Accidentally in Vacation Part 3 at The Paseban

Hari Jumat kemarin, pas long weekend, kami sekeluarga mendapatkan serendipity. Jadi ceritanya gini. Seminggu sebelumnya, saya lumayan galau, mau ke mana pas liburan panjang itu. Ada beberapa pilihan yang terlintas di pikiran, yaitu:

  • Berkemah bersama K3I bersama teman kantor, Dony Alpha  di BuPer Cijalu, Purwakarta
  • Camping di Ranca Upas, Ciwidey seperti yang sudah pernah kami lakukan sebelumnya
  • Camping di Curug Panjang, daerah Mega Mendung bersama teman kantor, Marvin Sigar
  • Camping di Sawarna
Persiapan Packing
Persiapan Camping

Setelah packing dan melakukan beberapa pertimbangan, saya ingin menghindari tol Cikampek, yang saat ini sering macet karena pembangunan, apalagi pas liburan panjang. Jadi Cijalu dan Ranca Upas saya coret dari pilihan. Sawarna menarik, karena kami belum pernah sejauh itu berpetualang. Namun memikirkan hawa yang panas untuk berkemah (di pinggir pantai) dan jauhnya perjalanan, bisa 5-8 jam perjalanan, dengan kondisi jalan yang mungkin kurang begitu bagus, akhirnya Sawarna saya coret untuk saat ini. Dengan longsornya daerah Puncak dan ditutupnya jalur Gunung Mas sampai Ciloto, saya berpikir seharusnya volume kendaraan akan berkurang karena yang akan ke Puncak dan Cianjur akan mengambil jalur Jonggol. Jadi saya putuskan untuk camping di Curug Panjang.

Lanjutkan membaca Accidentally in Vacation Part 3 at The Paseban

Camping di TNGP Cibodas

Minggu lalu kami sekeluarga pergi berkemah di Cibodas Golf Camping Ground dekat Cimacan. Lokasinya setelah Puncak Pass kalau dari Jakarta. Kalau mau ke sini pakai angkutan umum, naik saja elf atau bis dari Bogor, arah Cianjur. Nanti tinggal turun di pertigaan Cibodas, naik angkot sekitar 2 km ke Taman Nasional Gede Pangrango.

Img7

Ridwan, teman saya sekantor juga membawa keluarganya untuk camping bersama. Winny Marlina, teman blogger lama, ikutan bersama juga. Sayang dua temannya tidak bisa ikutan karena ada aktivitas dadakan terkait pekerjaan.

Ini kali ketiga saya datang ke TNGP. Pertama kali bersama rekan-rekan sekantor untuk mendaki Gunung Gede sekitar empat tahun silam. Yang kedua, tadinya mau naik ke Pangrango namun karena ada sesuatu hal, kami hanya trekking ke Curug Cibeureum sekitar dua tahun yang lalu. Nah kali ini kami membawa keluarga, dan ingin mengenalkan indahnya kawasan TNGP Cibodas, sambil camping dan trekking ke air terjun Cibeureum.

Berkemah di Cibodas Golf Camping Ground sangat direkomendasikan. Mengapa?

Lanjutkan membaca Camping di TNGP Cibodas

Berkemah di Situ Gunung

Halo, outdoor lovers! Kali ini saya akan berbagi pengalaman berkemah di tempat baru buat kami, di Situ Gunung, Cisaat, Sukabumi, Jawa Barat, Indonesia. Seperti biasa saya akan ndongeng, cerita ngalor-ngidul selama kami melakukan perjalanan, so bear with me aja lah ya.

