Arsip Blog

Review Film Escape Room (2017)

IEG kembali hadir menayangkan film terbaru di CGV dan Cinemaxx di Jakarta dengan film berjudul Escape Room. Film yang dibesut oleh Will Wernick ini berdurasi 81 menit.

Img1

Ceritanya cukup sederhana, namun menegangkan. Enam sahabat setelah merayakan pesta ulang tahun salah satu dari mereka, mencoba permainan baru yang membuat penasaran. Mereka ditantang untuk masuk ke sebuah ruangan, tanpa boleh membawa handphone dan dompet, memecahkan teka-teki agar bisa keluar dari ruangan.

Img2

Pada awalnya mereka dituntun ke dalam ruangan dalam keadaan ditutup matanya dengan kain. Setelah mereka membuka tutup mata, mereka terbagi dalam beberapa kamar terpisah, ada yang sendiri, ada juga yang berpasangan. Kecerdasan mereka dituntut agar dapat memecahkan semua teka-teki dalam waktu 1 jam.

Escape-Room-movie

Ketegangan tiba-tiba memuncak setelah satu demi satu mereka mendapatkan ajalnya dengan mengenaskan. Berhasilkah mereka keluar dari ruangan yang misterius itu? Ataukah kesemuanya terpaksa harus menyerahkan nyawa dengan sia-sia?

Film ini sebenarnya sangat menjanjikan begitu mereka berada dalam ruangan yang terisolasi. Penonton dipaksa terpaku dan merasakan ketegangan yang mereka rasakan dalam memecahkan masalah sambil bertahan hidup. Agak disayangkan di bagian akhir film ini terasa agak dipaksakan dan terburu-buru. Seandainya endingnya dibuat lebih jelas, film ini akan menjadi film suspence thriller yang cukup enak dinikmati.

Karena ada adegan kekerasan dan ciuman, sebaiknya hanya ditonton bagi yang usianya minimal 17 tahun. Jangan bawa anak di bawah umur ya, gaes!

Yang jelas, film ini membuat saya ingin mencoba Escape Room yang sudah mulai menjamur di Jakarta.

Beranikah Anda mencoba?

Edit:

Akhirnya saya mencoba Escape Room Pandora di Teraskota BSD. Seru juga ya permainannya! Dalam waktu satu jam kita diharuskan memecahkan beberapa teka-teki agar bisa keluar dengan sukses.

Iklan

Gravity (2013)

Menurutku ini adalah film terbaik so far di 2013. Well, Anda boleh punya pendapat lain, tapi saya pribadi sangat menyukai film ini! Gravity menceritakan kisah astronot yang sedang bertugas di ruang angkasa dan mendapat musibah yang dikarenakan adanya serpihan satelit Rusia yang diledakkan dengan misil. Sandra Bullock (Speed, The Blind Side) dan George Clooney (Ocean Eleven, The Descendants), para bintang peraih Oscar, bermain sangat ciamik sebagai astronot-astronot yang berjuang mempertahankan nyawa mereka di luar atmosfer…

Mengapa saya begitu menyukai film ini? (Saya memberikan score 10/10).

  1. Naskah yang ditulis langsung oleh sang sutradara, Alfonso Cuaron (Great Expectations, Y Tu Mama Tambien)  bersama anaknya, Jonas Cuaron, begitu menarik, cerdas, ada twist kecil, humor, dan pada adegan puncak, sangat mengharukan! Tidak ada kalimat cheesy dalam 90 menit ketegangan yang disuguhkan!
  2. Masalah yang timbul selama film berlangsung begitu bertubi-tubi dan membuat kita enggan beranjak dari kursi karena tidak ingin kehilangan momen sedikitpun!
  3. Sinematografi dan visual efek yang luar biasa. Seluruh adegan berbahaya adalah hasil efek komputer yang sangat realistis, dengan aktor-aktornya disyuting dengan aman! Bumi digambarkan begitu indah dari luar angkasa sana, termasuk aurora borealis yang begitu indah.
  4. Film ini mengingatkan kita bahwa Tuhan YME telah memberikan banyak karunia kepada manusia. Dari bumi yang indah, atmosfir untuk bernafas sekaligus pelindung dari bencana luar angkasa, dan kenikmatan berupa kesempatan hidup dan untuk bermanfaat bagi sesama. Film religius yang tidak berusaha menggurui. Sekilas mengingatkan pada semangat The Grey yang diperankan Liam Neeson. Intinya adalah mempertahankan kehidupan itu wajib dilakukan manusia. Tidak boleh putus asa dengan rahmat Allah SWT seberapapun kecil peluang yang kita punya. Toh bagi manusia yang menjalankan perintah Tuhannya, meninggalpun akan memberikan kebahagiaan. Kebahagiaan bertemu dengan Sang Pencipta. Bagaimana hubungan Quran dengan benda langit yang begitu teratur dan indah? Anda bisa membacanya di sini.
  5. Film ini juga memberikan gambaran yang jarang dilihat di film lain mengenai ketiadaan bunyi di luar angkasa karena tidak ada udara yang bisa menghantarkan gelombang suara, kondisi tanpa bobot, stasiun ruang angkasa, dan berbagai istilah dalam percakapan antara Houston dan para astronot.

