Prompt#107 – Dompet Simalakama


“Bang! Bang! Stop bentar Bang!” kataku pada Abang Gojek yang kunaiki.

Aku turun nyaris melompat dari motor dan segera berlari beberapa meter di belakang motor. Kupungut dompet dari jalan yang terkena cipratan lumpur beceknya jalanan.

dompet

Sesampainya di rumah kulihat-lihat isi dompet yang baru kutemukan tadi.

“Dompet siapa itu, Wan?”, tanya ibuku dari sofa.

“Nggak tahu, Bu. Nemu tadi di jalan. Ada uangnya banyak bener nih”, jawabku.

“Kembalikan pada yang punya ya, Nak. Insya Allah itu lebih baik bagimu. Semoga Allah SWT membalas amal perbuatanmu”, nasihat Ibuku seperti biasa.

“Insya Allah, Bu. Ini lagi cari informasi dari dalam dompet ini. Semoga lengkap surat-suratnya.”

Keesokan harinya aku pamit pada Ibu untuk mengembalikan dompet yang jatuh kemarin.

“Assalamu ‘alaikum!”.

“Wa ‘alaikum salam!”

Seorang gadis cantik keluar dan membuka pintu pagar untukku.

“Mau mencari siapa, Mas?”, tanyanya lembut. Matanya begitu indah. Gelagapan aku tak menyangka ada makhluk secantik ini. Semoga bukan siluman, Ya Allah.

“Ee.. maaf, Mbak. Apa ini rumah Pak Suryomenggolo Jalmowono?”, tanyaku salah tingkah.

“Oh benar, Mas.. ini memang rumah beliau, Ayah saya. Ada yang bisa dibantu?”, tanyanya penuh keingintahuan.

“Saya menemukan dompet Bapak yang terjatuh”.

“Oh ya Allah.. benar.. kemarin Bapak kehilangan dompetnya. Alhamdulillah ketemu. Mari masuk dulu Mas. Bapak kebetulan ada di rumah. Ayo masuk dulu, Mas!” katanya bersemangat penuh kegembiraan.

Sejak saat itu aku dekat dengan Fiona, anak Pak Suryo. Benar-benar rezeki anak sholeh. Nemu dompet dapat pacar. Alhamdulillah, rejeki memang nggak ke mana.

“Say, mau nggak kukenalkan dengan Ibuku?”, tanyaku.

“Mau dong, Mas. Aku justru khawatir kau tak mau mengenalkanku pada orangtuamu”, jawabnya manja. Jantungku empot-empotan.

“Bu, ini Fiona. Fiona, ini ibuku.”

Keduanya bersalaman lalu mereka berdua mengobrol di ruang tamu. Begitu akrab. Hatiku berwarna-warni.

“Tante, ini foto kami sekeluarga”, kata Fiona sambil menunjukkan foto keluarganya dari iPhonenya.

“Masya Allah! Fiona… ayahmu…. adalah ayah Iwan juga…”, teriaknya tergagap.


Cerita yang mengandung tepat 300 kata di atas ditulis sebagai partisipasi Flash Fiction di link ini. Tulisan ini adalah tulisan perdana, terinspirasi dari rajinnya Om Jampang mengikuti gaya penulisan jaman ini yang serba cepat, serba ringkas, dan serba unik. Semoga istiqomah 🙂

 

Iklan

Posted on Maret 17, 2016, in Flash Fiction and tagged , , . Bookmark the permalink. 33 Komentar.

  1. Hai mas Wisnu, alamat facebooknya apa ya? Biar kami invite di grup 😉

  2. Mas Firas ya.. Udah aku add tuh 🙂

  3. Waduh, ternyata mereka satu ayah… makin rumit deh rasa kasmaran ny.. hihiks

  4. Yah…. Ternyata sedarah.

    Mas wisnu… Si firas alias jun itu salah satu admin atau PICnya group Monday Flashfiction di FB

  5. mas bisa ga aku dapatin aplikasi sistem informasi posyandu versi terbaru???

    Pada tanggal 17/03/16, Untold Contemplati

  6. Masih bisa escape Wis…, siapa tau Fionanya bukan anak ayahnya 😀 😀
    *hasil kebanyakan nonton sinetron ga mutu heuheuheu

  7. Ini kayanya ide tulisan ini keluar gara2 tidur gak berdoa dulu nih, makanya mimpinya buruk, tapi bisa jadi ide tulisan hahaha…

  8. Salam kenal mas, btw itu si iwan ga tahu nama bapaknya sendiri?

  9. Ahay.. Sodara misah emak 1 bokap.

  10. Sudah lumayan bagus untuk sebuah karya perdana. 🙂

  11. yah, cinta tersandung nih ckckckckck

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: