Kun Fayakuun – Sebuah Oase bagi Bangsa yang Sakit


Hari Sabtu kemarin, setelah kondangan bersama anak dan istri di daerah kompleks MPR/DPR, kami mampir ke Blok M Plaza, mau beli celana Rayyan, yang udah pada cingkrang, secara dia dah tambah tinggi. Sorenya kami menonton Kun Fayakuun di sana.

Temanya sebenarnya bukan hal yang baru. Sinopsisnya (diambil dari website resminya) adalah sebagai berikut:

Sebuah keluarga sederhana yang selalu memegang terhadap keyakinan dan prinsip moral dengan teguh dalam kesehariannya.Hingga suatu saat benar-benar mengalami berbagai macam cobaan yang seakan tidak pernah berhenti.Masa-masa sulit yang terus menerus menghujani,membawa mereka pada sebuah kekuatan keyakinan.
Ardan (Agus Kuncoro) seorang tukang kaca keliling.Hidupnya sangat sederhana tetapi Ia tetap gigih berjuang,sabar.tabah dan selalu ikhlas apapun cobaan diberikan kepadanya, itikadnya tetap bulat untuk mewujudkan impian untuk menjadikan keluarganya keluar dari himpitan kemiskinan.Ingin pula mengganti gerobaknya dengan sebuah kios.
Beruntung Ardan mempunyai seorang istri (Desi Ratnasari) yang solehah,setia,taat kepada suami dan Tuhannya.Dia juga tidak pernah luput mendoakan dan menanti dengan setia kedatangan Ardan sepulangnya dari berjualan kaca keliling.Senyumannya sangat khas untuk membahagiakan hati Ardan.Tutur katanya pun sangat bijak dihadapan kedua buah hati mereka.Sampai ketika keyakinan itu berada pada titik nadir,ternyata sesuatu terjadi pada keluarga tersebut dari arah yang tidak terduga.

Kualitas pembuatan film ini masih kalah dibandingkan Ayat-ayat Cinta besutan Hanung Bramantyo. Suara dan gerakan bibir tidak sinkron. Beberapa adegan terasa agak lambat.

Namun demikian, film ini sangat dibutuhkan bagi bangsa kita yang sedang sakit ini. Banyak orang kaya raya, tapi banyak juga yang mati kelaparan. Banyak orang miskin harta, tapi juga miskin agama. Film ini mencoba mengingatkan kita, bahwa miskin harta jangan dibarengi dengan miskin agama. Biar nggak ada uang, tapi tetap punya Allah SWT. Allah saja berfirman, “Mintalah, niscaya akan kukabulkan (Ud’uuni astajib lakum)”. Namun Allah juga berfirman bahwa Ia tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga kaum itu sendiri yang mengubahnya (Innallaha laa yughayyiru maa biqaumin hatta yughayyiru maa bi anfusihim). Jadi yang bisa kita lakukan adalah berdoa dan berikhtiar. Itulah kunci sukses, insya Allah, dunia dan akhirat.

Untuk yang butuh sesuatu, qiyamul lail dan ibadah lainnya bisa digunakan untuk menyampaikan keinginan kita pada Allah SWT. Namun jika kita sudah merasa cukup dengan rezekiNya, maka ibadah tambahan tersebut dapat dijadikan sebagai rasa syukur kita kepada Ilahi Rabbi. Bukankah Rasulullah yang dijamin masuk surga saja bengkak kakinya karena rajin qiyamul lail?

Alhamdulillah film ini menyadarkan dan mengingatkan saya untuk lebih bersyukur pada Allah SWT atas semua rizqiNya, dan menerbitkan semangat untuk beribadah lebih baik lagi.

Film ini cocok untuk dinikmati seluruh lapisan keluarga dan menjadi alternatif positif ketimbang film mengumbar aurat yang bersembunyi di balik genre komedi maupun setan.

Iklan

Posted on April 26, 2008, in Ulasan. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: