Phoneography and Non-SLR Digital Devices Photo Challenge: Foodography (My Lunch Box)

The last Monday of May 2014’s challenge was one of Abstraction, Animals, Architecture, Food Photography, Night Photography, Objects, Portraiture, Still Life, Street Photography, and Travel. I choose to share my lunch box that I brought from home to my office.

In the top left : shrimps. Top right : broccoli. Middle : soy sauce with chilies. Bottom left : brown rice. Bottom right : fried tofu.

Do you think it is healthy enough?

My Lunch Box
My Lunch Box

Phoneography and Non-SLR Digital Photo Challenge: Nature (Beach, Here We Come!)

This week’s challenge is Nature, the first Monday of the month. I took those pics using iPhone during my camping vacation with my colleague, Dony Alpha.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

We rode a folding bike from our home to train station, traveling around 100 km using train, and riding the bike around 20 km plus one public transportation to the beach and camping there. Total riding the bike was around 35 km. Not bad to burn some fat 🙂

Camping di Tambang Ayam – Anyer

Minggu lalu saya dan Dony Alpha, teman sekantor, pergi camping di Tambang Ayam, Anyer. Tadinya mau naik Gunung Pangrango, namun karena banyak rekan lain yang berhalangan, jadi kami putuskan untuk mencari alternatif kegiatan outdoor. Kebetulan sejak lama saya ingin mencoba naik kereta ke arah Merak. Seperti apa sih rasanya? Seberapa jauh? Seberapa baik kualitas keretanya? Di samping itu saya juga suka naik sepeda menggunakan sepeda lipat Doppleganger keliling kompleks rumah atau bahkan ke kantor. Jadi diputuskan kegiatan outdoor kami yaitu camping di pantai Anyer, membawa sepeda lipat, dan naik kereta! Unik, bukan? (Itu alasannya kenapa kami tidak menggunakan motor atau mobil dan tidak menginap di villa di sana).

Di Stasiun Rawa Buntu
Selfie di Stasiun Rawa Buntu

Okay, planningnya adalah sebagai berikut:

Kami masing-masing naik sepeda dari rumah ke stasiun terdekat (saya ke Stasiun Rawa Buntu, Dony ke Stasiun Kebayoran Lama). Tempat bertemunya di Stasiun Tanah Abang, karena kereta menuju Merak berangkat dari Tanah Abang, yaitu Kereta Kalimaya. Karena kami tidak tahu bahwa kalau ke Anyer jalur terdekat harus turun di Stasiun Krenceng, kami akhirnya turun di ujung, di Stasiun Merak. Namun kami tidak kecewa tiba di sana melihat indahnya pantai di dekat pelabuhan sana. Kereta berangkat dari Stasiun Tanah Abang pukul 9:30 dan sekitar 11:30 sampai di sana.

Setelah istirahat sambil menjamak sholat Dzuhur dan Ashar, kami melanjutkan perjalanan dengan naik sepeda. Sekitar 4 km dari Merak kami berhenti di warung Muncul Jaya, yang menjual sate dan sop khas Tegal. Sop dan sate ayam yang kami pesan sangat memuaskan dalam hal rasa dan harga. In shaa Allah ingin mencoba kembali ke sini lain kali.

Sup Ayam 13 ribu
Sup Ayam 13 ribu – super nampol

Setelah bersepeda sekitar 18 km, melintasi kawasan industry Krakatau Steel, perjalanan dengan sepeda lumayan berat. Siang hari sangat terik, jalan penuh debu, bersaing dengan bis dan truk besar. Sepeda Dony sempat bermasalah di pedalnya untungnya mendapat bantuan dari para supir di kawasan KS sehingga bias melanjutkan perjalanan. Begitu keluar dari kawasan industri kaki saya mengalami kram. Langsung saya tempel koyo agar hangat. Dalam waktu 5 menit kembali normal. Waktu sudah menunjukkan jam 4 sore. Kami masih cukup jauh menuju Pantai Tambang Ayam, sekitar 20 km lagi. Jika dipaksakan menggowes sepeda, maka ada resiko sampai sana matahari sudah tenggelam, akibatnya akan kesulitan mendirikan tenda. Kebetulan di dekat tempat kami berhenti ada angkot berhenti, dan langsung kami sewa membawa kami dan sepeda ke sana. Setelah tawar menawar dari angka 150 rb, deal di angka 100 rb. Cukup murah karena kalau angkot penuh bisa 10 orang. Ini hanya diisi kami berdua dengan sepeda dan tas carrier.

