Weekly Photo Challenge: Kiss

This week’s challenge is Kiss. This picture was taken when me and my family went to Safari Garden near Puncak Bogor, Cisarua, West Java, Indonesia. A couple of zebras were kissing each other when I took the pic. Well, I was not really sure whether they were kissing each other or just whispering.. Just assumeLanjutkan membaca “Weekly Photo Challenge: Kiss”

Mama (2013)

Mama menurutku adalah film horor terbaik sejak aku menonton Insidious. Film yang baru saja memenangkan Palm Springs International Film Festival ini membawa nama besar Guilllermo del Toro sebagai Executive Producernya. Dua kali aku tonton di bioskop tidak membuatku bosan dan tetap menikmati jalan ceritanya. Film ini bercerita mengenai dua orang anak, kakak beradik keduanya perempuan, bernamaLanjutkan membaca “Mama (2013)”

Weekly Photo Challenge: Love

Weekly Photo Challenge this week is Love. I present you a rather abstract concept of love. I took this picture on a travel to my home town, 330 km away from my residence, several years ago. In the middle of the journey, I saw those trees, and then I stopped my car, took out myLanjutkan membaca “Weekly Photo Challenge: Love”

Siri, I Love You

Sore itu kupandangi lalu lintas Jakarta yang sumpek dari sebuah restoran cepat saji di puncak Mal Plaza Semanggi. Hari Jumat jam pulang kantor, ditambah hujan yang tak kunjung berhenti, membuat kendaraan parkir berjamaah di semua jalanan protokol Jakarta. Untung aku masih bisa teng go dari kantor dengan motor ke mal ini. Terlambat sedikit bisa-bisa masihLanjutkan membaca “Siri, I Love You”

Cinta Harus Mati

Originally posted on The Laughing Phoenix:
Yup, cinta harus mati. Itu adalah sebuah keniscayaan. Kalau cinta adalah rasa menggebu-gebu, keringat dingin, deg-degan, susah tidur, tai kucing rasa coklat, romantic dinner dengan lilin, berpandang2an semalaman sampai jereng, dan buket bunga mawar, maka cinta harus mati. Dan akan mati. Tahap “infatuation”, “passionate love”, saat-saat awal manusia jatuh…

Sebingkai Tanya Seorang Anak Kepada Ayah dan Ibunya

Seorang anak duduk diam di depan pintu rumahnya Memandang sayu ke jalan yang ramai kendaraan lalu lalang Bertanya ia mengapa lengan kokoh ayahnya tak lagi memeluk dirinya Bertanya ia mengapa cium dan manja ibunya tak lagi ada Bertanya ia mengapa cinta mereka berubah menjadi petaka Bertanya ia mengapa ayahnya bersama ibu yang tak melahirkannya BertanyaLanjutkan membaca “Sebingkai Tanya Seorang Anak Kepada Ayah dan Ibunya”

Aku Rindu Padamu

Aku rindu padamu Dengan pelangi yang selalu menghiasi wajahmu di kala mendungku Dengan setiamu yang sekokoh batu karang di kala terpurukku Dengan ribuan doamu yang terpanjat di kala gelisahku Dengan kesabaranmu yang melunakkan triwikramaku Dengan lembut bisikanmu di atas dadaku Dengan jutaan kupu-kupu cantik yang kau lesakkan dalam hatiku Dengan hari-hari indah penuh canda bersamaLanjutkan membaca “Aku Rindu Padamu”

Wafatnya Bude Mursiah

Bude Mursiah adalah kakak dari ibu mertuaku yang juga sudah tiada ketika Rayyan, anakku yang pertama, berumur 6 bulan. Beliau terkenal suka menolong sesama, terutama di bidang pendidikan seperti latar belakang beliau sendiri dari Kementrian Pendidikan. Kami akan mengenang bagaimana engkau hidup, bukan bagaimana engkau wafat. We will always love you! Gambar di ambil dengamLanjutkan membaca “Wafatnya Bude Mursiah”

Kembalinya Mas Parman (2006)

Dia bukan penduduk asli kampung ini. Ketika berumur hampir setahun, orang tuanya mengalami kecelakaan di tikungan, dekat balai desa. Ayah dan ibunya meninggal seketika, dan dimakamkan di TPU, satu setengah kilometer dari rumahku. Akhirnya Pak Parto dan istrinya, sepasang petani yang sudah tua dan tidak memiliki anak, memutuskan untuk memungutnya dan memberinya nama Suparman. KataLanjutkan membaca “Kembalinya Mas Parman (2006)”