Camping di Tambang Ayam – Anyer

Minggu lalu saya dan Dony Alpha, teman sekantor, pergi camping di Tambang Ayam, Anyer. Tadinya mau naik Gunung Pangrango, namun karena banyak rekan lain yang berhalangan, jadi kami putuskan untuk mencari alternatif kegiatan outdoor. Kebetulan sejak lama saya ingin mencoba naik kereta ke arah Merak. Seperti apa sih rasanya? Seberapa jauh? Seberapa baik kualitas keretanya? Di samping itu saya juga suka naik sepeda menggunakan sepeda lipat Doppleganger keliling kompleks rumah atau bahkan ke kantor. Jadi diputuskan kegiatan outdoor kami yaitu camping di pantai Anyer, membawa sepeda lipat, dan naik kereta! Unik, bukan? (Itu alasannya kenapa kami tidak menggunakan motor atau mobil dan tidak menginap di villa di sana).

Di Stasiun Rawa Buntu
Selfie di Stasiun Rawa Buntu

Okay, planningnya adalah sebagai berikut:

Kami masing-masing naik sepeda dari rumah ke stasiun terdekat (saya ke Stasiun Rawa Buntu, Dony ke Stasiun Kebayoran Lama). Tempat bertemunya di Stasiun Tanah Abang, karena kereta menuju Merak berangkat dari Tanah Abang, yaitu Kereta Kalimaya. Karena kami tidak tahu bahwa kalau ke Anyer jalur terdekat harus turun di Stasiun Krenceng, kami akhirnya turun di ujung, di Stasiun Merak. Namun kami tidak kecewa tiba di sana melihat indahnya pantai di dekat pelabuhan sana. Kereta berangkat dari Stasiun Tanah Abang pukul 9:30 dan sekitar 11:30 sampai di sana.

Setelah istirahat sambil menjamak sholat Dzuhur dan Ashar, kami melanjutkan perjalanan dengan naik sepeda. Sekitar 4 km dari Merak kami berhenti di warung Muncul Jaya, yang menjual sate dan sop khas Tegal. Sop dan sate ayam yang kami pesan sangat memuaskan dalam hal rasa dan harga. In shaa Allah ingin mencoba kembali ke sini lain kali.

Sup Ayam 13 ribu
Sup Ayam 13 ribu – super nampol

Setelah bersepeda sekitar 18 km, melintasi kawasan industry Krakatau Steel, perjalanan dengan sepeda lumayan berat. Siang hari sangat terik, jalan penuh debu, bersaing dengan bis dan truk besar. Sepeda Dony sempat bermasalah di pedalnya untungnya mendapat bantuan dari para supir di kawasan KS sehingga bias melanjutkan perjalanan. Begitu keluar dari kawasan industri kaki saya mengalami kram. Langsung saya tempel koyo agar hangat. Dalam waktu 5 menit kembali normal. Waktu sudah menunjukkan jam 4 sore. Kami masih cukup jauh menuju Pantai Tambang Ayam, sekitar 20 km lagi. Jika dipaksakan menggowes sepeda, maka ada resiko sampai sana matahari sudah tenggelam, akibatnya akan kesulitan mendirikan tenda. Kebetulan di dekat tempat kami berhenti ada angkot berhenti, dan langsung kami sewa membawa kami dan sepeda ke sana. Setelah tawar menawar dari angka 150 rb, deal di angka 100 rb. Cukup murah karena kalau angkot penuh bisa 10 orang. Ini hanya diisi kami berdua dengan sepeda dan tas carrier.

Sampai di Tambang Ayam, Dony bernegosiasi untuk biaya camping di sana. Harga yang disepakati akhirnya 60 ribu rupiah. Villa 3 kamar di dekat tempat kami mendirikan tenda dibandrol 1.7 juta. Jauh sekali bedanya, ya? Cocok bila membawa banyak keluarga untuk menginap di sana.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Setelah mendirikan tenda yang dipinjami teman kami yang merupakan senior pendaki gunung, Marvin, kami menjamak sholat maghrib dan isya, lalu mandi, dan menyiapkan makan malam. Menu makan malamnya adalah kornet dan rendang yang dibawa dalam bentuk kalengan. Dony memotong bawang sementara saya yang memasaknya. Dua pekerjaan yang bertahun-tahun tidak pernah kami lakukan. Hahaha..

Karena telah menempuh perjalanan sekitar 25 – 30 km di hari itu dengan naik sepeda walhasil makanan ini cepat sekali habis. Nasi? Hehehe tinggal pesan di warung sebelah. Minumnya kelapa muda batok. Maknyus tenan! Tinggal order, sampai ke tenda.

Menjelang malam sekitar pukul 9 turun hujan lebat dengan angina kencang. Alhamdulillah tendanya tidak terbang. Air sedikit masuk di pojok-pojok tenda, tetapi tidak mengganggu kami tidur.