Sampai di Tambang Ayam, Dony bernegosiasi untuk biaya camping di sana. Harga yang disepakati akhirnya 60 ribu rupiah. Villa 3 kamar di dekat tempat kami mendirikan tenda dibandrol 1.7 juta. Jauh sekali bedanya, ya? Cocok bila membawa banyak keluarga untuk menginap di sana.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Setelah mendirikan tenda yang dipinjami teman kami yang merupakan senior pendaki gunung, Marvin, kami menjamak sholat maghrib dan isya, lalu mandi, dan menyiapkan makan malam. Menu makan malamnya adalah kornet dan rendang yang dibawa dalam bentuk kalengan. Dony memotong bawang sementara saya yang memasaknya. Dua pekerjaan yang bertahun-tahun tidak pernah kami lakukan. Hahaha..

Karena telah menempuh perjalanan sekitar 25 – 30 km di hari itu dengan naik sepeda walhasil makanan ini cepat sekali habis. Nasi? Hehehe tinggal pesan di warung sebelah. Minumnya kelapa muda batok. Maknyus tenan! Tinggal order, sampai ke tenda.

Menjelang malam sekitar pukul 9 turun hujan lebat dengan angina kencang. Alhamdulillah tendanya tidak terbang. Air sedikit masuk di pojok-pojok tenda, tetapi tidak mengganggu kami tidur.

Keesokan paginya, setelah sholat subuh kami menggelar matras di luar tenda untuk menjerang air panas untuk minum teh walini rasa leci. Tidak berapa lama kemudian datang seorang ibu menjual nasi uduk dengan topping telur mata sapi atau bulat balado dan bakwan goreng plus bawang gorengnya. Seporsi nasi uduk dengan telur dan bakwan cuma 8000 perak saja. Rasanya lebih enak ketimbang nasi uduk yang dijual di atas Gunung Gede yang sebenarnya nasi kuning yang agak hambar dengan bakwan saja. Tidak lama kemudian eh datang penjual otak-otak. Kalau di resto satunya 3500 perak di sini lebih besar cuma 1250 perak. Ya udah kami beli juga untuk dinikmati sambil menyeruput hangatnya teh.

Berikut ini adalah pemandangan pagi yang saya ambil dengan iPhone.

View dari pantai
View dari pantai
Indahnya ciptaan Allah
Indahnya ciptaan Allah
Bermain di pantai
Bermain di pantai
Memandang laut
Memandang laut

Pukul 9 kami selesai packing untuk menuju Stasiun Cilegon. Karena tahu bisa naik dari Cilegon kami tidak menuju Merak namun langsung ke Cilegon dengan angkot. Di Cilegon sampai jam 11 siang, itu berarti masih ada waktu sekitar 2.5 jam sebelum kereta berangkat. Akhirnya kami kuliner di Cilegon sambil menunggu kereta datang. Kami mencoba RM Sate Cilegon. Yang kami pesan adalah Empal Genthong, Es Kuwut, Sate Kambing, Sop Buntut, dan tahu tempe. Yang enak adalah Es Kuwut dan Empal Genthongnya. Tahunya juga enak. Yang kami tidak cocok adalah sate kambing dan tempenya. Jadi buat Anda yang mau mampir ke Sate Cilegon dekat Masjid Agung Cilegon (pinggir jalan), bisa pesan Es Kuwut, Empal Genthong, Sop Buntut, dan tahunya.

Sate kambing dan tempe sebaiknya tidak usah dipesan. Silakan coba menu lainnya.

Setelah energi terkumpul kami ngebut ke Stasiun Cilegon untuk menanti kereta Kalimaya tujuan Tanah Abang. Sempat jadi perhatian para penumpang di sana. Mereka mungkin membatin, ini turis dari mana sih pake sepeda segala naik kereta? Hihihi.. Di stasiun kami coba mengambil beberapa gambar.

Kesimpulan dari perjalanan ini:

  • Jika ingin naik sepeda, pastikan menggunakan sepeda lipat, bukan sepeda MTB karena tidak diperbolehkan naik ke kereta. Di angkot juga akan susah jika mau sewa.
  • Pastikan turun di Krenceng atau Cilegon kalau naik kereta menuju ke Anyer. Tidak perlu ke Merak, kecuali ingin melihat pelabuhan yang indah di sana

Bawa:

  • tenda yang anti angin kencang dan anti air. Mahal sedikit tidak apa, apalagi kalau ringan sekali (tenda merk Consina ada yang ultra light, sehingga ringan dibawa). Harganya saja yang lumayan berat. Sewa tenda juga banyak di internet. Murah sekali, namun pastikan tidak bocor.
  • matras atau tikar plastic untuk alas dan duduk di depan tenda
  • obat-obatan sesuai keperluan pribadi
  • Senter dan lampu penting untuk penerangan
  • jas hujan untuk antisipasi hujan di sana
  • peralatan mandi
  • uang secukupnya
  • kamera atau hp untuk mengabadikan perjalanan
  • pastikan sepeda diservis sebelum digunakan seminggu sebelumnya
  • kereta Kalimaya ada power outlet, jadi bisa charging HP atau Power Bank di gerbong!
  • beli tiket seminggu sebelumnya, bisa lewat tiket.com atau ke website KAI, atau ke Indomart terdekat. Kalau di tiket.com bisa menentukan kursi yang akan dipesan.Letakkan sepeda di gerbong aling-aling. Lega!

Selamat berpetualang! Punya pengalaman berpetualang juga? Bagikan di komentar di bawah, ya!

Phoneography and Non-SLR Digital Devices Photo Challenge: Animals

The 4th Monday challenge is one of several themes (Abstraction, Animals, Architecture, Food Photography, Night Photography, Objects, Portraiture, Still Life, Street Photography, and Travel). I choose animal as the theme of the challenge.

I took the pic using iPhone 5 near a deer sanctuary at Ranca Upas, Ciwidey, near Bandung, West Java, Indonesia.

The Deer
The Deer

PowerPoint Clicker using Mobile Phone

Apakah Anda ingin bisa mengontrol PC sewaktu presentasi menggunakan mobile phone Anda? Di internet banyak sekali aplikasi yang bisa melakukan hal ini, dan izinkan saya membagikannya salah satunya di sini. Setelah dulu terkesan 8 tahun lalu dengan aplikasi bawaan Nokia E51, saya juga membutuhkan aplikasi serupa dari Mobile Phone saya. Setelah melakukan pencarian di Internet saya mendapat beberapa kandidat. Setelah mencoba beberapa, saya tertarik dan langsung jatuh cinta dengan UnifiedRemote. Aplikasi ini tersedia untuk Windows Phone dan Android, serta masih uji coba di iOS.

Dengan aplikasi ini Anda bisa melakukan kontrol ketika melakukan presentasi dengan PowerPoint (standar Next, Prev, zooming in, zooming out, klik kiri dan kanan, pergi ke Slide tertentu, dsb). Kita juga bisa menelusuri folder di Windows Explorer lalu membuka file dari jauh. Berpindah dari aplikasi yang satu ke lainnya juga mudah dilakukan.

Dan hebatnya, untuk aplikasi seperti ini mereka menyediakan versi gratis yang bekerja dengan sangat baik. Fitur lebih lengkap bisa dilihat di sini.

 

Phoneography Challenge, the Phone as Your Lens: Snails Race

How long it will take to the roof?
How long it will take to the roof?

This week’s challenge, the second Monday of the month, is macro. I just went out of my home and captured these pics using my iPhone 5 and edited with Fotor for Win8.

 

 

