#FFKamis – Om Ultah Om!

Lusa Riana ulang tahun. Aku masih belum tahu hadiah apa yang paling tepat kuberikan kepadanya. Koleksi lingerie Victoria Secret sudah sering aku belikan. iPhone 7 plus dan iPad Mini generasi terbaru juga sudah. Tas jangan ditanya. Itu adalah hadiah tiap bulan. Mengapa sekarang begitu sulit mencari ide hadiah ulang tahun?

img2

Tiba-tiba iPhoneku berbunyi. Riana menelpon.

“Om, lusa kita jadi ketemu di hotel biasa?”

“Tentu jadi, Sayang! Jam 20:00 malam ya?”

“Ok!”

Tiba-tiba iPhoneku berbunyi kembali. Yane menelpon.

“Om, lusa bisa kan menemaniku ke Bandung?”

“Bisa dong, Sayang! Kita berangkat pagi jam 6 ya. Soalnya malam Om ada meeting di Jakarta.”

Huff, nyaris saja!


Kisah fiksi 100 kata ini sebagai kontribusi FFKamis yang sedang berulang tahun yang ke-4. Happy Bday, MFF! Gambar dari Pixabay.

#Prompt 135: Antara Aku, Kau, dan Dia

Namanya Bagus. Kelahiran Semarang. Aku mengenalnya beberapa bulan yang lalu di sebuah rumah makan. Aku masih bekerja di sana sebagai pramusaji. Ia adalah pelanggan tetapku. Setiap makan siang ia selalu datang sekitar pukul 12:15 siang. Menu kesukaannya adalah soto ayam dan tempe mendoan. Akhirnya aku tertarik padanya.

Kencan pertama kami adalah di Plaza Senayan XXI. Ia mengajakku menonton film romantis. Aku tidak begitu peduli dengan filmnya. Aku hanya teringat betapa lembut kata-katanya. Betapa manis senyumannya. Kokoh genggaman tangannya. Hari terindah hidupku setelah bertahun-tahun tak pernah kurasakan kebaikan seorang lelaki.

Setelah tiga bulan kami berpacaran, Bagus mengajakku ke tepi pantai Ancol. Ia mengajakku menikah di bawah tangan. Lagi-lagi aku hanya tersenyum menuruti sihir sorotan matanya. Ia tidak menjanjikan janji surga seperti kebanyakan lelaki sebelumnya. Hatiku yang kering kerontang sebelum pertemuan kami, kini bagaikan oase yang indah dan bukan sebatas fatamorgana belaka.

Suatu sore, setelah kami bercinta di Hotel Mulia Senayan yang megah itu, ia menawariku pekerjaan. Pekerjaan yang akan membuat kami lebih sering bertemu. Tidak seperti sekarang harus mencuri-curi waktu, karena Bagus sudah berumah tangga. Tapi aku tak peduli. Aku hanya tahu kami saling mencintai satu sama lain. Titik. Dan kini ia menawariku pekerjaan agar aku selalu dekat dengannya. Aku tak peduli dengan besar gaji yang ia tawarkan. Selama kami bisa selalu bertemu, itu sudah lebih dari cukup.

Aku dibawa ke rumahnya di daerah Kemang. Banyak sekali rumah megah kulihat dekat rumahnya. Hatiku berdegup kencang memikirkan pertemuan pertamaku dengan istrinya. Apakah akan terjadi pertumpahan darah? Perang dunia ketiga? Aksi bela rumah tangga? Entahlah. Bagus memintaku untuk tetap tenang dan memintaku berpura-pura bahwa kami tidak saling kenal. Ia juga memintaku berbicara dengan logat Jawa yang kental. Berpura-pura belum lama datang ke Jakarta, tidak ada pengalaman di kota lain, dan seterusnya. Semua permintaannya aku turuti. Demi cinta kami.

“Mah, ini pembantu yang kubicarakan kemarin. Marni adalah tetangga kampung teman sekantorku,” kata Bagus pada istrinya.

“Halo, selamat datang! Saya Fiona,” sambut istrinya dengan senyum hangat. Cantik sekali.

“Saya Marni, dari Pemalang, Bu,” jawabku.

“Saya sudah siapkan kamar di atas untukmu Marni. Anggap saja rumah sendiri ya. Dibetah-betahkan. Kami sungguh berterima kasih atas kesediaan Marni untuk membantu keluarga kami.”

“Baik Bu, terima kasih.”

Aku cukup berhasil menjadi perempuan lugu demi Bagus. Fiona tidak mencurigaiku sama sekali. Kalian tentu bertanya-tanya bagaimana hubungan cinta kami. Bagus mempertahankan hubungan cinta kami hampir tiap malam. Jam setengah dua pagi ia akan naik ke kamarku dan kami melepaskan hasrat kami di sana. Meski hubungan kami hanya sesaat setiap malamnya, itu sudah lebih dari cukup.

Suatu malam Fiona memanggilku dari kamarnya.

“Marni, tolong pijit punggung saya. Sepertinya saya kelelahan.”

“Baik, Bu.”

Kami bercakap-cakap dengan akrab, layaknya dua orang sahabat kental. Dari masalah sinetron, gosip ibu-ibu tetangga, hingga menu masakan sehari-hari.

Tiba-tiba Fiona mencium lembut bibirku. Aku merasa bingung. Ada yang bergetar dalam dadaku. Ada perasaan aneh yang menjalar di seluruh kulitku.

“Teruskan,” tiba-tiba Bagus muncul mengenakan piyama.

love-triangle-494178_1280

Sejak malam itu kami mengeksplorasi cinta bersama. Tidak ada yang tahu. Seluruh dunia hanya tahu, aku adalah Marni, pembantu dari Jawa yang rajin bekerja.


Cerita ini adalah kontribusi untuk Prompt #135, dengan topik Hubungan Sesaat. Jumlah kata tidak lebih dari 500. Gambar dari Pixabay.

 

#FFKamis – Gawaiku Canduku

Sunardi tertawa terbahak-bahak memegang sebuah gawai di tangannya.“Apa yang lucu, Nardi?” tanya Parto di sampingnya.

“Ini.. video bayi di Youtube. Lucu!

Tak lama kemudian Sunardi mengomel.

“Dasar politikus gila. Ustad gila. Pejabat gila. Semua menista sesama.”

“Sabar tho Di. Kok tadi ketawa sekarang marah?”

Tak berapa lama kemudian Sunardi terdiam. Jari-jemarinya asyik memainkan gawai yang dipegangnya. Terdengar suara lucu seperti suara balita.

“I love you. I love you.”

Sunardi terus memainkan candu yang seakan tak bisa lepas dari tangannya.

Berbagai nada lucu terdengar silih berganti.

“Suster, pasien Sunardi sudah minum obat?” tanya Parto pada perawat dekat Sunardi.

“Belum, Dok.”

__________________________

Tulisan fiksi ini dibuat sebagai kontribusi Flash Fiction 100 kata tiap hari Kamis dengan topik minggu ini : Candu.

Prompt #132: Wanita-wanitaku

Orang bilang aku playboy. Suka gonta-ganti pacar. Persetan omongan orang. Kalau sudah tidak cocok, untuk apa hubungan diteruskan? Kamu juga gitu, kan? Begitu hubungan sudah tidak produktif, au revoir.

Biar wajah pas-pasan gini, sudah puluhan wanita aku kencani. Setiap kali aku jatuh cinta dan menjalin hubungan dengan mereka, aku pelajari sifat mereka berdasarkan zodiaknya masing-masing. Izinkan aku menceritakan beberapa kisah cintaku, kawan.

Rini anaknya spontan, berani, dinamis dan selalu penuh inisiatif. Lahir di awal April, ia berzodiak Aries. Kami bertemu di sebuah acara gathering di daerah Bekasi. Dia yang menembak aku terlebih dahulu. Sayang ibunya kurang menyetujui hubungan kami. Aku dianggap kurang mapan untuk menjadi suaminya. Hanya delapan bulan kami berhubungan. Menyakitkan.

Diana beda lagi. Dia benar-benar gadis Cancer. Sensitif dan posesif, tapi setia. Dia paling takut dikhianati. Aku sangat menyayanginya. Aku bahkan berpikir untuk serius menikahinya. Kami jadian setelah ia putus dengan mantannya setelah berpacaran empat tahun lebih. Hatinya hancur saat itu, namun aku berjuang keras untuk mengembalikan kehidupannya yang sempat galau dan terpuruk. Setelah berpacaran empat bulan penuh dengan perjuangan, mantannya minta balikan lagi. Saking sayangnya, aku ikhlaskan dia kembali dengan mantannya. Biarlah pengorbananku menjadi saksi keikhlasan cintaku kepadanya.

img2

Setelah luka hatiku sembuh aku dekat dengan Leoni, wanita Scorpio. Anaknya tangguh, gaul, dan aktif di organisasi. Kepercayaan dirinya sangat tinggi. Di antara lainnya, Leonilah yang paling sensual. Aku benar-benar tersihir dengan kecantikannya. Wawasannya luas dan bukan jenis wanita yang lemah dan menggantungkan pada pasangannya. Ini yang aku suka juga darinya. Sangat mandiri. Hampir semua film yang ia sukai, aku juga menyukainya. Hidup kami penuh warna dan diselimuti pelangi selama dua tahun berturut-turut. Tapi seperti kata Maroon 5, even the sun sets in paradise.

Bencana ini dimulai ketika aku dipindah tugaskan ke Surabaya. Kami menjalani hubungan jarak jauh Jakarta – Surabaya sekitar 5 bulan lamanya. Perubahan ini sangat terasa bagi kami berdua. Jika biasanya kami bertemu hampir setiap minggu, kini hanya satu bulan sekali. Dulunya aku bisa melihatnya langsung tiap malam Minggu, kini hanya mengandalkan Whatsapp via gawai kami. Dia sering mengatakan kalau mulai tidak kuat menjalani hubungan kami.

Suatu malam ia mendadak muncul di Surabaya. Ia begitu rindu kepadaku. Dari bandara dia langsung menuju tempat kosku. Di sana ia mendapatiku sedang berciuman dengan seorang wanita dari tempat kerja baruku yang baru kudekati sebulan setelah aku dipindahkan ke sana.

“Tidaaaaak!!!! Teganya kau padaku, Rama!” teriaknya histeris.

“Maafkan aku, Leoni. Ini tidak seperti yang kau pikirkan!” kataku berkilah.

“Aku tidak terima perlakuanmu ini. Akan kubuat dirimu menderita!!” teriaknya sambil menghambur keluar.

Seminggu kemudian aku kembali ke Jakarta untuk menemuinya di vila milik saudaranya. Ia tampak lebih tegar sekarang.

“Leoni, maafkan aku. Kejadian malam itu tidak aku sengaja. Kami hanya terbawa suasana,” kataku membuka percakapan sambil menyantap makan malam yang telah ia sediakan.

“Aku tak menyangka kau tega melakukan itu, Rama.”

“Berikanlah aku kesempatan kedua.”

“Maaf, Rama. Aku tidak bisa. Hatiku terlalu sakit.”

Tiba-tiba pandanganku kabur. Aku jatuh tidak sadarkan diri. Ketika bangun tubuhku terikat dalam sebuah kotak kayu. Ribuan kalajengking beracun menari-nari di atas tubuhku.

Dia benar-benar seorang wanita Scorpio sejati.


Kisah fiksi ini ditulis sebagai kontribusi Monday Flash Fiction dengan topik Zodiak. Jumlah kata 498 kata dari 500 kata yang diperbolehkan. Gambar dari Pixabay.

Prompt #130 dan #131: Perempuan Horor

“Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Telah meninggal dunia Pak Ramdani tadi malam.” Suara marbot mesjid mengagetkan Budi yang sedang duduk di depan teras sambil menikmati pisang goreng buatan istrinya.

“Bu, Pak Ramdani meninggal dunia.”
“Wah.. mendadak sekali ya. Kemarin saya lihat ada perempuan berbaju merah datang ke rumahnya. Beliau tampak sehat-sehat saja lho, Pak.”
“Apa? Perempuan berbaju merah? Pak Tino bulan lalu mengatakan kalau sebelum Pak Toto meninggal, ada perempuan berbaju merah juga datang ke rumahnya sehari sebelumnya.”

img1
“Ah, itu hanya kebetulan saja mungkin Pak. Jangan dihubung-hubungkan. Itu sudah ditakdirkan Yang Maha Kuasa. Bapak jangan percaya takhayul.”
“Iya sih Bu. Cuma kok aneh saja, bisa kebetulan begitu.”
“Makanya Bapak jangan lupa berolahraga dan selalu memakan makanan sehat. Ingat umur, Pak!”
“Iya, Bu. Nanti Bapak akan lebih banyak berolahraga.”

Sore itu hujan baru turun membasahi bumi. Sudah lama hujan tak turun dari langit. Bau khas yang menyenangkan ini terasa menentramkan hati Budi. Ia dongakkan kepalanya ke langit, bulan purnama mulai muncul. Ia sendiri saja di rumah. Ina, istrinya, tadi pamit untuk pergi berbelanja. Sekitar pukul setengah delapan malam istrinya tiba membawa beberapa barang belanjaan. Setelah makan malam dan berbincang-bincang, mereka masuk ke kamar tidur.

“Pak, tadi aku belanja lingerie, lho. Aku coba ya, Pak.” kode Ina sambil tersenyum genit. Budi menatap istrinya dengan balutan lingerie merah yang seksi itu.
“Me.. merah?” tanya Budi tergagap.
“Iya Pak.. Bapak suka, kan?”
“Biasanya kamu suka warna pink?”
“Iya Pak. Ganti suasana.” kata Ina sambil meredupkan lampu.

Mereka berciuman penuh gairah. Ina mengambil posisi di atas sambil terus melumat bibir Budi.

“Ahhh!!!” tiba-tiba Budi berteriak kesakitan. Ia merasakan darah di mulutnya. Istrinya seketika berubah wujud bagaikan hantu yang mengerikan. Kini dadanya terasa sakit. Penyakit jantungnya mulai kumat. Nafasnya mulai tersengal. Semuanya berubah menjadi gelap gulita. Ina hanya menyeringai menyaksikan suaminya mati perlahan dalam pelukannya.

img2


Flash fiction ini merupakan gabungan prompt #130, Perempuan yang Lewat di depan Rumah dan prompt #131, Horror! Jumlah kata 300 buah mengikuti batasan di Prompt #130, meski di prompt #131 bisa sampai 400 buah kata. Tadinya mau kirim yang 130 lebih dahulu, namun prompt terbaru terlanjur keluar. Jadi akhirnya digabungkan menjadi satu.

Prompt 128: Hubungi Romlah

img1

“Bu, saya mau minta tolong.” kata Amran perlahan.
“Apa masalahmu?” tanya seorang wanita di depannya sambil mengunyah sirih.
“Saya jatuh cinta dengan teman sekantor saya. Tapi saya takut ditolak, Bu. Ibu bisa bantu saya?”
“Mudah itu. Kamu bawa fotonya?”
“Saya bawa. Ada di hp saya.” Amran menyerahkan iPhonenya kepada dukun pelet itu.

Tak berapa lama kemudian dupa di depannya sudah menyala. Bau khas yang aneh itu menyergap hidungnya.
“Maaf, Mas. Tunggu sebentar di luar ya. Bu Romlah butuh konsentrasi. Mari saya antar.” kata asistennya.

Amran menunggu di luar sambil duduk di kursi memandang ke luar. Malam sangat gelap. Jantungnya berdegup kencang.

“Mas, dipanggil Ibu ke dalam sekarang.”
Amran masuk dan langsung duduk bersila di depan Romlah.
“Nak Amran, cinta lewat pelet seperti ini akan pudar. Tiap orang berbeda-beda. Kalau mau saya bisa siapkan pelet kuat untuk mengunci hatinya.”
“Tidak perlu Bu. Seiring berjalannya waktu saya yakin bisa membuatnya jatuh cinta.” tolak Amran dengan yakin.
“Baiklah. Ini ada jamu yang harus kamu minum tepat pukul 12 malam selama satu minggu berturut-turut. Rayuanmu akan mengena di hatinya.”

Sebelum pulang, asistennya menyerahkan sebuah kartu nama sambil berkata, “Mas, jika butuh masukan apapun, hubungi Bu Romlah di nomor ini ya.”

Amran pulang. Ia lakukan semua ritual yang diperintahkan dengan patuh.
Hari Jumat berikutnya, Amran nekad mengajak Intan untuk kencan di luar.
Sejak saat itu hubungan mereka bertambah lengket. Jamunya kebetulan sudah habis. Ia merasa harus menemui dukun itu lagi.
Diambilnya kartu nama yang berisi nomor telepon sang dukun.

“Bu Romlah, saya Amran. Jamunya habis Bu. Bisa minta lagi?”
“Bisa. Datang saja ke alamat yang ada di kartu itu. Saya tunggu jam 11 malam setelah praktik ya.”
“Baik, Bu. Jam 11 malam nanti saya sudah di sana.” kata Amran sambil menutup teleponnya.

Ruang tunggu praktik sudah sepi. Amran dipersilakan masuk ke dalam oleh asistennya.
Ia melihat Bu Romlah sedang duduk di sofa mengenakan baju tipis dan seksi. Ia duduk di sebelahnya.

“Bagaimana, Mas. Jamunya tokcer atau tidak?” tanya Romlah.
“Mantap, Bu. Intan langsung bertekuk lutut. Terima kasih atas semua bantuannya.”

Keduanya berbincang-bincang tentang banyak hal. Tak terasa sudah pukul dua pagi.
Romlah semakin dekat duduknya mendekati Amran. Tiba-tiba Romlah memagut Amran.
Amran tak kuasa menolak. Ia sambut ciuman membara itu dengan tak kalah buas.
Mereka bercinta semalaman hingga kelelahan di ranjang dekat ruang praktik Romlah.
Amran seperti lupa kepada Intan. Lupa pada jamu yang ia pesan. Lupa segalanya.
Ia hanya ingat betapa seksi tubuh dukun itu dan betapa hebat dia di atas ranjang.
Paginya ia terbangun karena silau matahari. Jam menunjukkan pukul 10 di hari Sabtu yang cerah itu. Sesosok wanita yang ia kenal tersenyum kepadanya.

“Intan? Kenapa kau ada di sini?”
“Aku anak bungsu Bu Romlah, Mas. Sudah lama Ibu menjanda. Aku rela melepaskan hubungan kita demi Ibu, Mas.”

Amran lemas teringat jamu yang ia minum setiap malam. Jamu yang selalu membuatnya teringat dengan kartu nama dengan tulisan Hubungi Romlah yang dicetak tebal itu.


Flash fiction mingguan kali ini bertemakan Hubungi Romlah. Jumlah kata 476 buah, dari maksimum 500 kata yang diizinkan. Gambar dari sini.

FFKamis – Jodoh yang Tak Kunjung Tiba

“Bu, carikan aku jodoh. Aku ingin menikah”. Tiba-tiba saja Sundari berkata kepada ibunya.

“Kamu sukanya tipe yang  kayak gimana sih?”

“Gak aneh-aneh kok Bu. Ganteng, dada bidang, mapan, dan baik hati”.

“Hemm.. siapa ya? Anak Bu Condro bulan depan tunangan. Anak Bu Rinto masih mau sekolah S2. Ibu bingung juga nih.”

“Pokoknya Ibu harus carikan. Aku sudah ingin sekali menikah. Malu aku Bu sama teman-temanku. Ibu mau aku dianggap perawan tua?”

“Iya.. Ibu akan bantu sebisa Ibu ya, Nak. Kamu sabar dong”.

“Kalau susah, Om Anto buat aku saja ya Bu?”

“Dasar anak durhaka!!! Itu jodohku! Calon ayahmu. Enak aja!”


img1

Flash Fiction yang menggunakan tepat 100 kata ini adalah kontribusi FFKamis dengan tema Jodoh.