih bekerja di sana sebagai pramusaji. Ia adalah pelanggan tetapku. Setiap makan siang ia selalu datang sekitar pukul 12:15 siang. Menu kesukaannya adalah soto ayam dan tempe mendoan. Akhirnya aku tertarik padanya.

Kencan pertama kami adalah di Plaza Senayan XXI. Ia mengajakku menonton film romantis. Aku tidak begitu peduli dengan filmnya. Aku hanya teringat betapa lembut kata-katanya. Betapa manis senyumannya. Kokoh genggaman tangannya. Hari terindah hidupku setelah bertahun-tahun tak pernah kurasakan kebaikan seorang lelaki.

Setelah tiga bulan kami berpacaran, Bagus mengajakku ke tepi pantai Ancol. Ia mengajakku menikah di bawah tangan. Lagi-lagi aku hanya tersenyum menuruti sihir sorotan matanya. Ia tidak menjanjikan janji surga seperti kebanyakan lelaki sebelumnya. Hatiku yang kering kerontang sebelum pertemuan kami, kini bagaikan oase yang indah dan bukan sebatas fatamorgana belaka.

Suatu sore, setelah kami bercinta di Hotel Mulia Senayan yang megah itu, ia menawariku pekerjaan. Pekerjaan yang akan membuat kami lebih sering bertemu. Tidak seperti sekarang harus mencuri-curi waktu, karena Bagus sudah berumah tangga. Tapi aku tak peduli. Aku hanya tahu kami saling mencintai satu sama lain. Titik. Dan kini ia menawariku pekerjaan agar aku selalu dekat dengannya. Aku tak peduli dengan besar gaji yang ia tawarkan. Selama kami bisa selalu bertemu, itu sudah lebih dari cukup.

Aku dibawa ke rumahnya di daerah Kemang. Banyak sekali rumah megah kulihat dekat rumahnya. Hatiku berdegup kencang memikirkan pertemuan pertamaku dengan istrinya. Apakah akan terjadi pertumpahan darah? Perang dunia ketiga? Aksi bela rumah tangga? Entahlah. Bagus memintaku untuk tetap tenang dan memintaku berpura-pura bahwa kami tidak saling kenal. Ia juga memintaku berbicara dengan logat Jawa yang kental. Berpura-pura belum lama datang ke Jakarta, tidak ada pengalaman di kota lain, dan seterusnya. Semua permintaannya aku turuti. Demi cinta kami.

“Mah, ini pembantu yang kubicarakan kemarin. Marni adalah tetangga kampung teman sekantorku,” kata Bagus pada istrinya.

“Halo, selamat datang! Saya Fiona,” sambut istrinya dengan senyum hangat. Cantik sekali.

“Saya Marni, dari Pemalang, Bu,” jawabku.

“Saya sudah siapkan kamar di atas untukmu Marni. Anggap saja rumah sendiri ya. Dibetah-betahkan. Kami sungguh berterima kasih atas kesediaan Marni untuk membantu keluarga kami.”

“Baik Bu, terima kasih.”

Aku cukup berhasil menjadi perempuan lugu demi Bagus. Fiona tidak mencurigaiku sama sekali. Kalian tentu bertanya-tanya bagaimana hubungan cinta kami. Bagus mempertahankan hubungan cinta kami hampir tiap malam. Jam setengah dua pagi ia akan naik ke kamarku dan kami melepaskan hasrat kami di sana. Meski hubungan kami hanya sesaat setiap malamnya, itu sudah lebih dari cukup.

Suatu malam Fiona memanggilku dari kamarnya.

“Marni, tolong pijit punggung saya. Sepertinya saya kelelahan.”

“Baik, Bu.”

Kami bercakap-cakap dengan akrab, layaknya dua orang sahabat kental. Dari masalah sinetron, gosip ibu-ibu tetangga, hingga menu masakan sehari-hari.

Tiba-tiba Fiona mencium lembut bibirku. Aku merasa bingung. Ada yang bergetar dalam dadaku. Ada perasaan aneh yang menjalar di seluruh kulitku.

“Teruskan,” tiba-tiba Bagus muncul mengenakan piyama.

love-triangle-494178_1280

Sejak malam itu kami mengeksplorasi cinta bersama. Tidak ada yang tahu. Seluruh dunia hanya tahu, aku adalah Marni, pembantu dari Jawa yang rajin bekerja.


Cerita ini adalah kontribusi untuk Prompt #135, dengan topik Hubungan Sesaat. Jumlah kata tidak lebih dari 500. Gambar dari Pixabay.