To Broadcast or Not to Broadcast


“Tolong banget broadcast yah tmn2, ada yang meninggal bawa mobil CR-V silver, plat mobil B 2799 AZ, kali aja sampe ke keluarganya, kasian dia sendirian,kecelakaan terus meninggal dijalan sambil nyetir,di daerah kamp.melayu jakarta timur,,thankz all”

Dalam jagad dunia maya, messenger ala Gtalk/Yahoo!/MSN, milis, BBM, dan sebagainya, kita sering mendapat pesan yang meminta kita membuat pesan berantai dengan meneruskan ke kontak kita. Mentang-mentang mudah, tinggal copy and paste, BOOM!! Pesan tadi meluncur beranak-pinak ke kontak kita. Masing-masing melempar lagi ke semua kontaknya, dan dalam hitungan menit sudah melanglang buana ke berbagai penjuru dunia.

Masalahnya, tidak semua pesan yang dibroadcast itu benar. Bisa jadi mengandung fitnah, kebohongan, atau campuran kebenaran yang dibungkus denga kebohongan. Coba bayangkan, bandwidth, waktu, biaya yang terbuang percuma bila kita berpartisipasi menyebarkan informasi yang menyesatkan. Melihat karakter bangsa kita yang latah, biasanya tanpa cek n ricek, pesan berantai dikirim bulat-bulat. Ini menurut saya kebiasaan buruk yang perlu dihentikan. Cobalah bersikap kritis terhadap pesan yang ada, lalu bila tak yakin kebenarannya, JANGAN DITERUSKAN! Biarkan pesan itu berhenti di tempat kita. Jika ingin berpartisipasi, coba bertabayyun, atau mengambil informasi terlebih dahulu.

Biasanya, yang aku lakukan adalah menganalisis beritanya terlebih dahulu. Ambil contoh kasus di atas.

Ini yang ada dipikiranku:

  1. Tulisan di atas agak lucu sebenarnya. Tata bahasanya kacau. “…ada yang meninggal bawa mobil CR-V silver…”. Sejak kapan ada orang meninggal bisa bawa mobil? Seharusnya : ada yang bawa mobil CR-V silver lalu mendadak meninggal dunia. Eh diulangi lagi : …kecelakaan terus meninggal dijalan sambil nyetir.. (ini yang nyetir antara zombie atau undead). Kata awalan di juga tidak digunakan dengan benar.
  2. Kalau dia tahu informasi mobilnya, berarti dia melihat langsung. Kalau dia tahu orangnya meninggal, mestinya dia cukup dekat dengan kejadian perkara. Seharusnya dia melaporkannya ke rumah sakit atau kantor polisi. Dengan demikian kalau keluarganya mencari ke setiap rumah sakit, bisa cepat mengetahui. Kalau matinya akibat pembunuhan, maka sebaiknya hubungi polisi, karena mobil menjadi TKP alias crime scene. Kalau karena serangan jantung, harusnya bersama saksi mata lainnya bisa mencari informasi di dompetnya, untuk melihat KTP, sehingga kalau membroadcast bisa tahu namanya. Jika dompet hilang, minimal ciri-ciri jenazah disertakan. Usia, warna kulit, jenis kelamin, perkiraan usia, dan sebagainya bisa dicatat untuk modal broadcast. Catat juga kejadiannya kapan, baik tanggal maupun jam. Kalau sudah berhari-hari, bisa saja berita yang dibroadcast sudah basi. Ini bisa terjadi kalau misalnya disebar via email atau YM. Ketika pengguna tujuan tidak login misal empat hari, pesan masih diterima. Tanpa cek n ricek langsung dibroadcast lagi setelah 4 hari.. dan kejadiannnya bisa berbulan-bulan..
  3. Google. Aku google : B 2799 AZ meninggal crv –> Mendapat informasi dari link Kaskus di sini, dan dugaannya namanya Amrizal Nadjamuddin. Semoga informasinya benar. Dengan demikian, Case Closed. Tidak perlu dibroadcast lagi karena sudah ketahuan informasinya di sini.

Nah, untuk kasus ini, saya memilih tidak membroadcast karena kasusnya sudah closed. Keluarganya sudah tahu. Jadi isi pesan tidak lagi valid.

Untuk kasus lain seperti masalah:

  1. donor darah, jika ada nomor telepon, telepon dulu nomornya atau sms. Jika benar butuh, teruskan. Tambahkan kata-kata sudah diverifikasi
  2. doa atau informasi dengan ancaman, isinya doa atau info, tetapi jika tidak mau menyebarkan diancam sial dan sebagainya. Aku langsung hapus.
  3. Cerita yang indah tetapi mengandung hasutan di belakangnya. Hapus.
  4. Informasi bermanfaat tentang kecelakaan atau kerusuhan. Cek di Detik.com atau Google. Jika benar, bisa diteruskan.
  5. Dan seterusnya.

Intinya, setiap mendapat pesan, sebelum dibroadcast, lakukan dulu CEK n RICEK! Agar tidak mubazir bandwidth dan tidak menyesatkan masyarakat! Jika tidak sempat, lebih baik tidak memforward berita yang belum kita ketahui kebenarannya. Coba juga baca mengenai surat berantai di situs ini.

Iklan

Posted on November 29, 2011, in Tips and tagged . Bookmark the permalink. 4 Komentar.

  1. sering dapat berita mirip2 begitu mas…. seringnya saya cuekin 😦

  2. Kebanyakan kita dapet berita gak pake mikir, bro. Pokoknya biar keliatan peduli/alim/uptodate/dst langsung main forward aja. Gak tau kalo yg nerima sebel. Gitu kita sok heran dgn kelakukan anggota DPR? :p

    • Emberrrrrr… kita itu memang haus dianggap peduli, exist, narcisist, alim, dsb. Loh gw gitu loooh…. Maklum, gagap teknologi. Dulunya buta huruf, bisa mencet sms, kini jejaring sosial. Doyan ngrumpi pulak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: