Tips Jalan-jalan ke Bangkok

Pertama-tama, jika belum pernah membaca, coba baca tulisan saya tentang tips jalan-jalan ke luar negeri di sini.

1. Menurut saya paling cocok Bangkok dijadikan tempat buat belanja murah, karena lebih murah daripada Jakarta. Mal yang bisa jadi one stop shopping adalah MBK (Mah Boon Krong) Center yang berlokasi di 444 Phayathai Rd.,Pathumwan, Pathum Wan, Bangkok 10330. Bukanya jam 10 pagi. Kalau bisa datang pagi-pagi biar dapat diskon buat penglaris 🙂 Alternatif lainya adalah Pathumwan dan Chatuchak. Di MBK ada resto halalnya juga loh, namanya Yana.

2. Jangan berharap dapat pantai di Bangkok. Kalau suka ke pantai ya mending ke Pattaya atau ke Phuket. Bangkok wisatanya paling banyak ya kuil / candi Buddha.

3. Kalau mau belanja, mungkin akan lebih baik kalau mencari hotel dekat MBK. Bisa dilihat di sini.

4. Selalu bawa kompas, dan akses internet agar tahu jurusan tiga angka kiblat kalau mau sholat

5. Makanan banyak sekali babinya. Pastikan memilih sea food (ikan-ikanan) kalau tidak ada sertifikat halal.

6. Tinggal dekat KBRI juga enak kalau mau sholat Jumat dan makan halal murah

7. Naik MRT untuk jarak jauh, gunakan tuk tuk untuk jarak dekat, dan taksi bermeter untuk jarak lainnya

Liputan dan gambar-gambar selama aku di Bangkok bisa dilihat di sini.

Perjalanan ke Bangkok – Hari #3 (lanjutan)

Lanjutan postingan yang sebelumnya.

Setelah turun di stasiun BTS (Bangkok Mass Transit System) Thaksin, kami turun dan menuju ke salah satu halte sungai di tepi sungai Chao Phraya. Sungai ini membelah Bangkok dan bermuara di Teluk Thailand. Besarnya sungai ini menjadikannya mudah menjadi salah satu sarana transportasi air dan sangat mendukung pariwisata. Selain para pekerja dan pedagang memanfaatkannya, para turis juga bisa mengambil gambar dan turun di salah satu haltenya yang dekat dengan tempat parawisata tertentu.

Menepi

Kondektur yang menagih tarif biasanya wanita, besarnya 20 bath sekali naik. Aku tidak tahu apakah itu rata-rata untuk semua tujuan atau memang jarak tertentu ada tarifnya sendiri. Kami turun di halte dekat Wat Pho, Candi Buddha Distrik Phra Nakhon. Di dalam tempat suci agama Buddha ini terdapat patung Buddha yang sedang dalam posisi yoga santai sambil berbaring. Patung Buddha ini konon merupakan yang terbesar di dunia, diikuti patung Buddha di Penang – Malaysia, Nepal, dan di Mojokerto. Ukuran patungnya sendiri adalah tingginya 15 meter dan panjangnya 43 meter.

Sleeping Buddha

Setelah puas berkeliling dan mengambil foto di area ini, kami melanjutkan perjalanan ke arah Chinatown atau pecinan. Di sana kami membeli duren bangkok dan makan sea food agar tidak pusing memikirkan halal tidaknya. Jalanan di pecinan sangat khas penuh dengan lampu dan tulisan mandarin yang mudah dikenali di pinggir jalannya. Banyak penjual makanan di sepanjang jalan, dari penjual chestnut, duren, hingga sate kebab dengan daging sapi maupun babi.

Malam-malam di Pecinan

 

Berikut adalah gambar-gambar dari Chao Phraya hingga pulang menggunakan tuk-tuk.

Di dalam tuk tuk

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Perjalanan ke Bangkok – Hari #3

Pada hari ketiga, Jumat siang setelah mengunjungi beberapa stand pameran, aku bersama Pak Hans dan Pak Triarso sholat Jumat di KBRI yang lokasinya tidak jauh dari Central World di mana Hotel Grand Centara berada. Kami berjalan kaki di terik matahari sekitar 37 – 40 derajat celcius dan selalu mencoba masuk ke mal untuk ngadem walau cuma sebentar untuk keluar lagi di ujungnya.

Ketika masuk KBRI, kami diminta menyerahkan KTP. Hehehe.. terpakai juga itu KTP di luar negeri 🙂 Kami masuk tanpa merasa dipersulit. Security di bagian luar rupanya menggunakan orang Thailand sementara di bagian dalam meski jaraknya cuma 1 meter, baru dipegang orang Indonesia. KBRI di bagian luarnya ditutupi tembok panjang yang dihiasi informasi tentang Indonesia, dari foto Papua orang berkoteka, hiasan relief dinding yang bisa ditemukan di Borobudur, dan beberapa foto khas Indonesia lainnya. Di bagian dalam bisa dijumpai sekolah dari TK – SD – SMP – SMA, lapangan bola, masjid, kantin, aula, dan tempat olah raga lainnya.

KBRI – Bagian dalam depan

Ketika kami sampai, cuma ada 1 orang, dan ternyata dia khatib dan sekaligus imam sholat Jumat. Kami bertiga beristirahat sambil ngadem di tengah udara panas itu.

Menunggu Jumatan di Mesjid KBRI

Ingat, Bangkok meski tidak memiliki perbedaan waktu dengan Jakarta, waktu sholatnya lebih lambat karena Jakarta lebih ke timur dibandingkan Bangkok. Sempat ragu apakah banyak yang akan sholat Jumat, ternyata Jumat itu cukup banyak juga yang ikutan. Rupanya sedang ada kunjungan guru-guru SMK dari Indonesia yang akan bertukar guru dan program dengan sekolah serupa di Bangkok. Senang juga bertemu dengan sesama bangsa di luar negeri. Tidak perlu capai menggunakan bahasa asing atau bahasa tarzan 🙂

Setelah selesai sholat Jumat, kami mencoba makan di kantin KBRI. Ada dua kantin, satu dekat pintu masuk, dan satunya ada di dalam. Yang dekat pintu masuk masakannya ala Thailand, sementara kantin di bagian dalam menyajikan masakan Indonesia. Saat itu menunya telur dadar, sayur asam dengan daging, dan kembung pesmol. Karena lapar menu sebanyak itu cepat singgah di perut kami. Oh ya rempeyek kacangnya enak juga 😀

Makan siang di KBRI Bangkok

Setelah makan siang kami dipanggil boss-boss untuk bertemu di Central World. Rupanya mereka sedang makan siang di sana dan mengajak kami turut serta. Secara sudah makan siang, jadi kami hanya pesan kudapan ringan saja. Aku memilih mangga ketan santan yang terkenal itu. Dan memang mangganya sangat lembut, lumer di mulut. Di makan sambil menyendok ketan bersantan, rasanya luarrrrr biasaaaa..

Mangga Ketan yang super duper enak

Minumnya es kelapa muda. Sueger di kala panas terik matahari siang itu.

Setelah menyantap mangga edan itu, kami beranjak pergi dengan keinginan melihat sungai Chao Phraya yang terbesar di Thailand.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

-Bersambung-

Perjalanan ke Bangkok – Hari #2

Hari kedua di Bangkok dimulai dari pembukaan acara Asian Banker dan diikuti seminar di beberapa ruangan yang dilakukan secara simultan. Sorenya baru dimulailah acara makan malam dan penyerahan award yang ditunggu-tunggu. Setelah sebelumnya Panin mendapatkan Best Improved Retail Bank, malam itu untuk penghargaan award yang pertama Panin dan Fiserv mendapatkan award Best Core Banking Implementation for Small Banks. Sesuatu banged, karena dulu banyak yang menyangsikan apakah project ini bisa sukses. Tapi aku selalu mengucapkan Hasbunallah wa ni’mal wakiil ni’mal maula wa ni’mannashiir.. (Cukup Allahlah sebagai pelindungku, dan Allah sebaik-baik pelindung).