Oh ya, buat kalian yang baru pertama kali mampir dan pengen kepo pengalaman berkemah saya sebelumnya, monggo dibaca di pranala berikut ini:
1. Ranca Upas Ciwidey, Bandung,
2. Sukamantri, Bogor
3. Gunung Lembu, Purwakarta
4. Cipamingkis, Bogor
5. Guci, Tegal
6. Tambang Ayam, Anyer
7. Cidahu, Sukabumi

Berangkat dari Serpong hari Jum’at (12 Mei 2017) sekitar jam 11 siang. Akhirnya berhenti untuk sholat Jum’at dan makan siang dulu di Masjid Al Madinah sebelah Rumah Sehat Dompet Dhuafa di daerah Parung, Bogor. Masjidnya bagus, cukup luas dengan bentuk memanjang, dan toiletnya wangi banget! Ah keputusan tepat untuk singgah dan sholat di masjid ini.

Kami berangkat meninggalkan masjid untuk menuju Sukabumi sekitar pukul 2 siang. Berhenti untuk sholat ashar, sholat maghrib, dan makan nasi goreng kambing dengan total istirahat sekitar dua jam. Kami sampai di lokasi sekitar pukul 8 malam. Itu berarti total di jalan dari Parung ke Sukabumi sekitar 4 jam, sudah termasuk kemacetan di beberapa titik di Sukabumi.

Buat kamu-kamu yang males kena macet atau tidak ada kendaraan pribadi, saya sarankan bisa menggunakan kereta api dari Stasiun Paledang Bogor yang berdekatan dengan Stasiun Bogor. Ada kereta ekonomi AC dan juga eksekutif Pangrango. Turun saja di Stasiun Cisaat, lalu sewa angkot ke lokasi. Memang kalau berkemah rempong ala kami agar ribet juga kalau sewa angkot. Bawaannya banyak. Tenda tidur dua (salah satunya turbo tent yang segede gaban), satu tenda payung untuk masak, flysheet, alas tenda, dua kompor, dua kasur pompa, bantal, selimut, jaket, pakaian ganti, berbagai bahan makanan seperti kentang, mie, sosis, roti, dan alat makan seperti mangkok, piring, gelas, dan sebagainya. Lebih cocok backpackeran kalau mau naik kereta api.

Img4.jpg
Kereta Pangrango

Nah karena sampai di sana sudah malam dan banyak perabotan yang kami bawa, akhirnya kami putuskan malam itu tidak langsung berkemah di area wisata. Untungnya, sekitar 10 meter sebelum pintu masuk ada penginapan, Villa Cemara. Dari salah satu teman pencinta outdoor, kabarnya villa ini pemiliknya cukup ramah (Ibu Tuti), dan memang benar adanya. Buat kalian yang ingin menikmati indahnya Situ Gunung dan Curug Sawer tanpa ingin berkemah, bisa memilih untuk menginap di sini. Saya sarankan untuk booking sebelum datang, karena bisa saja penuh. Untung saja waktu itu kami masih mendapatkan dua kamar kosong di rumah bata. Dua kamar kosong yang tersisa berisi masing-masing tiga dan dua tempat tidur dengan kamar mandi di dalam. Air panas tersedia lho. Biaya menginap di kamar dengan tiga tempat tidur pada malam itu adalah 500 ribu semalam dan yang dua kamar 300 ribu semalam. Karena kami berlima bersama asisten RT, saya mengambil kedua kamar itu, agar kata anak pertama kami, saya dan istri bisa mendapatkan quality time. Hahaha.. dasar bocah kelas 2 SMP sekarang udah ngerti aja.. Sebenarnya bisa sih kami menginap dalam 1 kamar berlima dengan menggelar kasur pompa, namun ya itu.. saya dan istri tidak bisa mendapatkan “quality time”. 

Kebetulan kami juga membawa Wifi Portable dengan Kartu XL dengan kekuatan sinyal yang sangat kuat. Maklum saja di dekat situ ada tower XL. Sinyal Telkomsel kurang begitu kuat di daerah Situ Gunung. Jadi malam itu kami tetap bisa berkomunikasi dengan Whatsapp secara nyaman.

