Prompt #109 – Suatu Hari di Kembara Kala


Img2

“Selamat datang di Stasiun Kembara Kala. Ada yang bisa kami bantu?” tanya seorang penjual tiket kereta.

“Satu tiket Mas.” jawab Kelana.

“Tujuan?”

“Kota Tegal, 23 tahun lalu, posisi latlong 6°52’01.9″S 109°08’33.4″E, pukul 16:00 WIB.”

“Satu kali jalan, atau return?

“Satu kali jalan saja. Nanti tiket kembali saya beli dari sana.”

Kelana sengaja meminta kedatangan di Stasiun Tegal jam 4 sore karena ia tahu tempat penjual ketupat glabed favoritnya buka setelah waktu Ashar. Perjalanan waktu selama itu akan menghabiskan energi yang tidak sedikit. Rasa mual yang timbul akan dia lawan dengan sepiring ketupat glabed dengan sate kerang pedas dan secangkir teh tawar hangat.

Kelana duduk di peron 1, di samping seorang lelaki tua berusia sekitar 70 tahunan.

“Mau pergi ke mana, Mas?” tanya lelaki tua itu.

“23 tahun yang lalu, ke Tegal, Pak. Bapak sendiri mau ke mana?”

“Kemarin sore, Mas. Ke sini juga. Pukul 17:00.”

“Loh? Ada apa kalau boleh tahu?”

“Hehehe.. Saya kemarin malam marah kepada istri saya, dan saya sangat menyesalinya. Saya akan kembali ke kemarin sore, lalu pulang ke rumah, dan akan saya ubah reaksi saya pada kekhilafan dia.”

“Ohh.. begitu. Bapak pasti sangat mencintai istri Bapak. Rela pergi ke masa lalu hanya karena ingin memperbaiki kesalahan kecil seperti itu.”

“Ya, saya sangat mencintainya. Saya sudah berusaha sedapat mungkin untuk tidak perlu menggunakan jasa kereta api Kembara Kala ini. Tapi saya tidak bisa tidur semalaman mendengarkan ia menangis terisak sampai pagi. Mas sendiri jauh-jauh kembali ke masa lalu untuk apa?”

“Saya ingin mengucapkan isi hati saya kepada seorang wanita yang saya cintai, namun tak pernah saya berani untuk mengutarakan cinta kepadanya. Ia akhirnya menikahi sahabat saya sendiri karena mengira saya tak pernah punya rasa kepadanya. Padahal saya baru tahu setelah sama-sama punya keluarga, bahwa ia juga mencintai saya.”

“Jika kau kembali, dan ia akhirnya jatuh cinta padamu, maka kehidupannya di masa kini dan kehidupanmu dengan keluargamu akan berbeda. Apakah kau sungguh-sungguh ingin melakukannya?”

“Saya tak peduli Pak. Saya tidak bisa memaafkan diri saya sendiri yang begitu pengecut untuk menyatakan cinta kepadanya. Saya tidak ingin merana seumur hidup saya.”

“Ingat pesan saya, tidak ada cinta yang sempurna. Yang ada adalah seseorang yang cukup sempurna untuk kita cintai.”

Kelana terdiam dan terperangah. Tak pernah ia memikirkan hal ini. Sesungguhnya ia cukup bahagia dengan istri dan anaknya. Mungkin ia hanya merasa jenuh atau merasa bisa lebih bahagia bila ia bisa hidup bersama dengan cinta pertamanya.

“Bapak benar. Saya terlalu emosi. Perasaan ini timbul setelah saya bertengkar dengan istri saya lalu tanpa sengaja wanita yang saya cintai di masa lalu bertemu di mal secara tidak sengaja. Dari perbincangan kami, saya mengetahui bahwa ternyata dia juga pernah ada hati sama saya.”

Kelana meremas tiket yang sudah ia beli dan ia robek-robek hingga kecil-kecil lalu ia buang di tempat sampah.

“Baik, Pak. Terima kasih banyak atas nasihatnya. Saya pamit dulu.”

Setelah Kelana pergi lelaki tua itu terkekeh sendiri di kursi peron 1 itu.

Dalam hatinya ia membatin, “Baru kali ini aku bicara dengan diriku sendiri yang lebih muda. Untungnya aku tidak keras kepala.”


Tulisan ini dibuat sebagai bentuk partisipasi Monday Flash Fiction ini.
Iklan

Posted on April 5, 2016, in Flash Fiction and tagged , . Bookmark the permalink. 22 Komentar.

  1. seandainya kita bisa memutar waktu

  2. Niat baik untuk memperbaiki kekurangan dimasa lalu belum tentu hasilnya akan lebih baik dari kehidupan yang kita jalani saat ini, baiknya memang kita syukuri apa yang kita jalani saat ini dan melihat kedepan ketimbang menyesali apa yang tertinggal dimasa lampau.. Saya suka dengan bagian akhir dari cerita ini.

  3. konfliknya kurang dalam pak wis, hanya dengan 1 – 2 kalimat, langsung berubah niat :), tapi karena terbentur maksimal 500 kata… dapat dimaklumin. saya suka twist di akhirnya

  4. Sampai sebelum baris terakhir, cerita science fiction biasa…tapi kekuatan cerita memang diendingnya…selamat Pak Wis, cerita yang menyentuh dan juga berhasil membuat surprised ending yang baik.

  5. Kombinasi cerita “About Time” dan “Predestination”

  6. Apik…

  7. katarsis yang mantap mas, tapi saya ingin tuh naik kereta kaya gitu… ada yang ingin dibenahi di masa lalu.. kwkw

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: