Just Like Heaven


Film yang dibintangi oleh Reese Witherspoon dan Mark Ruffalo ini sekilas mengingatkan pada film Ghost yang menjadi box office sekitar 14 tahun yang lalu. Bedanya, dulu tokoh arwah dimainkan oleh aktor (Patrick Swayze) dan pada film ini dimainkan oleh aktris (Witherspoon). Film ini menceritakan tentang penampakan arwah dari seorang wanita (Witherspoon) pada apartemennya sendiri yang dihuni oleh seorang lelaki (Ruffalo). Sang arwah meminta bantuan pada penghuni apartemennya untuk mencari latar belakang dirinya, apakah ia sudah mati atau masih hidup, dan bagaimana ia bisa menyelesaikan urusannya di dunia. Kelucuan-kelucuan yang dibangun sedikit banyak meniru pada komunikasi antara Patrick Swayze dan Whoopie Goldberg, sehingga agak kehilangan greget.

Akhir cerita cukup mudah untuk diterka, meski dibuat berbeda dengan ending film Ghost. Overall, film ini tipikal komedi romantis, cukup renyah ditonton, meski mudah untuk dilupakan.

div.itemactions a, div.ritemactions div.addthis_toolbox a { text-decoration: none !important; border: 0 !important; -moz-box-shadow: none !important; -webkit-box-shadow: none !important; box-shadow: none !important;; padding: 0px !important; background: none !important; }

ReviewReviewReviewReview Brokeback Mountain Apr 30, ’06 11:46 PM
for everyone
Category: Movies
Genre: Drama

Film ini berkisah
tentang dua orang koboi yang bertemu pertama kali di Signal, Wyoming, Amerika. Mereka bertugas untuk menggembala domba dan mengawasinya agar tidak dimakan binatang buas. Adalah Ennis Del Maar (Ledger) dan Jack Twist (Gylenhaal), dua koboi yang akhirnya saling jatuh cinta di Brokeback Mountain.

Ang Lee, sang sutradara yang menggondol Oscar 2006 karena
film ini, mengarahkan dengan sangat baik emosi kedua aktor. Belum lagi
sinematografi yang patut diacungi jempol. Panorama yang sangat indah
melatarbelakangi kawanan domba yang merumput di tengah gemericik air. Tenda yang ditiup angin, salju yang turun, kaleng kacang merah yang dipanaskan di atas api unggun tampak begitu alami menggambarkan kerasnya kehidupan koboi. Musik (original score) yang digubah oleh Gustava Santaolalla menggambarkan dengan baik musik jenis country yang menyentuh tiap adegan dalam film ini. Gustava mendapat ganjaran Oscar karenanya.

Brokeback Mountain yang diangkat dari cerita pendek Annie
Proulx (yang meraih pulitzer) dan diadaptasi dengan baik oleh Larry McMurtry dan Diana Osana (mereka juga mendapatkan Oscar) ini tidak semata-mata berpihak pada kaum homoseksual, namun tampak bersikap netral, mencoba menyodorkan fakta yang ada, bagaimana mereka terpaksa hidup dalam kemunafikan di tengah keluarga masing-masing karena mereka sendiri tidak ingin orang lain mengetahui preferensi kehidupan seksual mereka. Ennis memiliki dua orang putri dan Jack memiliki seorang putra. Setiap tahun mereka meluangkan waktu untuk bertemu di Brokeback Mountain untuk melepaskan hasrat mereka, dengan dalih memancing bersama.

Akting Ledger dan Gylenhall begitu mempesona, dan nyaris
menggondol oscar. Sayang, direbut oleh Phillip Seymour Hoffman dalam film
Capote. Film ini juga sangat diunggulkan meraih oscar, namun secara tak terduga dikalahkan oleh Crash. Film ini meraih beberapa penghargaan, di antaranya memenangkan film terbaik pada Festival Film Internasional di Venesia.

