Mengetuk Nurani Melalui Film Drone (2017)

Film terbaru yang diimpor Indonesia Entertainment Group berjudul Drone yang dibintangi oleh Sean Bean (Lord of The Rings, Game of Throne). Film ini mengingatkan pada film serupa, Eye in the Sky (Helen Mirren, Aaron Paul, Alan Rickman). Meskipun temponya tidak secepat Eye in the Sky, Drone tetap mengingatkan kita akan arti kemanusiaan.

drone.jpg

Drone di kedua film di atas bukanlah drone yang menyenangkan. Kita mungkin sehari-hari familiar dengan drone untuk mengambil video atau foto kegiatan outdoor. Drone dalam film ini digunakan untuk memantau dan jika perlu membunuh sasaran tertentu, baik akan mencelakai orang tidak berdosa di sekitarnya atau tidak. Para korban tak berdosa yang sering disebut collateral damage, membuat kita berpikir, sesungguhnya kita tengah mencegah korban jiwa yang lebih besar dengan cara yang baik atau tidak. Teroris sering berkilah bahwa korban sipil yang terjadi akibat aksi mereka adalah collateral damage, demi menghentikan kezhaliman yang lebih besar. Di sini kita bertanya, sebenarnya pelaku penembak dengan drone ini berprinsip sama dengan teroris atau tidak? Jika untuk mengatasnamakan pembasmian teroris lalu memakan korban rakyat jelata yang tak berdosa, maka apakah kita tidak sekejam teroris itu sendiri? Mengapa kita tidak mengambil langkah yang lebih jantan? Tantang langsung, dan usir yang tidak berkepentingan, agar tidak menjadi korban tak berdosa.

Ceritanya gini…

Lanjutkan membaca Mengetuk Nurani Melalui Film Drone (2017)

Nobar The Last Word (2017)

Besok malam film The Last Word akan tayang Premiere khusus undangan saja.

Saya memiliki dua tiket gratis bagi siapapun yang berminat nonton di CGV Grand Indonesia besok malam jam 18:30.

Film bergenre drama komedi ini dibintangi Amanda Seyfried dan Shirley MacLaine.


Saksikan trailernya di https://youtu.be/AthlyFc79T0

Oh ya kalau tertarik gabung nobar, share artikel ini di Facebook status kalian (publik akses) atau Twitter atau Instagram ya.. share link status kalian di komentar di bawah ini dengan email dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

Ceritanya bagaimana seorang penulis obituari diminta menuliskan kehidupan seorang wanita tua yang ngeselin dan begitu banyak yang membencinya. Seru kan?

See you there!

Update: quota sudah habis 🙂

Sepiring Nasi Putih dan Azab Kubur

QS Al Zalzalah 7-8
Kejadian ini diangkat dari kisah nyata. Untuk melindungi individu yang terlibat dalam cerita ini, saya akan menyamarkan identitas dengan nama lain. Jika ada kesamaan kisah dengan nama para tokoh, mungkin Anda memang terlibat dalam konspirasi ini.
Pada suatu siang yang mendung, Woko, Setio, Nowo, dan Donal makan siang di restoran favorit mereka, Itasuki. Resto ini menurut mereka paling enak kuah sambal coklatnya. Woko pernah makan di SukaSuki yang murah meriah, namun kualitas kuahnya tidak bisa menyaingi kuantitasnya. Setelah memesan berbagai topping untuk kuah tomyam, mereka memesan minum masing-masing. Setio yang masih kelaparan rupanya butuh tambahan kalori berupa nasi putih. Makanan ditutup dengan desert yang yummy, cakwe mayonnaise. Enak banget buat mengakhiri makan siang yang penuh dengan peluh itu.
Setelah sampai di kantor mereka segera membagi jatah yang harus dibayar masing-masing. Setelah diteliti rupanya Setio menemukan bahwa tambahan nasi putih tidak tertagih. Akhirnya Woko dan Setio memutuskan untuk kembali ke Itasuki setelah jam kantor untuk membayar nasi putih yang lupa ditagihkan. Banyaknya pengunjung siang itu membuat pelayan saji lupa menambahkan ke tagihan. Mereka tahu bahwa mereka harus berjalan kembali dari kantor ke restoran hanya untuk membayar nasi putih yang sebenarnya cukup melelahkan. Namun mereka sadar bahwa ada hak restoran Itasuki di sana. Setio khawatir nasi yang ia makan akan menjadi api karena mengandung hak orang lain. Mereka khawatir Allah SWT akan menanyakan integritas mereka di liang kubur kelak. Mereka tidak mau diazab dalam kubur hanya karena sepiring nasi. Sangat tidak sebanding.
Sepulang kerja Woko dan Setio langsung pergi ke Itasuki. Woko langsung masuk, menyeruak di tengah meja kasir yang kala itu dipenuhi pekerja Itasuki.
Woko, dengan mimik serius, bertanya kepada salah seorang wanita di meja itu, “Bisa saya bicara dengan supervisor Anda?”
Wanita itu menjawab, “Maaf, supervisornya sedang tidak ada.” Sebersit kekhawatiran mulai timbul di raut wajahnya.
Woko, “Baiklah, bisa saya bicara dengan Anda? Mohon Mbak bisa ke meja di pojok sana. Saya mau protes dengan tagihan siang tadi”.
Wanita itu menjawab dengan penuh tanda tanya. Salah apa mereka hingga mendapat keluhan dari pelanggan.
“Silakan duduk, Pak”, kata wanita itu dengan rasa waswas.
“Mbak tahu, tagihan siang ini bisa mengakibatkan kami mendapat siksa kubur?”, sergap Woko dengan intonasi tegas dan mimik serius.
Wanita itu terbengong-bengong, mulutnya menganga, antara bingung dan panik.
“Kami tadi memesan 5 nasi, namun hanya ditagihkan 4 nasi saja”, jelas Woko.
Wanita itu mulai tertawa kecil, ada lega di wajahnya.
“Mbak, kami serius. Tolong jangan tertawa. Mungkin buat Mbak sepiring nasi putih tidak ada artinya. Namun itu sangat besar artinya buat kami, Mbak. Apa yang kelak akan kami jawab di depan Allah SWT, akan nasi putih yang kami makan namun tidak kami bayar? Bahkan saya pernah mendengar cerita ada yang disiksa di dalam kubur mulutnya hingga berdarah hanya karena seseorang mengambil bambu kecil dari pagar rumah orang lain tanpa izin. Apalagi sepiring nasi putih? Itu bisa menjadi api dalam tubuh kami, Mbak! Tolong anggap serius permohonan kami, beritahu berapa yang harus kami bayar untuk sepiring nasi putih ini?”
Wanita itu kembali tertawa lepas, seolah sejuta beban hilang dari pundaknya.
“Maaf, ya Pak. Tadi pengunjung ramai sekali datang, sehingga mungkin pelayan kami ada yang lupa menambahkannya”, kata wanita itu.
“Iya, saya juga melihat, Mbak. Sepertinya banyak yang ulang tahun hari ini.”, kata Woko sambil cengengesan, merasa keusilannya berbuah manis. Di satu sisi hutang mereka lunas, di sisi lain wanita yang rupanya sedang hamil itu tidak mbrojol di tempat.
Setio hanya geleng-geleng kepala cengar-cengir melihat keisengan Woko yang sepertinya sudah akut itu. Akhirnya setelah nasi putih itu dibayarkan, mereka berdua meninggalkan restoran dengan hati lega. Mereka yakin bahwa amal kecil seperti ini tidak boleh diremehkan, karena bisa jadi dengan amalan yang kecil ini menjadi penentu apakah mereka layak masuk surgaNya kelak atau tergelincir ke dalam neraka yang mengerikan. Mereka hanya berharap Allah SWT sudi menerima amalan kecil ini dan dikategorikan sebagai ladang ibadah.
Itasuki Kuah Tomyam
Itasuki Kuah Tomyam

Berikut ini adalah ayat Al Quran yang selalu terbayang dalam pikiran Woko sepulang dari restoran.

Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck (2013)

Film epik nasional yang diangkat dari karya besar karangan Buya Hamka ini cukup patuh dengan novelnya. Disutradarai oleh Sunil Soraya dan dibiayai oleh keluarga Soraya (Ram Soraya, Rocky Soraya, dan Sunil Soraya sendiri), film berdurasi 2 jam 45 menit ini akan memaku penonton di kursinya. Yang pria akan berkaca-kaca, yang wanita akan banjir air mata.

