Arsip Blog

FfKamis – Sayang Anak

“Pak, dua minggu lagi harus membayar uang pendaftaran kuliah,” kata Ani lewat telepon.

“Sabar ya, Nduk. Doakan Bapak bisa segera transfer ya!” jawabku seadanya.

Jadi pengemudi ojek daring mendapatkan uang jutaan dalam waktu singkat adalah hal yang mustahil. Tapi aku tak boleh menyerah. Tuhan Maha Kaya. Anakku harus jadi orang besar!

Batas waktu pembayaran datang juga. Tuhan Maha Mendengar doa hamba-Nya.

“Bapaaaak… uangnya sudah kubayarkan! Terima kasih banyak ya Pak. Aku bisa kuliah!”

“Belajar yang baik ya, Nduk!” 

Telepon genggamku berbunyi. Sebuah sms masuk.

Terima kasih atas ginjal barunya ya Pak. Bapak telah menyelamatkan nyawa ayah saya.

Pinggangku terasa nyeri.

——————

Flash fiction ini adalah kontribusi FfKamis dengan topik BARU, mengandung tepat 100 kata. 

Novel Terbaru Andrea Hirata : Ayah (2015)

Setelah sukses besar menerbitkan 8 novel edisi bahasa Indonesia (Laskar Pelangi, Sang pemimpi, Edensor, Maryamah Karpov, Padang Bulan, Cinta di Dalam Gelas, Sebelas Patriot, Laskar Pelangi Song Book), Andrea Hirata kembali menggebrak dengan novel terbarunya yang berjudul Ayah.

Novel ini menceritakan kisah cinta abadi Sabari kepada Marlena dan cinta Sabari kepada anaknya, Zorro. Dituliskan dengan gaya khas Andrea Hirata yang humoris, yang bisa membuat pembacanya terkena penyakit gila nomor 40, yaitu sindrom membaca bacaan kocak di tempat umum, tertawa atau terkekeh sambil memegang novel. Kisah ini berlatar belakang awal tahun 1990-an, salah satu di antaranya sekitar tahun 1993 ketika Lady Diana berkunjung ke Nepal. Kalau Anda pernah mendengar istilah cinta tidak harus memiliki, novel ini adalah salah satu contoh baik yang menggambarkan istilah tersebut. Cinta yang cukup dirasakan asalkan yang dicintai merasa bahagia, atau cukup bisa memandang wajahnya. Cinta yang selalu memberikan pengharapan, meski bagaikan pungguk merindukan bulan. Inilah cinta Sabari kepada Marlena. Suatu cinta yang tak bakal sanggup diriku memikulnya. Suatu perasaan yang demikian besar dan berat, hingga seolah-olah menjunjung bumi di atas kepala dan dada.

Seperti halnya Laskar Pelangi, novel ini juga terinspirasi dari kisah nyata yang diceritakan oleh seorang sahabat Andrea Hirata dan menceritakan kehidupan di Belitong. Ditulis setelah melakukan riset selama enam tahun, buku ini hampir mencapai 400 halaman yang dibagi ke dalam 67 bab. Terkadang babnya cukup pendek sehingga berkesan terlalu sedikit yang diceritakan. Saya merasakan bahwa begitu banyak yang akan dicurahkan dalam novel ini, namun ada beberapa poin penting di mana pembaca merasa suatu cerita bisa lebih menarik ketika dibuat lebih rinci, namun hanya singkat dikisahkannya. Mungkin karena ketagihan dengan cara menulis Andrea, pembaca merasa tidak puas ada bagian yang sangat rinci namun ada bagian lain yang penting dan butuh didetailkan tidak terjadi. Bagian akhir sebenarnya bisa diceritakan lebih rinci setelah pembaca bersabar mengikuti petualangan para tokoh utama dalam mengejar impiannya. Mungkin penyuntingan novel ini bisa dibuat lebih baik. Meskipun demikian, novel ini tetap menghibur pembacanya dengan humor-humor khas Andrea dan beberapa bisa membuat dada pembacanya basah karena terharu.

Kisah cinta dalam novel ini mengingatkan saya kepada film Love in the Time of Cholera yang dibintangi oleh Javier Bardem. Sedangkan kisah cinta ayah kepada anaknya mengingatkan saya pada film Kramer vs Kramer yang dibintangi oleh Dustin Hoffman dan Meryl Streep dan film The Pursuit of Happyness yang dibintangi Will Smith dan anak kandungnya.

Ayah

Ayah

Novel ini saya ganjar dengan nilai 8 / 10. Wajib baca buat penggemar tetralogi Laskar Pelangi.