Keesokan paginya, setelah sholat subuh kami menggelar matras di luar tenda untuk menjerang air panas untuk minum teh walini rasa leci. Tidak berapa lama kemudian datang seorang ibu menjual nasi uduk dengan topping telur mata sapi atau bulat balado dan bakwan goreng plus bawang gorengnya. Seporsi nasi uduk dengan telur dan bakwan cuma 8000 perak saja. Rasanya lebih enak ketimbang nasi uduk yang dijual di atas Gunung Gede yang sebenarnya nasi kuning yang agak hambar dengan bakwan saja. Tidak lama kemudian eh datang penjual otak-otak. Kalau di resto satunya 3500 perak di sini lebih besar cuma 1250 perak. Ya udah kami beli juga untuk dinikmati sambil menyeruput hangatnya teh.

Berikut ini adalah pemandangan pagi yang saya ambil dengan iPhone.

View dari pantai
View dari pantai
Indahnya ciptaan Allah
Indahnya ciptaan Allah
Bermain di pantai
Bermain di pantai
Memandang laut
Memandang laut

Pukul 9 kami selesai packing untuk menuju Stasiun Cilegon. Karena tahu bisa naik dari Cilegon kami tidak menuju Merak namun langsung ke Cilegon dengan angkot. Di Cilegon sampai jam 11 siang, itu berarti masih ada waktu sekitar 2.5 jam sebelum kereta berangkat. Akhirnya kami kuliner di Cilegon sambil menunggu kereta datang. Kami mencoba RM Sate Cilegon. Yang kami pesan adalah Empal Genthong, Es Kuwut, Sate Kambing, Sop Buntut, dan tahu tempe. Yang enak adalah Es Kuwut dan Empal Genthongnya. Tahunya juga enak. Yang kami tidak cocok adalah sate kambing dan tempenya. Jadi buat Anda yang mau mampir ke Sate Cilegon dekat Masjid Agung Cilegon (pinggir jalan), bisa pesan Es Kuwut, Empal Genthong, Sop Buntut, dan tahunya.

Sate kambing dan tempe sebaiknya tidak usah dipesan. Silakan coba menu lainnya.

Setelah energi terkumpul kami ngebut ke Stasiun Cilegon untuk menanti kereta Kalimaya tujuan Tanah Abang. Sempat jadi perhatian para penumpang di sana. Mereka mungkin membatin, ini turis dari mana sih pake sepeda segala naik kereta? Hihihi.. Di stasiun kami coba mengambil beberapa gambar.

Kesimpulan dari perjalanan ini:

  • Jika ingin naik sepeda, pastikan menggunakan sepeda lipat, bukan sepeda MTB karena tidak diperbolehkan naik ke kereta. Di angkot juga akan susah jika mau sewa.
  • Pastikan turun di Krenceng atau Cilegon kalau naik kereta menuju ke Anyer. Tidak perlu ke Merak, kecuali ingin melihat pelabuhan yang indah di sana

Bawa:

  • tenda yang anti angin kencang dan anti air. Mahal sedikit tidak apa, apalagi kalau ringan sekali (tenda merk Consina ada yang ultra light, sehingga ringan dibawa). Harganya saja yang lumayan berat. Sewa tenda juga banyak di internet. Murah sekali, namun pastikan tidak bocor.
  • matras atau tikar plastic untuk alas dan duduk di depan tenda
  • obat-obatan sesuai keperluan pribadi
  • Senter dan lampu penting untuk penerangan
  • jas hujan untuk antisipasi hujan di sana
  • peralatan mandi
  • uang secukupnya
  • kamera atau hp untuk mengabadikan perjalanan
  • pastikan sepeda diservis sebelum digunakan seminggu sebelumnya
  • kereta Kalimaya ada power outlet, jadi bisa charging HP atau Power Bank di gerbong!
  • beli tiket seminggu sebelumnya, bisa lewat tiket.com atau ke website KAI, atau ke Indomart terdekat. Kalau di tiket.com bisa menentukan kursi yang akan dipesan.Letakkan sepeda di gerbong aling-aling. Lega!

Selamat berpetualang! Punya pengalaman berpetualang juga? Bagikan di komentar di bawah, ya!

Iklan

Camping @ Guci – Tegal – Jawa Tengah (ii)

Tulisan sebelumnya bisa dibaca di sini.

Nah setelah menyantap lengko di Setiabudi, kami bergerak ke Pantai Alam Indah Tegal yang jaraknya hanya sekitar 7 menit dari lokasi warung. Kangen juga lama tidak ke sana 🙂 Sudah banyak sekali yang berubah sejak aku terakhir ke sana. Sekarang sudah ada water park dan banyak monumen-monumen di sana.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Hari itu siswa SD. Mintaragen 9 rupanya berolahraga di pantai. Ada yang bermain bola, bermain pasir, sarapan, dan seterusnya. Menarik sekali bagi anak-anak, berolahraga di pantai. Udaranya bersih, cuaca cerah, hati senang dan badan sehat. Benar-benar mens sana in corpore sano.

Tampak juga beberapa orang menyambung hidup sebagai penyapu pantai, penjual gorengan, tukang parkir, penunggu wc, dan seterusnya. Pantai selain sebagai sarana hiburan juga menjadi peluang untuk mencari nafkah buat masyarakat di sekitarnya.

Setelah puas foto-foto di pantai, kami menuju rumah orang tuaku di Banjaranyar untuk beristirahat setelah perjalanan malam sebelum menuju Guci.

– Bersambung –