Ceritanya berkisah tentang kisah cinta antara Zainuddin dan Hayati yang berlatarbelakang budaya minang. Ibu Zainuddin bukan orang Minang sementara ayahnya Minang tulen. Karena budaya Minang menganut garis matrilinieal maka Zainuddin yang tidak beribu orang Minang dianggap tidak layak untuk menikahi Hayati. Harta tiada, adat pun tak tentu rimbanya. Kasih yang tak sampai, seperti cinta Sitti Nurbaja dengan Samsulbahri. Cinta mereka kandas dengan diusirnya Zainuddin, sang pendatang, dari Desa Batipuh tempat mereka tinggal. Apakah mereka akan bersatu kelak di kemudian hari? Saksikan kisah cinta yang mengharukan ini di bioskop kesayangan Anda.

Mengapa film ini menjadi istimewa? Mari kita lihat satu persatu.

1. Sinematografinya yang meski tidak sempurna (ada beberapa adegan yang terasa under exposure), namun menggambarkan dengan sangat baik keindahan alam Minang

2. Akting yang luar biasa dari para pemainnya, terutama Herjunot Ali yang berperan sebagai Engku Zainuddin.

3. Kepatuhan akan cerita aslinya. Sebagai karya adaptasi dari novel, film ini tidak menghilangkan bagian penting dari novelnya. Apa yang saya bayangkan cukup baik divisualisasikan dalam bentuk motion picture.

4. Pemilihan dialog yang indah, sesuai dengan  karya sastra aslinya. Terima kasih kepada para penulisnya, Donny Dhirgantoro, Riheam Junianti, Sunil Soraya, dan Imam Tantowi yang bekerja keras membuat dialognya enak dinikmati

5. Setting yang cukup baik, terutama kostum dan kendaraannya. Meskipun ada anachronism di beberapa tempat, seperti musik pesta, ban mobil klasik, dsb, itu semua bisa dimaklumi

Buat Anda pecinta film, jangan lewatkan film ini! Pastikan bawa perbekalan karena film ini cukup panjang, hampir 3 jam. Bawa cemilan atau cemolan, juga tissue atau sapu tangan.

Flight (2012)

Film paling gres dari Robert Zemeckis (Forrest Gump, Cast Away) ini dibintangi oleh Denzel Washington (Training Day, American Gangster). Ceritanya lumayan simple. Denzel memerankan sebagai Kapten Whip Whitaker, pilot sebuah maskapai penerbangan. Suatu pagi ia menerbangkan pesawat yang naas, mekaniknya ada masalah sehingga menyebabkan pesawatnya menukik tajam. Beruntung naluri dan kemampuan terbang yang luar biasa yang dimilikinya membuat sebagian besar penumpang dan awak selamat. Ia menjadi pahlawan dan buah bibir nasional sampai ditemukan kadar alkohol yang cukup tinggi dalam darahnya. Akankah ia dipenjara atau ia berdusta dalam hidupnya.

Film ini lumayan mudah untuk dicerna. Temponya juga sedang, tidak membosankan dan tidak pula terlalu cepat. Banyak dialog humor yang mengocok perut, seperti di rumah sakit ketika Kapten Whitaker bertemu dengan pasien lain penderita kanker di rumah sakit. Ketika si pasien kanker meminta rokok, ia menyalahkan dirinya sendiri dengan berkata, “Seharusnya aku tidak merokok, karena kankerku bisa kena kanker”. LOL. Juga ketika adegan John Goodman mengantarkan kokain pesanan Denzel Washington yang mengocok perut. Coba simak beberapa dialognya yang kocak abis:

 

Harling Mays: What the hell kind of meds they giving you? Alprazolam: that’s generic xanax. Hydrocodone: that’s generic Vicodin. Probably Canadian. Where’s the dihydromorphine? Is this amateur hour? Get that doctor in here; you just saved a hundred people! 
Whip: Harling! Did you bring my smokes? 
Harling Mays: Yes I did. I got your medicines, and yes I got your smokes right here. Here’s a fresh carton. Hell, if I was you, I’d fire up right here in the damn room.

Harling Mays: Oh! Oh, almost forgot- I got you some stroke mags. Been in the hospital, know what you need. Got Juggs, Hot Milfs and Eat Ass Masters. You just stroke it all day- you’re a hero. If I was you, I’d just lay here, pulling on that thing all day long.

Akting yang prima dari Denzel membuatnya mendapatkan nominasi Best Actor di Academy Award yang akan diumumkan beberapa jam lagi. Ia akan bersaing keras dengan Daniel Day Lewis yang menggondol actor terbaik di Choice Movie Awards untuk perannya di Lincoln.

Inti dari film ini adalah alkohol itu sangat buruk akibatnya, sehingga di Islam alkohol diharamkan. Hal yang kedua adalah mengenai integritas, menyatakan konsistensi antara fakta dan yang diucapkan dengan lisan. Itulah pesan moral yang hendak dibawa dalam film berdurasi 138 menit ini.

Selamat menonton 🙂

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Les Miserables (2012)

Film ini diangkat dari novel karya Victor Hugo yang sangat terkenal di jamannya. Mas Victor ini asli Perancis, lahir tahun 1802, kira-kira ketika Pangeran Diponegoro mencapai sweet seventeen. Karyanya yang berjudul Les Miserables ini artinya lebih kurang adalah orang-orang yang menderita, telah difilmkan puluhan kali di lebih dari 40 negara. Les Miserables pernah difilmkan Holywood sebelumnya sekitar tahun 1998. Saya termasuk yang suka sekali dengan film ini. Ketika film ini kembali difilmkan oleh Tom Hooper yang sukses dengan film The King’s Speech (2010), saya kembali tertarik untuk menontonnya. Beda dengan film sebelumnya, versi kali ini dibuat dalam bentuk musikal. Buat mereka yang susah menghayati film musikal, mungkin sebaiknya menonton (dulu) yang versi 1998.

Kisahnya bercerita tentang seorang lelaki bernama Jean Valjean yang dipenjara selama 20 tahun karena mencuri sepotong roti untuk keluarganya.  Begitu keluar dari penjara, ia mengalami kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan karena riwayatnya yang pernah menjadi narapidana. Sampailah ia pada sebuah rumah milik pendeta yang memberikan ia makanan dan minuman. Keesokan paginya ia kabur membawa peralatan makan perak milik si pendeta dan tertangkap oleh polisi yang membawanya kembali ke rumah pendeta, karena ia mengaku tidak mencurinya melainkan diberi oleh sang pendeta. Tanpa diduga sang pendeta membenarkan apa yang dikatakan Valjean bahkan menambahkan beberapa peralatan yang dikatakannya tertinggal. Tersentuh oleh kasih sayang sang pendeta, Valjean bertekad ingin menjadi orang yang baik mulai saat itu. Dari situlah cerita mulai bergulir di mana ia terus memberikan cinta kasih kepada sesamanya, termasuk kepada seorang wanita bernama Fantine yang terpaksa melacurkan dirinya demi membebaskan anaknya yang ia titipkan pada orang lain karena masalah hutang. Berbagai konflik datang silih berganti hingga akhir hayatnya, termasuk inspektur polisi bernama Javert yang diperankan Russel Crowe, yang terus memburunya karena Valjean tidak melaporkan secara rutin ke kepolisian setelah ia bebas. Cerita lengkapnya akan lebih asyik kalau Anda menonton langsung sendiri filmnya.

Keunggulan film ini ada pada kehebatan akting dan suara Hugh Jackman (Wolverine) yang memerankan Jean Valjean dan Anne Hathaway (Dark Knight Rises) yang memerankan Fantine. Keduanya diganjar Golden Globe 2013 belum lama ini karena totalitas aktingnya. Susah loh, berakting sambil menyanyi. Kalau nggak jago, hasilnya menyonyo. Sacha Baron Cohen menjadi satu-satunya aktor yang bisa membuat kita tertawa dalam kepedihan film ini. Casting yang luar biasa. Sacha memerankan tokoh lelaki yang dititipi anak Fantine yang bernama Cosette.

Oh ya, pernah lihat video Susan Boyle yang mencengangkan umat manusia di ajang acara Britain Got Talent ini? Nah lagunya yang fenomenal dan grande yang berjudul I Dreamed a Dream itu dinyanyikan dengan super duper totally amazing oleh Anne Hathaway pada adegan yang sangat luar biasa pas. Dulu ketika mendengarkan videonya Susan Boyle aku tahu ini lagu sedih tapi belum pernah merasakan pasnya lirik lagu ini selain di adegan Fantine berduka dengan nasibnya yang kurang beruntung itu. Pada saat film menjelang berakhir, aku ambil iPad dari tas, buka iTunes, search Susan Boyle, Pilih I Dreamed a Dream, Klik Buy, isi password, lalu aku masukkan iPad kembali ke tas. Setelah film selesai lagunya selesai terunduh dan aku putar sepanjang perjalanan pulang ke rumah. Superb, bikin merinding dan hati banjir.