Pagi setelah sarapan kami bersiap-siap dengan memasukkan semua perabotan lenong ke dalam mobil, lalu pergi ke tempat wisata.

WhatsApp Image 2017-05-13 at 8.52.25 AM
Ini tiket masuk di pintu gerbang
WhatsApp Image 2017-05-13 at 8.52.26 AM
Tarif sesuai Peraturan Pemerintah RI
WhatsApp Image 2017-05-13 at 8.52.25 AM (1)
Nah, tarif 29 ribu, namun kami bayar 35 ribu

Meski bandrol tertulis 29 ribu rupiah, namun kami diharuskan membayar 35 ribu rupiah dengan alasan untuk uang kebersihan dan sebagainya. Well, baiklah. Kami berlima hanya empat yang harus bayar, Aila yang masih kelas 1 SD gratis.

Setelah urusan administrasi beres, kami segera bergegas menuju danau. Dari pintu gerbang jaraknya sekitar 700 meter. Bisa naik ojek ke sana, namun kami memutuskan untuk berjalan kaki membakar kalori sambil menikmati sejuknya alam.

Perjalanan menuju danau berbatu-batu seperti terlihat pada gambar di atas. Anak saya yang kelas 1 SD sangat menikmati perjalanan dan tidak memberatkan dia sama sekali.

Begitu sampai di danau, kami semua takjub akan keindahan alam ciptaan Ilahi. Begitu sempurna.

Lanjutkan membaca Berkemah di Situ Gunung

5 Alasan Mengapa Kamu Harus Berkemah di Cipamingkis – Bogor

Pengen liburan berkesan bersama teman atau keluarga yang terjangkau dan menarik? Yuk camping ceria di Cipamingkis Bogor! Rekreasi asyik itu tidak harus ke luar negeri, lho. Di Indonesia, begitu banyak tempat wisata menarik yang mudah dan murah dijangkau.

Berikut ini saya sampaikan lima alasan mengapa kamu yang tinggal di kawasan Jabodetabek harus berkemah di sini.

Alasan #1 – Dekat dari Jakarta

Di mana sih Cipamingkis ini? Tempat wisata ini terletak di Desa Wargajaya, Kecamatan Suka Makmur, Kabupaten Bogor, Propinsi Jawa Barat. Lokasi Lat Longnya adalah 6° 38′ 24.65″ S  107° 0′ 41.40″ E. Untuk navigasi ke sana bisa menggunakan Waze atau Google Maps, dengan destinasi Curug Cipamingkis. Dari Depok lebih kurang 60 km. Tidak jauh, kan?

Img2

Alasan #2 – Murah Meriah

Tarif masuk tanpa menginap cuma 10 ribu rupiah saja. Kalau menginap 31 ribu per orang dewasa. Parkir motor 2000 rupiah, dan mobil 4000 rupiah. Boleh membawa tenda sendiri atau menyewa dari mereka. Tinggal bilang mau kapasitas berapa orang, akan langsung didirikan, diberi matras dan fly sheet. Kapasitas empat orang cukup membayar 150 ribu semalam. Saya sendiri sudah memiliki 4 tenda sehingga ketika berkemah di sini dengan total 15 orang, saya tinggal mendirikan tenda dan fly sheet.

Mobil atau Motor bisa diparkir di samping tenda. Jadi tidak perlu kesulitan membawa barang untuk dibawa keluar masuk mobil. Listrik kalau mau bisa sewa. Saya sendiri membawa kasur pompa dan menggunakan pompa listrik dengan ikut memompa di warung terdekat.

Alasan #3 – Fasilitas Lengkap

Di sekitar tenda banyak warung yang bisa melayani tamu untuk makan dan minum 24 jam! Dari minuman susu jahe, teh, hingga kopi semua siap! Anda membawa sendiri? Bisa minta air panas. Indomie telur siap, dengan berbagai rasa. Nasi putih dan nasi goreng ada. Gorengan tinggal comot.

cipamingkis (6 of 125)
Warung Makan Berjejer
WhatsApp Image 2017-04-04 at 7.03.30 PM
Memompa kasur tiup di warung

Toilet? Ada 12 pintu. Tinggal pilih saja. Kalau sudah membayar untuk menginap tidak lagi perlu bayar 2000 rupiah per ke kamar mandi.

WhatsApp Image 2017-04-04 at 7.03.29 PM (1)
12 pintu toilet jongkok dengan ember dan air yang mengucur 24 jam nonstop

Musholla? Lengkap dengan sajadah, sarung, dan mukena.

Alasan #4 – Banyak Instagrammable Spot

Ada beberapa spot yang bagus untuk dijadikan tempat selfie:

  • Air terjun

waterfall-1

 

  • Patung kuda

WhatsApp Image 2017-04-04 at 7.21.32 PM

  • Geladak kapal di atas sungai

cipamingkis (65 of 125)

  • Rumah Pohon

cipamingkis (115 of 125)

Alasan #5 – Cocok untuk Segala Usia

Banyak tempat wisata yang hanya cocok untuk pendaki gunung. Tempat ini cocok untuk segala usia. Kami menginap di sini total 14 orang, 9 dewasa, 3 anak, dan 2 balita. Berkemah melatih anak untuk mandiri, tidak takut dengan alam luas, terbiasa menghadapi segala cuaca, memecahkan masalah bersama secara gotong-royong, mengikatkan hubungan batin sesama anggota keluarga, mensyukuri karunia Ilahi akan keindahan alam dan berusaha terus menjaganya, dan banyak lagi alasan positif lainnya.

Nah, tunggu apa lagi? Ayoooo jangan mager! Cuma butuh niat aja kok buat ke sana.

Tips ke sana:

  • Jangan lupa bawa perlengkapan camping jika punya, jika tidak bisa sewa
  • Membawa kompor portable dan bahan makanan akan lebih menghemat
  • Membawa kendaraan dengan CC besar akan membantu karena banyak tanjakan terjal (30 derajat)
  • Lampu tenda akan membantu menghemat listrik (bohlam usb, dsb)
  • Payung dan jas hujan sebaiknya dibawa
  • Sendal gunung akan membantu ke air terjun, jangan sandal jepit biasa
  • Karena tidak ada sinyal provider saat tulisan ini ditulis di area camping, pastikan orang rumah atau keluarga tahu agar tidak khawatir. Semoga provider telko segera memberi akses buat warga setempat dan pengunjung yang datang.

Selamat berlibur dan terima kasih sudah mampir di sini. Oh ya kalau ada pertanyaan jangan ragu tanyakan di kolom komentar di bawah, ya!

Sally D’s Mobile Photography Challenge: Nature (a Few Waterfalls Scenes from my Travels)

This Monday’s challenge is Nature. Sally’s posting is about her beach scenes from her travels, mine is about waterfall. I like beach but like waterfall more 🙂 The weather usually cooler. Beach is usually hot and sunny. Jakarta is hot, that’s why I prefer waterfall which usually located in higher land, with cooler weather.

You can feel the real power of water under the waterfall. Gravity and water are great combination to provide power and beauty at the same time. Every waterfall has its own tale and signature. With someone you love, you can create a romantic atmosphere near it.

Reader, do you have a special experience with any waterfall?

Among these shots, which scene you like most?

