#FFKamis – Tragedi Kolak Biji Salak

Setiap tahunnya, selama bulan Ramadan, hanya takjil kolak biji salak buatan tetanggaku yang kunanti. Ketika azan berkumandang, beduk ditabuh bertalu-talu, dan doa berbuka puasa dipanjatkan, kolak buatan Rina yang cantik itu sudah siap untuk kusantap. Sore itu, Ramadan hari ke-18, rumahnya sudah banyak orang. Luar biasa pikirku. Banyak sekali ternyata yang menyukai kolak biji salakLanjutkan membaca “#FFKamis – Tragedi Kolak Biji Salak”

#FF Kamis – Jones

Malam minggu ini aku mau membunuh nama julukanku. Kau pasti pernah mendengarnya. Jones. Jomblo ngenes. Julukan ini disematkan padaku setelah kegagalan cintaku yang berulang. Ada yang bertahan sebulan dan ada yang seminggu (ini yang paling sering). Aku sudah siap tempur untuk menembak Rani, pujaan hatiku, malam ini.   “Halo, Andi?” suara Rani di seberang telepon.Lanjutkan membaca “#FF Kamis – Jones”

Prompt #113 – Sepotong Cinta dalam Sekuntum Mawar Peach

“Selamat Siang Pak Agus. Boleh minta izin untuk wawancara?” “Siang. Anda siapa?” tanya Agus setengah kaget di tempatnya beristirahat di siang yang cukup panas itu. “Saya Randi dari Jawa Pos tertarik dengan kisah Bapak. Kalau Bapak tidak berkeberatan saya ingin memuat kisah Bapak di kolom khusus media kami.” “Baiklah. Saya mulai dari mana ya?” “TerserahLanjutkan membaca “Prompt #113 – Sepotong Cinta dalam Sekuntum Mawar Peach”

#FFKamis – Kebaya Pertama

Suara dering telepon mengagetkan Rina di kamarnya. “Hai Tamara! Apa kabar?” “Baik, Rin! Eh elo jadi kan datang di Metro TV pagi ini?” “Jadi doong.. Eh gue baru mau pake kebaya nih buat syuting.” “Oke kalau gituu.. ketemu di sana yaa, Cyiin?” “Okeeee.. byeeeee!” tutup Rina. Rina memilih bra,  celana dalam, dan kebaya bermotif batikLanjutkan membaca “#FFKamis – Kebaya Pertama”

#FF Kamis – Inem yang Bawel

“Mar, rumahmu mati lampu, gak?” tanya Inem. “Sekarang? Nggak tuh Nem. Nyala kok.” jawab Marni. “Kamu mah enak. Rumah lega. Viewnya keren. Lah aku? Mana sempit, panas pula!” gerutu Inem. “Apa yang salah coba? Rumah gelap terus. AC mati. Bisa mati aku lama-lama.” “Sabar saja Nem. Kita harus bersyukur apa yang diberikan kepada kita. JanganLanjutkan membaca “#FF Kamis – Inem yang Bawel”

Prompt #109 – Suatu Hari di Kembara Kala

“Selamat datang di Stasiun Kembara Kala. Ada yang bisa kami bantu?” tanya seorang penjual tiket kereta. “Satu tiket Mas.” jawab Kelana. “Tujuan?” “Kota Tegal, 23 tahun lalu, posisi latlong 6°52’01.9″S 109°08’33.4″E, pukul 16:00 WIB.” “Satu kali jalan, atau return?” “Satu kali jalan saja. Nanti tiket kembali saya beli dari sana.” Kelana sengaja meminta kedatangan diLanjutkan membaca “Prompt #109 – Suatu Hari di Kembara Kala”

Prompt #110 – Surga Dunia

“Dina, mau tidak bertemu Ibu?”, tanya Ian kepada putrinya pada suatu hari libur setelah mereka selesai sarapan. “Bukankah.. Ibu sudah lama di surga, Yah?” “Karena izin Tuhan, kita bisa bertemu kembali dengan Ibumu.” “Benarkah? Ayah tidak sedang berbohong, kan?” “Tidak, sayang. Mari kita temui Ibu di Rumah Sakit.” “Horeeeee!!! Aku kangen sekali sama Ibu!!” teriakLanjutkan membaca “Prompt #110 – Surga Dunia”

Prompt #108 – Karma

“Rara, cepat pakai sepatumu. Nanti kamu terlambat ke sekolah!” “Baik, Ma!”, jawab anakku sambil mengambil sepatunya. Aku selalu menyembunyikan perasaaanku setiap kali melihat senyumnya yang manis. Persis seperti senyum ayahnya. Matanya yang tenang dan menghanyutkan adalah duplikat yang sempurna. Hati ini selalu sesak bila teringat hari ketika ayahnya pergi dari kehidupanku untuk selamanya. Kalimat terakhirnyaLanjutkan membaca “Prompt #108 – Karma”

#FF Kamis – Menang Tender

“Mah, alhamdulillah project Papah goal, Mah! Project yang sudah lama Papah harapkan!”, teriak Toni pada istrinya via telepon. Istrinya tetap bergeming, meneteskan air mata. Tanpa suara. “Mah, mengapa diam saja? Mengapa kau menangis, Mah? Harusnya Mamah gembira!”, lanjut Toni tak habis pikir. “Bertahun-tahun kita berusaha agar project ini bisa kita dapatkan dengan susah payah. Setelah kitaLanjutkan membaca “#FF Kamis – Menang Tender”

Prompt#107 – Dompet Simalakama

“Bang! Bang! Stop bentar Bang!” kataku pada Abang Gojek yang kunaiki. Aku turun nyaris melompat dari motor dan segera berlari beberapa meter di belakang motor. Kupungut dompet dari jalan yang terkena cipratan lumpur beceknya jalanan. Sesampainya di rumah kulihat-lihat isi dompet yang baru kutemukan tadi. “Dompet siapa itu, Wan?”, tanya ibuku dari sofa. “Nggak tahu,Lanjutkan membaca “Prompt#107 – Dompet Simalakama”