Well, di samping kepiawaian Tom Hooper mengarahkan film ini, ada beberapa hal yang menurut saya agak kurang. Pertama, hampir seluruh dialognya dibuat musikal. Padahal banyak film lain yang musikal hanya di beberapa bagian penting. Dengan durasi 2 jam 37 menit, beberapa adegan memang tampak membosankan kalau dinyanyikan. Dengan sedikit editing untuk menjadikan film ini di sekitar 2 jam, hasilnya mungkin akan lebih lovable. Russle Crowe sebenarnya cocok menjadi inspektur polisi Javert yang kaku itu. Namun sayang kemampuan tarik suaranya paling pas-pasan dibalik aktor lainnya.

Eniwei baswei, buat Anda pecinta film berkualitas, jangan lewatkan film ini. Siapkan tissue atau minimal jangan pake You Can See agar lengan baju bisa digunakan untuk menyeka butiran air mata yang akan menggenangi sudut pelupuk mata dan rongga hati Anda. Lebay? No. Totally recommended, 8/10. Ketika review ini ditulis, film ini mendapat 8 nominasi Oscar. Kita lihat nanti dapat berapa Februari nanti.

Saya cuplikkan lirik lagu I Dreamed a Dream yang sangat saya suka ini.

I Dreamed a Dream

I dreamed a dream in times gone by
When hope was high
And life worth living
I dreamed that love would never die
I dreamed that God would be forgiving
Then I was young and unafraid
And dreams were made and used and wasted
There was no ransom to be paid
No song unsung No wine untasted

But the tigers come at night
With their voices soft as thunder
As they tear your hope apart
And they turn your dream to shame

He slept a summer by my side
He filled my days with endless wonder
He took my childhood in his stride
But he was gone when autumn came

And still I dream he’ll come to me
That we’ll live the years together
But there are dreams that cannot be
And there are storms we cannot weather
I had a dream my life would be
So different from this hell I’m living
So different now from what it seemed
Now life has killed the dream I dreamed

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

The Impossible (2012)

Semalam nonton bersama keluarga film yang diangkat dari kisah nyata tentang tsunami di tahun 2004. Ceritanya berkisah tentang sebuah keluarga, suami, istri, dan 3 orang anak lelaki yang berlibur ke Thailand. Ketika tsunami terjadi mereka semua sedang di kolam renang tidak jauh dari pantai. Mereka berlima tersapu ombak dan terpisah satu sama lain. Film ini menceritakan bagaimana mereka berlima akhirnya bisa dipersatukan kembali melalui perjuangan dan harapan.

Film ini berbeda dengan  film fiksi yang dibintangi Matt Damon, Here After, yang juga diawali tsunami di Thailand. Here After lebih kompleks dan terdiri atas beberapa cerita pararel yang saling berkaitan. The Impossible ceritanya lebih sederhana, namun karena dibangun dari kisah nyata, kita bisa ikut merasakan jika seolah-olah berada pada posisi mereka. Dihantam ombak, ditimpa bangunan, tertusuk dahan kayu, terkena pecahan kaca, terhimpit mobil, paru-paru kemasukan lumpur, dan sebagainya. Lolos dari tsunami peluangnya sangat kecil. Sekeluarga terdiri dari 5 orang dan semuanya selamat, mendekati mustahil, The Impossible. Namun bagi kita yang beriman, tidak ada yang mustahil dalam rencana Allah SWT. Ada hikmah di balik setiap tragedi.

Dari film ini kita mendapat pelajaran bahwa dalam kondisi bencana, kita diuji apakah kita masih peduli pada sesama atau hanya memikirkan kepentingan diri sendiri. Kita belajar untuk tidak egois dan mementingkan sesama daripada kepentingan diri sendiri. Dan kita semua belajar mempersiapkan hari kematian kita masing-masing, agar setiap detiknya senantiasa bermakna.

Film The Impossible menghadirkan kualitas akting prima dari Ewan Mc Gregor dan Naomi Watts yang menjadi orang tua dalam keluarga tersebut. Tom Holland (Billy Elliot) yang berperan sebagai anak pertama mereka juga menunjukkan kualitas akting prima.

Sebuah film yang sangat mengharukan dan mengajarkan kepada kita untuk peduli pada sesama serta menghargai setiap detik sisa umur kita.

Recommended for family, 7 / 10.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.