Jalan-jalan ke Kampung Gajah dan Kampung Daun

Beberapa waktu yang lalu kami sekeluarga memutuskan untuk pergi ke Bandung setelah mungkin sekitar 3-4 tahun tidak pergi ke sana. Alasannya adalah trauma. Trauma dengan macet di Bandung dan Puncak. Jadi kami sangat menghindari pergi ke Puncak atau ke Bandung. Sehari sebelumnya, pas hari Jumat, saya bertanya kepada teman-teman di kantor. Ke mana lagi ya liburan di seputar Jakarta? Taman Mini bosen. Dufan bosen. Tenda Mongolia sudah. Michael Resort sudah. Sentul dan sekitarnya sudah. Ragunan bosen. Taman Safari sudah. Gunung Bunder dan air terjunnya sudah. Anyer gitu-gitu aja. Ujung Genteng, Tanjung Lesung, dan Sawarna kejauhan. Musti cuti 1 atau 2 hari di luar Sabtu Minggu supaya tidak terlalu lelah dan liburannya cukup dinikmati. Mal bosen. Museum? Di TMII bosen. Di luar TMII biasanya tidak terawat, bau debu, dan auranya Conjuring. Trus aku lebih suka outdoor. Mau camping lagi musim hujan. Akhirnya ada yang menganjurkan ke Kampung Gajah di Lembang. Setelah google, foto-fotonya sepertinya asyik. Ya sudah Sabtu habis subuh langsung google cari hotel. Sari Ater yang ada air panasnya habis. Full booked. Akhirnya nemu di Setiabudi, Banana Inn Hotel yang berbintang 4. Not bad, affordable, gak terlalu jauh dari kota, dan gak terlalu jauh juga dari Kampung Gajah. Dekat Paris Van Java kalau mau ke mal.

Berikut adalah foto-foto di hotel.

Hari pertama kami berencana ke Tangkuban Perahu, namun karena hujan dan sudah sore dianjurkan tidak ke sana oleh teman yang tinggal di Bandung. Diusulkan pagi harinya saja, baru ke Kampung Gajah. Jadi sore itu kami berenang saja di hotel.

Paginya setelah sarapan mereka berenang lagi di hotel setelah sarapan. Akhirnya keluar hotel pas check out dan langsung ke Kampung Gajah. Sayang di sana hujan terus sehingga sebagian besar permainan outdoor tidak dioperasikan. Akhirnya kami hanya mencoba naik robot Bumblebee (sangat tidak sepadan dengan harganya, 150 ribu rupiah hanya untuk 2 putaran). Mesinnya dari motor Mio yang tidak bertenaga dengan beban berat di atasnya. Menurut saya, tidak perlu dicoba. Anak-anak sih senang. Tapi harganya semahal itu, sangat tidak layak untuk dicoba. Yang kedua kami mencoba Rumah Teror, di man pengunjung wahana naik kereta di atas rel masuk ke ruangan super gelap, dengan boneka, pocong, dan petugas berpakaian yang mencoba menakut-nakuti kami. Sebagai penggemar film Conjuring dan Insidious, wahana ini tampak menggelikan ali-alih menakutkan. Hanya saya dan Rayyan yang mencoba. Aila dan mamahnya lihat-lihat baju di toko. Tipikal para wanita. Sigh.

Setelah itu kami cabut untuk makan siang di Kampung Daun. Begitu parkir dan mencoba reservasi, menunggu antrian ke-10. Akhirnya sambil menunggu reservasi saya memesan 3 kerak telor, bala-bala, ketan bakar, pisang aroma, dan segelas bandrek. Suhu yang dingin dibalut hujan yang tak berhenti dibalas dengan kenikmatan bandrek hangat dengan kelapa dan jagung muda. Rasanya AMAZING.

Setelah kami mendapat giliran, di dekat air terjun, perut kami sudah kenyang, sehingga hanya memesan minum saja. Harga makanannya cukup mahal. Tempatnya sangat bagus. Romantis dan indah. Yang dijual di sini adalah keindahannya. Setelah puas berfoto-foto, kami pulang ke Jakarta, dengan tidak lupa memakan dengan nikmat ikan wader garing dan ayam goreng Ciganea di Rest Area tol. AMAZING. Murah dan super nikmat.

Kesimpulan:

– Pesan hotel jauh-jauh hari, lewat online lebih murah daripada telpon langsung ke hotelnya
– Bawa kasur pompa supaya tidak perlu bayar extra bed
– Ke Kampung Gajah, datanglah di musim panas. Jangan musim hujan. Tidak seperti di Trans Studio yang tertutup, aman segala cuaca.
– Ke Kampung Daun enaknya minum-minum dan makan cemilannya. Makan di luar yang enak dan murah, mampir ke Kampung Daun untuk dapat suasananya

Selamat berlibur.

Kalau ada yang punya alternatif fotografi outdoor di Jakarta atau tempat wisata seputar Jakarta lainnya, mohon dishare di komentar yaa.. TIA.