Prompt #132: Wanita-wanitaku

Orang bilang aku playboy. Suka gonta-ganti pacar. Persetan omongan orang. Kalau sudah tidak cocok, untuk apa hubungan diteruskan? Kamu juga gitu, kan? Begitu hubungan sudah tidak produktif, au revoir.

Biar wajah pas-pasan gini, sudah puluhan wanita aku kencani. Setiap kali aku jatuh cinta dan menjalin hubungan dengan mereka, aku pelajari sifat mereka berdasarkan zodiaknya masing-masing. Izinkan aku menceritakan beberapa kisah cintaku, kawan.

Rini anaknya spontan, berani, dinamis dan selalu penuh inisiatif. Lahir di awal April, ia berzodiak Aries. Kami bertemu di sebuah acara gathering di daerah Bekasi. Dia yang menembak aku terlebih dahulu. Sayang ibunya kurang menyetujui hubungan kami. Aku dianggap kurang mapan untuk menjadi suaminya. Hanya delapan bulan kami berhubungan. Menyakitkan.

Diana beda lagi. Dia benar-benar gadis Cancer. Sensitif dan posesif, tapi setia. Dia paling takut dikhianati. Aku sangat menyayanginya. Aku bahkan berpikir untuk serius menikahinya. Kami jadian setelah ia putus dengan mantannya setelah berpacaran empat tahun lebih. Hatinya hancur saat itu, namun aku berjuang keras untuk mengembalikan kehidupannya yang sempat galau dan terpuruk. Setelah berpacaran empat bulan penuh dengan perjuangan, mantannya minta balikan lagi. Saking sayangnya, aku ikhlaskan dia kembali dengan mantannya. Biarlah pengorbananku menjadi saksi keikhlasan cintaku kepadanya.

img2

Setelah luka hatiku sembuh aku dekat dengan Leoni, wanita Scorpio. Anaknya tangguh, gaul, dan aktif di organisasi. Kepercayaan dirinya sangat tinggi. Di antara lainnya, Leonilah yang paling sensual. Aku benar-benar tersihir dengan kecantikannya. Wawasannya luas dan bukan jenis wanita yang lemah dan menggantungkan pada pasangannya. Ini yang aku suka juga darinya. Sangat mandiri. Hampir semua film yang ia sukai, aku juga menyukainya. Hidup kami penuh warna dan diselimuti pelangi selama dua tahun berturut-turut. Tapi seperti kata Maroon 5, even the sun sets in paradise.

Bencana ini dimulai ketika aku dipindah tugaskan ke Surabaya. Kami menjalani hubungan jarak jauh Jakarta – Surabaya sekitar 5 bulan lamanya. Perubahan ini sangat terasa bagi kami berdua. Jika biasanya kami bertemu hampir setiap minggu, kini hanya satu bulan sekali. Dulunya aku bisa melihatnya langsung tiap malam Minggu, kini hanya mengandalkan Whatsapp via gawai kami. Dia sering mengatakan kalau mulai tidak kuat menjalani hubungan kami.

Suatu malam ia mendadak muncul di Surabaya. Ia begitu rindu kepadaku. Dari bandara dia langsung menuju tempat kosku. Di sana ia mendapatiku sedang berciuman dengan seorang wanita dari tempat kerja baruku yang baru kudekati sebulan setelah aku dipindahkan ke sana.

“Tidaaaaak!!!! Teganya kau padaku, Rama!” teriaknya histeris.

“Maafkan aku, Leoni. Ini tidak seperti yang kau pikirkan!” kataku berkilah.

“Aku tidak terima perlakuanmu ini. Akan kubuat dirimu menderita!!” teriaknya sambil menghambur keluar.

Seminggu kemudian aku kembali ke Jakarta untuk menemuinya di vila milik saudaranya. Ia tampak lebih tegar sekarang.

“Leoni, maafkan aku. Kejadian malam itu tidak aku sengaja. Kami hanya terbawa suasana,” kataku membuka percakapan sambil menyantap makan malam yang telah ia sediakan.

“Aku tak menyangka kau tega melakukan itu, Rama.”

“Berikanlah aku kesempatan kedua.”

“Maaf, Rama. Aku tidak bisa. Hatiku terlalu sakit.”

Tiba-tiba pandanganku kabur. Aku jatuh tidak sadarkan diri. Ketika bangun tubuhku terikat dalam sebuah kotak kayu. Ribuan kalajengking beracun menari-nari di atas tubuhku.

Dia benar-benar seorang wanita Scorpio sejati.


Kisah fiksi ini ditulis sebagai kontribusi Monday Flash Fiction dengan topik Zodiak. Jumlah kata 498 kata dari 500 kata yang diperbolehkan. Gambar dari Pixabay.

Prompt #130 dan #131: Perempuan Horor

“Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Telah meninggal dunia Pak Ramdani tadi malam.” Suara marbot mesjid mengagetkan Budi yang sedang duduk di depan teras sambil menikmati pisang goreng buatan istrinya.

“Bu, Pak Ramdani meninggal dunia.”
“Wah.. mendadak sekali ya. Kemarin saya lihat ada perempuan berbaju merah datang ke rumahnya. Beliau tampak sehat-sehat saja lho, Pak.”
“Apa? Perempuan berbaju merah? Pak Tino bulan lalu mengatakan kalau sebelum Pak Toto meninggal, ada perempuan berbaju merah juga datang ke rumahnya sehari sebelumnya.”

img1
“Ah, itu hanya kebetulan saja mungkin Pak. Jangan dihubung-hubungkan. Itu sudah ditakdirkan Yang Maha Kuasa. Bapak jangan percaya takhayul.”
“Iya sih Bu. Cuma kok aneh saja, bisa kebetulan begitu.”
“Makanya Bapak jangan lupa berolahraga dan selalu memakan makanan sehat. Ingat umur, Pak!”
“Iya, Bu. Nanti Bapak akan lebih banyak berolahraga.”

Sore itu hujan baru turun membasahi bumi. Sudah lama hujan tak turun dari langit. Bau khas yang menyenangkan ini terasa menentramkan hati Budi. Ia dongakkan kepalanya ke langit, bulan purnama mulai muncul. Ia sendiri saja di rumah. Ina, istrinya, tadi pamit untuk pergi berbelanja. Sekitar pukul setengah delapan malam istrinya tiba membawa beberapa barang belanjaan. Setelah makan malam dan berbincang-bincang, mereka masuk ke kamar tidur.

“Pak, tadi aku belanja lingerie, lho. Aku coba ya, Pak.” kode Ina sambil tersenyum genit. Budi menatap istrinya dengan balutan lingerie merah yang seksi itu.
“Me.. merah?” tanya Budi tergagap.
“Iya Pak.. Bapak suka, kan?”
“Biasanya kamu suka warna pink?”
“Iya Pak. Ganti suasana.” kata Ina sambil meredupkan lampu.

Mereka berciuman penuh gairah. Ina mengambil posisi di atas sambil terus melumat bibir Budi.

“Ahhh!!!” tiba-tiba Budi berteriak kesakitan. Ia merasakan darah di mulutnya. Istrinya seketika berubah wujud bagaikan hantu yang mengerikan. Kini dadanya terasa sakit. Penyakit jantungnya mulai kumat. Nafasnya mulai tersengal. Semuanya berubah menjadi gelap gulita. Ina hanya menyeringai menyaksikan suaminya mati perlahan dalam pelukannya.

img2


Flash fiction ini merupakan gabungan prompt #130, Perempuan yang Lewat di depan Rumah dan prompt #131, Horror! Jumlah kata 300 buah mengikuti batasan di Prompt #130, meski di prompt #131 bisa sampai 400 buah kata. Tadinya mau kirim yang 130 lebih dahulu, namun prompt terbaru terlanjur keluar. Jadi akhirnya digabungkan menjadi satu.

Prompt 128: Hubungi Romlah

img1

“Bu, saya mau minta tolong.” kata Amran perlahan.
“Apa masalahmu?” tanya seorang wanita di depannya sambil mengunyah sirih.
“Saya jatuh cinta dengan teman sekantor saya. Tapi saya takut ditolak, Bu. Ibu bisa bantu saya?”
“Mudah itu. Kamu bawa fotonya?”
“Saya bawa. Ada di hp saya.” Amran menyerahkan iPhonenya kepada dukun pelet itu.

Tak berapa lama kemudian dupa di depannya sudah menyala. Bau khas yang aneh itu menyergap hidungnya.
“Maaf, Mas. Tunggu sebentar di luar ya. Bu Romlah butuh konsentrasi. Mari saya antar.” kata asistennya.

Amran menunggu di luar sambil duduk di kursi memandang ke luar. Malam sangat gelap. Jantungnya berdegup kencang.

“Mas, dipanggil Ibu ke dalam sekarang.”
Amran masuk dan langsung duduk bersila di depan Romlah.
“Nak Amran, cinta lewat pelet seperti ini akan pudar. Tiap orang berbeda-beda. Kalau mau saya bisa siapkan pelet kuat untuk mengunci hatinya.”
“Tidak perlu Bu. Seiring berjalannya waktu saya yakin bisa membuatnya jatuh cinta.” tolak Amran dengan yakin.
“Baiklah. Ini ada jamu yang harus kamu minum tepat pukul 12 malam selama satu minggu berturut-turut. Rayuanmu akan mengena di hatinya.”

Sebelum pulang, asistennya menyerahkan sebuah kartu nama sambil berkata, “Mas, jika butuh masukan apapun, hubungi Bu Romlah di nomor ini ya.”

Amran pulang. Ia lakukan semua ritual yang diperintahkan dengan patuh.
Hari Jumat berikutnya, Amran nekad mengajak Intan untuk kencan di luar.
Sejak saat itu hubungan mereka bertambah lengket. Jamunya kebetulan sudah habis. Ia merasa harus menemui dukun itu lagi.
Diambilnya kartu nama yang berisi nomor telepon sang dukun.

“Bu Romlah, saya Amran. Jamunya habis Bu. Bisa minta lagi?”
“Bisa. Datang saja ke alamat yang ada di kartu itu. Saya tunggu jam 11 malam setelah praktik ya.”
“Baik, Bu. Jam 11 malam nanti saya sudah di sana.” kata Amran sambil menutup teleponnya.

Ruang tunggu praktik sudah sepi. Amran dipersilakan masuk ke dalam oleh asistennya.
Ia melihat Bu Romlah sedang duduk di sofa mengenakan baju tipis dan seksi. Ia duduk di sebelahnya.

“Bagaimana, Mas. Jamunya tokcer atau tidak?” tanya Romlah.
“Mantap, Bu. Intan langsung bertekuk lutut. Terima kasih atas semua bantuannya.”

Keduanya berbincang-bincang tentang banyak hal. Tak terasa sudah pukul dua pagi.
Romlah semakin dekat duduknya mendekati Amran. Tiba-tiba Romlah memagut Amran.
Amran tak kuasa menolak. Ia sambut ciuman membara itu dengan tak kalah buas.
Mereka bercinta semalaman hingga kelelahan di ranjang dekat ruang praktik Romlah.
Amran seperti lupa kepada Intan. Lupa pada jamu yang ia pesan. Lupa segalanya.
Ia hanya ingat betapa seksi tubuh dukun itu dan betapa hebat dia di atas ranjang.
Paginya ia terbangun karena silau matahari. Jam menunjukkan pukul 10 di hari Sabtu yang cerah itu. Sesosok wanita yang ia kenal tersenyum kepadanya.

“Intan? Kenapa kau ada di sini?”
“Aku anak bungsu Bu Romlah, Mas. Sudah lama Ibu menjanda. Aku rela melepaskan hubungan kita demi Ibu, Mas.”

Amran lemas teringat jamu yang ia minum setiap malam. Jamu yang selalu membuatnya teringat dengan kartu nama dengan tulisan Hubungi Romlah yang dicetak tebal itu.


Flash fiction mingguan kali ini bertemakan Hubungi Romlah. Jumlah kata 476 buah, dari maksimum 500 kata yang diizinkan. Gambar dari sini.

FFKamis – Jodoh yang Tak Kunjung Tiba

“Bu, carikan aku jodoh. Aku ingin menikah”. Tiba-tiba saja Sundari berkata kepada ibunya.

“Kamu sukanya tipe yang  kayak gimana sih?”

“Gak aneh-aneh kok Bu. Ganteng, dada bidang, mapan, dan baik hati”.

“Hemm.. siapa ya? Anak Bu Condro bulan depan tunangan. Anak Bu Rinto masih mau sekolah S2. Ibu bingung juga nih.”

“Pokoknya Ibu harus carikan. Aku sudah ingin sekali menikah. Malu aku Bu sama teman-temanku. Ibu mau aku dianggap perawan tua?”

“Iya.. Ibu akan bantu sebisa Ibu ya, Nak. Kamu sabar dong”.

“Kalau susah, Om Anto buat aku saja ya Bu?”

“Dasar anak durhaka!!! Itu jodohku! Calon ayahmu. Enak aja!”


img1

Flash Fiction yang menggunakan tepat 100 kata ini adalah kontribusi FFKamis dengan tema Jodoh.

FfKamis – Malam Seribu Candi

“Gimana kerjaanmu? Udah kelar?” tanya Bondowoso kepada salah satu anak buahnya.“Beres Bos. Dikit lagi..”

“Yang lain bagaimana? Masih bisa tepat waktu, kan?”

“Tenang saja Bos. Asal belum terang, ini mah kerjaan gampang!” jawab si Botak.

Malam semakin pekat. Ribuan anak buah Bondowoso bekerja keras membangun bangunan secepat kilat.

“Bagaimana dengan permintaanku, Mas?” tanya Jonggrang pada Bondowoso.

“Tenang Cintaa.. Seribu candi yang kau minta sudah selesai.”

“Tapi.. bagaimana mungkin?”

“Dayangmu yang berniat curang sudah kutangkap semuanya. Anak buahku bisa menyelesaikan tugasnya.”

Roro Jonggrang tak kuasa menolak pinangan Bondowoso. Ia tak sadar di dunia pararel lainnya, nasib kembarannya tak seberuntung dirinya.


_______________________

Cerita fiksi mini FFKamis bertajuk Malam Buta ini mengandung tepat 100 kata dan diunggah 5 menit sebelum batas waktu yang ditentukan panitia.

#FFKamis: Belanja Tak Ternyana

“Rini, sudah siap kita pergi belanja pagi ini?” tanya Ruli.

“Sudah, Yah. Aku pakai baju pink ini aja ya Yah” jawab Rini meminta izin.

“Pakai apa yang kamu suka, Nak. Ayah percaya pada pilihanmu.”

Sesampai di bangunan besar berwarna cerah itu Ruli memarkir mobilnya dekat pintu masuk.

“Kita akan beli sesuatu yang selama ini kamu inginkan, sayang. Kejutan!” jawab Ruli sambil tersenyum.

“Bisa minta daftar pilihannya, Mbak?” tanya Ruli kepada salah satu pekerja di sana.

“Bapak mau katalog berdasarkan kecantikan, pendidikan, atau best value?” tanyanya sambil menyodorkan iPad.

“Rini, kamu mau ibu baru yang mana, sayang? Ayah percaya pada pilihanmu.”

Img1


Cerita fiksi ini adalah salah satu kontribusi Flash Fiction Kamis dengan topik belanja. Jumlah kata tepat 100 buah. Gambar dari sini.

#FfKamis – Firasat di Siang Bolong

Setiap kali kau tunjukkan wajah cemberut khasmu, aku punya firasat bila kau akan memutuskanku lagi. Kenyang sudah diriku yang terus kau permainkan dengan cintamu yang putus sambung ini.
Dulu hanya gara-gara aku terlambat mengapelimu, kau nyatakan perang saat itu juga. Lama-lama kurasakan pacarku ini lebih kejam daripada Presiden Korea Utara.
Beberapa waktu yang lalu, hanya karena menolak menemanimu belanja ke Mangga Dua, engkau mendadak murka. Entah kesurupan entah kenapa.

Dan kini kau kembali tunjukkan raut wajah andalanmu yang mengerikan ini. Aku muak akan semua perlakuanmu padaku. Sebentar lagi wajahmu akan kubuat tersenyum manis dengan air keras yang kubeli siang tadi.

Cerita fiksi ini adalah kontribusi Flash Fiction Kamis yang berjumlah tepat 100 kata, dengan topik Firasat.

Prompt #123: Suara Ketukan di dalam Gudang

Jam menunjukkan hampir pukul tiga pagi. Suara ketukan membangunkan diriku. Dalam keadaan mata masih sangat berat kubangun perlahan dari tempat tidur. Istriku masih lelap dalam tidurnya. Kupakai sandal dan perlahan beranjak menuju pintu kamar. Suara halus detik jam dinding terdengar jelas. Ketukan tadi tidak terdengar lagi. Kulangkahkan kaki menuju dapur untuk mengambil segelas air putih. Kuteguk dengan cepat air dingin yang baru kuambil dari dalam kulkas. Aku bertanya-tanya siapa yang malam-malam begini mengetuk dinding dari luar. Kusingkap tirai jendela di dekat dapur dan mengintip keluar. Tidak ada siapapun di luar. Langit terlihat gelap. Tak ada bintang ataupun bulan.

“Mungkin hanya mimpi saja” batinku seraya berjalan kembali ke kamar tidur.

Persis begitu kusentuh pegangan pintu kamar, suara ketukan itu terdengar kembali. Halus, namun masih bisa kudengar. Suara itu sepertinya berasal dari gudang dekat dapur. Kulangkahkan kaki perlahan menuju sumber suara tadi. Kubuka pintu gudang yang gelap gulita. Hawa dingin dan bau tidak enak tercium hidungku. Kuraba dinding di sebelah kanan mencari tombol lampu. Begitu kunyalakan tiba-tiba bola lampunya putus. Jantungku kaget setengah mati. Segera aku keluar dari gudang itu menuju dapur untuk mencari lampu senter. Begitu senter sudah di tangan, segera kulangkahkan kaki kembali ke gudang.

Bau busuk ini mungkin berasal dari bangkai tikus yang mati. Sudah terbayang besok aku harus mengeluarkan dan memindahkan banyak barang untuk mencari bangkai menyebalkan itu. Ketukan itu terdengar lagi. Kini aku yakin ketukan itu berasal dari balik lemari kayu di depanku. Bau busuk makin menyengat hidungku. Kubuka lemari itu perlahan dan tiba-tiba seekor tikus melompat ke mukaku.

“Arggh!!! Tikus sialan!!!” teriakku histeris.

Kubanting pintu lemari dengan kencang karena refleks. Tiba-tiba bulu kudukku merinding. Ada yang tidak beres. Kudengar suara pelan di belakangku.

“Pak.. maafkan saya Pak.”

Kubalikkan badan dan kulihat sesosok pria yang kukenal bermuka pucat seputih mayat.

“Parto? Kamu ngapain di sini?” tanyaku pada supirku yang sudah dua hari ini tidak masuk kerja.

“Saya tadi yang mengetuk dinding Pak. Saya minta maaf membangunkan Bapak. Tapi saya mesti pulang, Pak.”

“Apa yang terjadi, To?”

“Saya diracun Ibu Pak. Saya merasa bersalah mengkhianati Bapak selama ini. Ketika saya ingin menghentikan kegilaan kami, Ibu meracuni kopi saya. Dan tubuh saya ditanam di tembok di balik lemari ini. Tolong kuburkan saya secara layak, Pak” kata Parto menghiba.

“Kurang ajar! Kalau kau masih hidup aku sendiri yang akan membunuhmu, To. Dasar lelaki tak tahu diuntung!” makiku dengan penuh amarah.

Aku segera keluar gudang itu untuk membangunkan istriku. Ternyata selama ini aku ditipu habis-habisan. Senter kupegang erat di tangan kanan. Amarahku begitu menggelegak. Napasku tersengal-sengal. Pandanganku mulai berkunang-kunang. Senter di tanganku terjatuh. Begitu akan kuambil, aku jatuh terjerembab.

Aku melihat bayangan istriku berdiri di depan pintu kamar.

“Maafkan aku Mas. Aku telah mengkhianatimu selama ini. Namun aku sudah tidak tahan lagi menjadi istrimu. Semua air minum sudah kububuhi racun yang sama dengan yang telah kuberikan pada Mas Parto. Kalian akan memiliki banyak waktu untuk bicara. Di gudang rumah ini” kata istriku perlahan.

Keesokan harinya aku dan Parto mulai tinggal berdampingan di dalam dinding di balik lemari dalam gudang laknat itu.

Img1


Fiksi ini adalah salah satu bentuk kontribusi Monday Flash Fiction dengan tema di Gudang. Tulisan di MS Word berjumlah tepat 500 kata, sementara di WP dikenali sebanyak 499 kata. Gambar di ambil dari sini.

#FFKamis – Arisan Tanpa Undian

“Sayang, sore ini kita jadi ketemuan, kan?” rayu Anwar lewat iPhonenya.

“Sepertinya bisa. Sekitar jam empat ya” bisik Tini perlahan.

“Mau ketemuan di mana? Tempat biasa?”

“Jangan di Hotel Perwira. Bagaimana kalau di Hotel Rita dekat Mal Pajajaran?”

“Ok, sampai ketemu nanti ya. Love you!”

“Love you too” jawab Tini sambil mematikan Samsungnya lalu menghubungi Samsul, suaminya.

“Mas, sore ini Mamah ada arisan di rumah Bu Joko ya.”

“Oh ya, kebetulan Papah juga masih meeting di Puncak, Mah” jawab Samsul.

“Sampai ketemu nanti malam ya Pah! Muach!”

“Muach muach muach!”

Setelah menutup telepon Samsul kembali ke pelukan sekretarisnya yang seksi.

nap


Postingan tepat 100 kata ini adalah kontribusi Flash Fiction Kamis, dengan topik Arisan. Gambar dari sini.

#FFKamis – Cintaku Pupus di Waru Doyong

“Dek, sudah tak tahan Mas untuk meminang dirimu” kata Tanto dengan mupeng.

“Sabar ya Mas. Inilah mengapa aku mengajakmu pulang kampung sekarang. Sudah saatnya keluargaku mengenalmu, Mas sayang..” timpal Rianti dengan penuh kelembutan.

“Tapi.. apa ayahmu mau menerimaku yang supir bus ini sebagai menantunya? Apalagi Mas sudah punya istri.”

“Jangan kuatir Mas. Cinta kita akan menaklukan kekerasan ayahku. Percayalah padaku.”

“Dek, kok kita berhenti di sini?” tanya Tanto keheranan.

“Ini kampungku, Mas. Biarpun rumah di sini sempit-sempit tapi kami saling berdekatan satu sama lain.”Img3

Keesokan harinya warga kampung menemukan Tanto tergeletak pingsan di sebuah tempat pemakaman umum Desa Waru Doyong.


Kontribusi Flash Fiction Kamis  berjumlah 100 kata dengan topik Kampung. Gambar dari sini.