21782_10205247782766895_2944177327807750298_n
Curug Nangka
996045_10201576745393255_1932734134_n
Curug Bidadari
1386008_10201576745033246_288885536_n
Curug Bidadari
1452325_10201576715512508_485373324_n
Curug Bidadari
1655559_10202184197059167_1333382602_o
Curug Bidadari
10390572_10203646117046253_2258968958404587956_n
Curug Cibeureum
10603435_10203646116766246_2714310379117273632_n
Curug Cibeureum
11187192_10205274835843205_7595258519243745573_o
Curug Nangka
11990640_10206194725359868_6470463542930090688_n
Tiu Kelep
12238496_10206569178880972_7422879790629789666_o
Curug Cidahu
12247828_10206569184401110_2727640235178966576_o
Curug Cidahu
247574_1977889199672_301361_n
Small Waterfall
252806_1977889919690_611600_n
Curug @ Gunung Bunder
253771_1977890319700_7689336_n
Curug Ngumpet
279871_2126360751368_1120183_o
Guci Waterfall

Air Terjun Sendang Gila dan Tiu Kelep dan Pantai Senggigi Lombok

Tulisan ini adalah lanjutan dari bagian terakhir Ekspedisi Rinjani yaitu Kembali ke Sembalun.

Setelah beristirahat cukup di Base Camp Pak Nur Saat, termasuk pesan urut setelah sholat isya supaya pegelnya hilang semua, kami segera packing untuk esok paginya, jalan-jalan ke air terjun Sendang Gila dan Tiu Kelep dan ke pantai Senggigi. Supaya lengkap kami tidak hanya menikmati keindahan gunung Rinjani namun juga melihat keindahan air terjun dan pantainya.

Pagi hari setelah sarapan kami menuju lokasi air terjun yang dicapai hanya sekitar 30 menit dari base camp Pak Nur Saat dengan jalan kaki. Ada dua air terjun besar di sana, Sendang Gila dan Tiu Kelep. Kalau hanya untuk melihat air terjun besar Sendang Gila lebih dekat. Tiu Kelep butuh perjalanan sedikit menyeberangi sungai dan lebih ke atas. Tiu Kelep ada bagian yang cukup dalam, dan disarankan tidak berenang tanpa ditemani guide atau porter.

Air terjunnya bersih, dan satu hal yang patut diacungi jempol adalah adanya tempat sampah dekat air terjun sehingga kita bisa membuang sampah ke dalamnya tanpa harus pusing membuang ke mana. Ini patut ditiru oleh penyedia wisata di seluruh Indonesia. Jika memang tidak ingin ada yang buang sampah sembarangan, sediakanlah tempat sampah, karena tidak semua orang mau membawa sampah di dalam tasnya.

Air sungainya begitu bersih dan airnya dimanfaatkan untuk minum warga setempat. Kami sempat mengambil foto dan memasak minuman hangat setelah berendam air dingin di sana. Lelah empat hari di gunung dihapuskan oleh mandi bersama dalam semangat kekeluargaan di sini. Sangat menyenangkan sekali.

Jika Anda pergi ke Lombok dan menyukai air terjun, jangan lewatkan untuk mengunjungi kedua air terjun ini. Begitu indah dan menyenangkan. Terutama ketika menuju Tiu Kelep yang mengharuskan kita menyeberangi sungai berbatu. Tingkat kesulitannya masih bisa diatasi oleh anak-anak TK atau SD.

Setelah puas bermain air di sini kami kembali ke base camp untuk pergi ke Senggigi. Kami telah memesan hotel dua malam di sana sebelum kembali ke Jakarta. Berenang dan kuliner adalah dua hal yang kami lakukan untuk beristirahat menghilangkan lelah mendaki Rinjani.

Karena di Lombok, saya mencari ayam taliwang yang paling enak di Mataram. Setelah bertanya pada penduduk lokal, taliwang yang juicy ada di Taliwang Irama, sedangkan yang lebih kering ada di Kania. Karena kami lebih suka yang lebih juicy, akhirnya dengan bantuan Waze kami berhasil mencari rumah makan lesehan tersebut. Beberuk dan Plecing Kangkungnya segar dan nikmat. Alhamdulillah nikmatnya.

Untuk oleh-oleh setelah melihat perbandingan harga di beberapa toko, kami menuju Phonix seperti usulan teman saya yang asli Lombok. Harganya memang beda dibandingkan toko lainnya, terutama yang di Senggigi karena toko-toko itu kebanyakan memberi komisi kepada supir yang membawa turis ke sana. Saya membeli dodol rumput laut, terasi lombok, kacang mede yang enak sekali, baju batik tenun motif rangrang untuk saya, istri, dan mom tercinta. Beberapa kaos Lombok juga saya beli di sana. Hehehe mumpung ke Lombok 🙂

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Berenang di hotel

Pemandangan di pantai

Selesailah sudah ekspedisi Rinjani yang diakhiri dengan jalan-jalan nikmat di Lombok. Insya Allah jika ada rezeki dan kesempatan ingin berlibur bersama keluarga di sini.

Selesai

Accidentally in Vacation @ Michael Resort Gunung Bunder

Sabtu pagi kemarin, hari ke-3 dari 4 hari libur panjang, kami sekeluarga belum ada rencana jalan ke manapun. Ada keinginan juga untuk hunting photo, melihat sesuatu yang baru. Kubuka iPadku dan kuhubungkan dengan WiFi di rumah untuk mencari alternatif tempat wisata sekaligus hunting photo yang menarik. Akhirnya dapatlah informasi mengenai air terjun di daerah Bogor. Beberapa situs merekomendasikan Curug Cigamea, terutama situs ini yang membuatku tertarik. Oh ya, sehari sebelumnya sebenarnya sempat booking kamar di Novotel Bandung, karena ingin ke Tangkuban Perahu. Tetapi membayangkan Bandung yang (terbayang) macet dan jauh, akhirnya aku batalkan.

Dua orang asisten yang bekerja di rumah, Mbak Saroh dan Mbak Ijah, aku ajak serta. Aku memperkirakan perjalanan sekitar 4 jam. Jika berangkat jam 10 pagi, maka estimasi jam 2 siang sampai, di lokasi 2 jam, kembali sekitar pukul 20:00. Not bad. That’s the plan. Tidak ada rencana menginap sama sekali. Aku dan Rayyan hanya membawa baju ganti untuk selesai berenang atau berendam di sana. Aila juga hanya membawa beberapa baju ganti dan pampers yang tidak banyak.

Perjalanan aku putuskan melewati Parung. Dari rumah menuju perempatan Victor lalu perempatan pertama belok kiri. Aku lupa padahal bisa melalui Serpong City Paradise, menghemat sedikit kemacetan di perempatannya. Dari hasil pencarian di Internet, intinya adalah aku harus mencari Dramaga (kampus IPB), lalu menuju arah Liuwiliang, Cibatok, belok kiri. Ternyata dari hasil pencarian di Google Maps ada rute yang lebih pendek. Karena belum familiar akhirnya aku memutuskan melewati jalur yang sudah familiar. Klik di masing-masing peta di bawah ini untuk melihat perbedaannya.

Mungkin perjalanan berikutnya bisa mencoba rute via Ciseeng, Rumpin, Putatnutug, Ciampea, Cibadak, Cibatok, Pamijahan yang hanya memakan jarak 50 km. Jadi tidak melewati Parung dan Dramaga yang membutuhkan jarak sekitar 75 km. Jadi bisa menghemat 30% total perjalanan, lebih hemat waktu dan bensin 🙂

Kami berhenti di Rumah Makan Padang di seberang Resto Tahu YunYi di Jalan Raya Parung – Bogor untuk makan siang dan sholat. Jalanan cukup macet arah Warung Jambu dan sempat bertanya sana-sini menuju kampus IPB di Dramaga. Akhirnya sampailah kami di lokasi jam 5 sore. Begitu memasuki gerbang Gunung Bunder, turun hujan lebat. Kami sempat waswas dan agak merinding ketika memasuki hutan yang begitu gelap. Memang aku pernah camping sekitar tahun 1994 sewaktu Malam Kekerabatan di Fasilkom UI dulu. Namun tidak menyangka untuk menuju Curug Cigamea ini harus melewati hutan pinus yang teramat gelap di sore hari dan hujan deras itu. Jalan untuk kendaraan jika dilewati dua mobil yang berpapasan harus sangat hati-hati karena diapit jurang dan tebing.

Waktu sudah sore, keadaan hujan deras. Memaksakan untuk turun ke air terjun dan mengambil foto sia-sia saja karena bisa merusak kamera dan anak-anak sudah tidak mungkin berenang sambil hujan-hujanan dan menjelang maghrib. Untuk turun kembali pulang sangat beresiko karena hari sudah sangat gelap dan aku belum hapal jalanan turun kembali di malam hari. Dalam kondisi seperti ini, sebagai kepala keluarga harus bisa memutuskan yang terbaik untuk semua. Setelah berembug dengan istri, kami memutuskan untuk menginap di villa yang ada di sana. Karena tidak berencana menginap, uang tunai yang aku ambil tidak akan cukup untuk sewa 2 kamar (aku dan istri + dua anak + dua asisten). Mau tidak mau harus mencari penginapan yang menerima pembayaran dengan kartu kredit. Saat itulah aku putuskan menginap di The Michael Resort yang paling menjanjikan dapat menerima kartu kredit. Setelah berbicara dengan penjaganya dan memastikan mereka bisa menerima Visa/Mastercard, aku segera check in 30 menit menjelang maghrib. Aku tidak dapat membayangkan jika harus pulang malam itu juga dalam kondisi hujan deras dan melewati hutan pinus yang gelap.

Makan malam kami pesan untuk disantap di villa yang modelnya disewakan per rumah, dengan rata-rata berisi 2 hingga 3 kamar. Tarif sewa per rumah berkisar antara 1.8 juta – 2.1 juta, tergantung viewnya. Resort ini memiliki luas 2.7 hektar dengan banyak fasilitas seperti sungai pribadi dan akses untuk melihat dari dekat Curug Genthong. Tanah seluas ini ditanami banyak tumbuhan langka yang ada di Indonesia dan indah untuk dilihat. Kontur tanahnya yang dibuat berundak-undak ini membuat penghuninya keringatan naik turun. Tempatnya sangat menyenangkan dan cocok untuk berlibur atau berbulan madu.

Berikut adalah gambar-gambar hasil jepretan di sana dalam bentuk slideshow:

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Tips untuk mengunjungi tempat ini:

  1. Buat DIRECTIONS dari rumah Anda ke Pamijahan via Google Maps. Anda bisa click and drag beberapa jalan yang Anda lebih sukai atau familiar, bandingkan dengan shortest pathnya
  2. Perkirakan jarak tempuh, pertimbangkan untuk menginap. Jika anggaran di bawah The Michael Resort, pastikan membawa uang tunai cukup untuk makanan dan menginap (antara 400 – 500 ribu per malam)
  3. Membawa peralatan pemanas air atau kompor portable + indomie + kopi akan menghemat (tenang saja, di sana ada Indomart dan toko kelontong yang menjual pampers dan makanan kecil)
  4. Bawa payung atau jas hujan, karena sering hujan
  5. Kunjungi lebih dahulu Curug yang mudah didatangi seperti Curug Ngumpet. Cigamea relatif lebih ramai namun lebih jauh dari pintu gerbangnya
  6. Ada sekitar 5 curug di sana, termasuk 1 kawasan kawah vulkanik dan 1 pemandian air panas. Sekali sampai bisa mengunjungi beberapa tempat sekaligus
  7. Parkir mobil 5000 perak, biaya masuk 2000 – 3000 perak per orang
  8. Bawa tripod jika diperlukan (foto sendiri dengan timer atau untuk shutter lambat)
  9. Disarankan jika perjalanan Anda jauh, menginap di sana agar lebih puas

Oh ya, pengen tahu pengalaman saya Accidentally in Vacation yang lain? Klik di sini.