Kalau dibandingkan semua project yang pernah aku kerjakan, project ini paling menantang. Ada penggantian mesin AS 400, upgrade dan penggantian ribuan PC dan server di cabang, training ke ribuan pengguna, retrofit ribuan program, SIT dan UAT berkali-kali, latihan live, hingga roll out aplikasi front end ke 400 cabang. Jika gagal, karena butuh 5 hari konversi, bisa tertunda tahun depannya, karena 5 hari libur hanya ada pada libur lebaran. Walhasil setelah sholat ied 2010, sorenya nginep di kantor, dan 3 hari tidak pulang. Dengan award ini, seluruh lelah itu terbayar sudah. Alhamdulillah. Berkat kerja sama tim yang solid dan kerja keras yang bersandarkan pada doa pada Yang Maha Esa, akhirnya cita-cita itu tercapai dengan manis.

Berikut adalah foto-foto pada malam penghargaan Asian Banker Awards.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Perjalanan ke Bangkok – Hari #1

Berkaitan dengan penghargaan dari Asian Banker terkait dengan pekerjaanku, aku dan beberapa kolega lainnya dikirim ke Bangkok untuk menghadiri seremonial penyerahan penghargaannya dan juga mengikuti seminar terkait perbankan di Hotel Grand Centara. Setelah sholat subuh tadi pagi, taksi Blue Bird yang sudah kupesan sorenya, langsung membawaku ke Bandara Internasional Soekarno Hatta via belakang. Alhamdulillah jalanan masih lancar. Seperti biasa, aku ngobrol dengan supirnya yang menceritakan lika-liku hidupnya. Menurutku cukup menarik sehingga aku mungkin akan menuliskannya dalam bentuk cerpen di postingan terpisah.

Sampai di bandara, langsung mengambil jatah Starbuck 1 Rupiah, komplementer dari salah satu kartu kreditku. Karena masih lama setelah check ini bagasi di counter Garuda dan melewati imigrasi, aku dan teman-teman kantor ngadem sambil sarapan di lounge, gratis lagi dengan kartu kredit Panin Platinumku.

Perjalanan yang cukup panjang sekitar 2 jam 55 menit (hampir 3 jam) aku habiskan dengan berdoa (nomor satu ini mah), mendengarkan lagu Jason Mraz, menonton kembali I am Legendnya Mas Will Smith, dan membaca sekilas tentang Thailand. Sebelum keberangkatan juga memang aku pelajari dulu sekilas kebudayaan dan adat istiadat di sana. Dari yang aku baca, karena negaranya monarki (kekerajaan), maka simbol raja sangat dikultuskan. Bahasanya sangat kompleks. Mereka membedakan gender, terutama dari penuturnya. Jadi kalau pembicaranya lelaki, maka kalimat yang diucapkan berbeda jika yang mengucapkannya wanita. Bahasa Thailand juga bersifat tonal, artinya intonasi yang berbeda pada suatu kata yang sama akan menghasilkan arti yang berbeda pula. Coba tengok situs ini untuk mencoba melihat betapa sulitnya mempelajari bahasa Thailand.

Itu dari segi bahasa. Dari segi sopan santun, jangan sekali-kali duduk dengan kaki menunjuk ke orang lain karena akan dianggap sangat menghina. Jadi pastikan kalau duduk mengangkat kaki atau lesehan di lantai, kakinya jangan menunjuk ke seseorang karena dianggap tidak sopan. Bahkan patung MacD di sini tidak duduk mengangkat kaki seperti di tempat lain di dunia ini namun berdiri sambil menyatukan kedua tangan di dada.

Rata-rata biaya hidup di Bangkok lebih rendah daripada di Jakarta. 1 Bath hampir ekuivalen dengan 300 rupiah. Kalau mau dibandingkan Jakarta lebih mahal. Bisa dilihat dari menu di KFC, pulsa isi ulang (45-60 ribu bebas BB service seminggu), dan taksi. Singapur masih berasa mahal dibandingkan Jakarta dan Bangkok.

Lalu lintasnya mirip Jakarta. Seat belt belum jadi kesadaran. Macetnya sih parahan Jakarta secara infrastruktur dan transportasi Jakarta masih ketinggalan dibandingkan Bangkok. Semoga juragan DKI berikutnya bisa nyusul kemajuan negara tetangga.

Berikut foto-foto yang diambil dengan 15-8+ 550D dan Torch 2 cam dig.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.