Saya sebagai penikmat film, sangat menikmati film yang menyentuh ini (meskipun saya tidak bisa menerima kaum homoseksual pada umumnya).
Dalam pikiran saya, kalau seorang lelaki tidak bisa mencintai atau menikahi
wanita, ya tidak usah menikah saja – jangan menjalin hubungan sesama jenis.
Sudah jelas banyak kerusakan di muka bumi yang terjadi akibat hubungan semacam ini. Dari segi “hardware” anatomi manusia saja sudah tidak “compatible”. Buat mereka yang melakukannya, mereka tidak menyadari kalau mereka telah melampaui batas. Dengan dalih kebebasan cinta dan liberalisme, mereka dengan bangga melawan kodrat Tuhan. Tanpa bermaksud sok moralis di sini, saya hanya bisa mengatakan bahwa film ini layak ditonton, sebagai bahan perenungan kita akan realita dalam kehidupan ini, dengan membuang yang buruk dan mengambil yang baik, demi kekayaan batin kita.

Gambar diambil dari
http://www.twitchfilm.net/pics/brokeback_mountain.jpg

div.itemactions a, div.ritemactions div.addthis_toolbox a { text-decoration: none !important; border: 0 !important; -moz-box-shadow: none !important; -webkit-box-shadow: none !important; box-shadow: none !important;; padding: 0px !important; background: none !important; }

ReviewReviewReviewReviewReview The History of The Qur’anic Text Apr 30, ’06 11:01 PM
for everyone

Category: Books
Genre: Religion & Spirituality
Author: Prof. Dr. MM. Al A’Zami

Buku The History of The Qur’anic Text ini berisi tentang sejarah teks Al-Qur’an dari wahyu hingga kompilasinya. Ditulis oleh Prof. Dr. MM. Al A’Zami didukung dengan penelitian yang akurat dengan
menggunakan prinsip metode ilmiah. Buku ini mampu menjawab tuduhan kosong yang dilemparkan para orientalis tentang keraguan teks al Qur’an pada masa kini. Asbabun nuzul atau asal usul turunnya wahyu, peranan Nabi Muhammad SAW dalam sosialisasi ajarannya, koleksi ayat-ayat serta latar belakang naskah akhir seluruhnya dikupas dengan jeli oleh penulisnya.

Kajian perbandingan dengan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru juga dibahas
dengan lengkap dan dapat membuktikan bahwa AL Quran terjaga kemurniannya hingga detik ini.

Dalam buku ini akan dijelaskan bahwa:

1. Pengumpulan teks AL Quran telah dilakukan sejak Nabi Muhammad SAW masih hidup

2. Naskah QUran hanya akan dipercaya jika disertai saksi-saksi hidup tepercaya
bagaimana ia mendapatkan naskah-naskah tersebut

3. Al Quran adalah satu-satunya kitab suci yang dihapalkan oleh umatnya dan
dibacakan berulang-ulang dalam sholatnya (ini menjelaskan dengan baik makna
sholat adalah tiang agama, salah satunya karena dalam sholat Al Quran yang mulia
dibacakan)

4. Banyak orientalis yang berusaha dengan sengaja merusak Al Quran, dan
ditelanjangi habis-habisan kebodohannya secara ilmiah dan bukti-bukti otentik

5. Teks Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yang telah diubah dari versi
aslinya, sehingga perbandingannya dengan Al Quran laksana malam yang gelap
gulita dengan siang hari yang terang benderang

Buku ini mungkin terasa agak berat karena penuh dengan kajian ilmiah dan referensi pada catatan kaki untuk menunjukkan bahwa buku ini benar-benar hasil penelitian dan kerja keras untuk membuktikan kemurnian Al Quran dari sudut pandang ilmu pengetahuan dan bukan dari sudut keyakinan semata-mata.

Saya membeli buku ini setelah membaca resensi yang ditulis saudara seiman saya, Indrayogi. Syukron Bro, sehingga saya bisa mengerti bagaimana Quran diturunkan
oleh Allah hingga menjadi naskah Quran yang saya baca selama ini. Buku ini juga mengembalikan kepercayaan salah seorang teman di dunia maya yang sempat termakan tulisan orientalis dan meragukan kelengkapan Quran yang sekarang kita baca.

Iklan

Posted on Mei 1, 2006, in Ulasan. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: