Bermain Dixit untuk Melatih Imajinasi dan Kemampuan Verbal

Salah satu board game kesukaan kami sekeluarga adalah Dixit. Dixit merupakan board game yang telah memenangkan banyak penghargaan, salah satunya adalah Board Game of the Year alias Spiel Des Jahres di tahun 2010. Bagaimana sih penampakannya?

Dixit yang saya punyai

Dixit cocok dimainkan oleh 3 – 6 orang. Ada expansinya yang memungkinkan untuk bermain hingga 12 orang. Usia 8 tahun ke atas bisa memainkan permainan ini.

Apa saja sih elemen board game ini?

Ada 84 kartu penuh warna dan imajinasi di dalamnya.

Inilah 84 kartu Dixit yang pertama saya miliki

Kartu-kartunya benar-benar menarik dan seperti memiliki aliran surealisme. Lihatlah contohnya berikut ini:

Lukisan yang indah dan seperti dari dunia antah-berantah

Elemen lainnya adalah papan untuk menunjukkan seberapa jauh nilai tiap pemain, bidak yang mewakili setiap pemain, dan kartu voting.

Papan, kartu gambar, bidak, dan kartu voting

Bagaimana cara bermainnya? Saya jelaskan untuk 3-6 orang pemain, ya.

  1. Setiap pemain mendapat 6 kartu (dalam keadaan tertutup), kecuali untuk 3 orang masing-masing mendapat 7 kartu;
  2. Setiap pemain yang mendapatkan giliran, ia bertindak sebagai dalang alias story teller. Setelah melihat semua kartu di tangannya, ia harus memilih satu kartu untuk ditebak pemain lainnya. Caranya adalah, ia mengarang sebuah kalimat, atau cukup satu kata saja yang menggambarkan kartu yang ia miliki. Kartu itu tidak boleh ketahuan oleh pemain lainnya. Setelah pemain tersebut menyebutkan kata kuncinya, maka pemain lain harus mencari 1 kartu yang mirip dengan deskripsi yang diberikan oleh sang dalang. Setelah semua pemain siap, masing-masing pemain memberikan kartunya dalam keadaan tertutup untuk dikocok sang dalang. Sang dalang kemudian membuka semua kartu, dan setiap pemain selain dalang harus memvoting kartu mana yang dimiliki sang dalang. Untuk 3 orang pemain, masing-masing pemain memberikan dua kartu kandidat, untuk lebih dari 3 pemain, cukup satu kartu saja;
  3. Bagaimana cara penilaiannya?
    1. Bila pemain lain semuanya salah menebak atau semuanya benar menebak, maka sang dalang tidak mendapat nilai apa-apa, sementara pemain lainnya mendapat nilai 2. Tantangannya adalah dalang memberikan petunjuk yang tidak terlalu sulit atau tidak terlalu mudah;
    2. Bila pemain ada yang benar dan ada juga yang salah, maka dalang dan pemain yang menjawab benar mendapat nilai 3. Pemain yang salah menebak mendapatkan 0, dan pemain yang kartunya divoting oleh pemain lain mendapatkan 1 poin per kartu;
    3. Setiap akhir giliran, bidak dijalankan sesuai dengan penilaian di atas. Yang mencapai nilai 30 lebih dahulu atau nilai tertinggi ketika semua kartu habis dialah yang menang

Tantangan permainan ini adalah bagaimana membuat pertanyaan yang tidak terlalu jelas atau terlalu sulit. Dia harus bisa membuat ada pemain yang menebak kartunya dengan benar dan juga ada yang salah tebak, agar dia mendapatkan 3 poin. Mari kita lihat contoh kartu berikut:

Siput dan tangga menjulang tinggi

Sang dalang bisa saja memberikan petunjuk:

  1. Tinggi
  2. Tantangan
  3. Nekad
  4. Menuju cita-cita
  5. Melelahkan
  6. Dan sebagainya

Pemain lainnya mungkin bisa menyumbang kartunya agar pemain lain salah menebak milik sang dalang. Misal untuk Tinggi, contoh kartu yang bisa diberikan adalah:

Tangga yang tinggi

Ketika kartu yang diberikan jauh dari kata kunci kadang hal ini membuat tertawa semua pemain karena “tidak nyambung“. Kegembiraan dan kelucuan yang ditimbulkan membuat board game berjenis kartu dan untuk pesta ini selalu menyenangkan untuk dimainkan.

Saya juga baru menambahkan satu expansion, 84 kartu baru untuk dimainkan dan bisa digabungkan dengan kartu pendahulunya.

Dixit Origins

Permainan ini bisa divariasikan dengan misalnya:

  • Memberi petunjuk dengan lagu
  • Memberi petunjuk dengan judul film
  • Dan sebagainya

Bagaimana? Seru sekali bukan?

Bermain bersama anak-anak

Jika ada pertanyaan silakan tanyakan di komentar, ya!

Jalan-jalan ke Museum Macan

Minggu lalu setelah pemilu, saya dan Aila meluangkan waktu di hari libur dengan mengunjungi Museum Macan. Apa sih Museum Macan itu? Apa ada macannya? Bukan!

Macan ternyata singkatan dari Modern and Contemporary Art in Nusantara. Lokasinya terletak di Gedung AKR Tower Level MM, Jl. Perjuangan No.5, RT.11/RW.10, Kb. Jeruk, Kota Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11530.

peta_macan

Tampak di Google Maps

wisma_akr

Tampak dari luar

Gedung yang dimiliki oleh salah satu orang terkaya di Indonesia ini, Pak Haryanto Adikoesoemo, tidak selalu buka. Jika ada pameran, dan biasanya diselenggarakan setahun tiga kali, maka museum ini bisa menerima pengunjung.

Harga tanda masuk dibandrol 50 ribu untuk orang dewasa, 40 ribu untuk lansia dan pelajar, sementara anak-anak seharga 30 ribu rupiah. Menurut saya, dengan jumlah item yang dipamerkan pada tanggal 21 April 2019 kemarin, harganya masih terasa cukup mahal, karena menurut saya hanya sedikit yang bisa dilihat.

Museum ini buka dari jam 10 pagi hingga jam 7 malam, Senin tutup. Tiket masuk hanya dijual hingga pukul 6 sore. Berikut ini adalah dokumentasi yang saya ambil waktu ke sana bersama Aila.

Gambar di atas diambil di instalasi karya Yayoi Kusama – Infinity Mirrored Room.

Pengunjung diberi waktu 30 detik untuk mengambil gambar dan mengantri seperti gambar di atas. Memang menarik, tetapi tidak cukup waktu untuk menikmati lebih lama lagi.

Beberapa karya yang dipamerkan lainnya adalah sebagai berikut:

Di dalam ruangan yang lantainya ditutupi oleh daun-daunan ini, pengunjung diminta melepaskan alas kaki sehingga kita seolah-olah bermain di kala kecil tanpa mengenakan sandal.

Di sudut ruangan ada gundukan tanah yang diberi beberapa balon untuk berfoto. Di bagian tengah kanan ada meja yang bisa dipakai pengunjung untuk menggambar di atas kertas dengan stempel dan aksesoris lainnya.

Berfoto dan menggambar

Di bagian lain dari museum ini juga ada pameran miniatur bangunan dari kayu yang meski tidak banyak namun lumayan menarik.

Di lantai atas, saat itu sedang dipamerkan beberapa lukisan dengan ciri khas matanya yang hitam.

Lukisan karya Jeihan Sukmantoro ini dibuat ketika ia tinggal di Cicadas, kawasan timur Bandung. Pelukis yang lahir di tahun 1938 ini jebolan ITB. Lukisan-lukisan ini dipamerkan hingga tanggal 26 Mei 2019, jadi kalian masih sempat untuk melihatnya.

Demikianlah kunjungan singkat saya dan Aila yang cukup penasaran dengan Museum Macan ini. Pada dasarnya karya seni ini cukup menarik untuk disimak, namun dengan sedikitnya materi yang dipamerkan, harga tiket masuknya memang terasa agak mahal. Jika dibandrol 50 persennya mungkin akan lebih menarik minat pengunjung awam untuk menikmati karya seni ini.

Oh ya, di bagian depan museum juga ada toko cenderamata yang menawarkan banyak barang menarik.

Selamat berkunjung dan menikmati karya seni, ya!