Tips menonton:

  1. Imax 3D adalah best experience yang bisa dipilih untuk menonton film ini. Jika tidak, tonton 3Dnya. Awas kelilipan. Pakai kacamata selama menonton. Banyak serpihan beterbangan. Sayangi mata Anda 🙂
  2. Kencing terlebih dahulu sebelum menonton, jangan minum terlalu banyak. Anda tidak mau kehilangan semenitpun menonton film ini.
  3. Filmnya cuma 90 menit, jadi tidak punya kesempatan untuk membosankan. Jangan terlalu kenyang biar tidak ngantuk. Banyak adegan gelap diiringi musik yang enak. Buat yang menonton di Premier, jangan bobo yaa..

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Zero Dark Thirty (2012)

Film yang disutradarai oleh Kathryn Bigalow ini diangkat dari kisah nyata pengejaran manusia terheboh sepanjang sejarah, yakni Osama Bin Laden. Film dibuka dari rekaman suara telepon para korban aksi terorisme 9/11, pengejaran Osama, dan diakhiri pembantaian Osama Bin Laden dan beberapa orang keluarganya.

Mengenai film, secara teknis filmnya berupaya keras menuturkan untuk mencoba netral dan memberikan informasi sepenting mungkin ala dokumenter. Di awal film, temponya berjalan cukup lambat di bagian penyiksaan tawanan. Jessica Chastain berperan sebagai Maya, agen CIA yang sangat besar kemungkinannya bukan tokoh nyata. Maya mungkin mewakili karakter bernama Jen dari sebuah buku yang berjudul No Easy Day: The Firsthand Account of the Mission that Killed Osama Bin Laden. Dalam buku itu, bekas anggota Navy SEAL Matt Bissonnette, yang menerbitkan buku dengan nama “Mark Owen,” menyebutkan bahwa Jen direkrut sejak lulus kuliah dan bekerja di bagian Bin Laden selama lima tahun, dan dia yang merangkaikan potongan puzzle menjadi utuh.

Film yang menyangkut aksi CIA ini memiliki banyak kemungkinan. Pikiran saya adalah:

  1. Tidak ada yang tahu apakah film ini jujur atau tidak, kecuali Sutradara atau pemerintah AS yang bekerja sama dengan Kathryn
  2. Tak ada yang pernah tahu seberapa besar dari cerita itu yang benar
  3. Jika memang Osama Bin Laden benar-benar pelaku terorisme, apakah pembantaian yang dilakukan tentara AS / CIA juga dapat dibenarkan?
  4. Tidakkah setiap pelaku kriminal berhak untuk diadili secara wajar di depan hukum?
  5. Saya membenci terorisme, tetapi saya juga membenci ketidakadilan dan standar ganda pemerintah AS
  6. Tindakan sewenang-wenang dari Pemerintah AS bisa jadi akan memaksa timbulnya sequel dari film ini…

Sepertinya film ini dibuat untuk:

  1. Memberikan kelegaan bagi korban terorisme 9/11
  2. Menaikkan rating Obama – ketika film ini akan diluncurkan, menjelang pilpres AS
  3. Menutup malu pemerintah AS yang bertahun-tahun tidak dapat mencari Osama (masih ingat film Where in the World is Osama Bin Laden?)

Melihat adegan pembantaian Osama dan keluarganya, mengingatkan saya pada adegan G 30 S/PKI, ketika pasukan Cakrabirawa membunuhi satu demi satu jendral yang dianggap terlibat dalam Dewan Jendral.

Saya hanya berharap:

  1. terorisme lenyap dari muka bumi ini
  2. Amerika tidak menjadi polisi dunia yang menerapkan standar gandanya
  3. keadilan dikedepankan dalam tindak kriminal

Menonton film ini, siapkan minuman dan makanan ringan yang cukup mengingat durasinya 157 menit atau 2 jam 37 menit.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Terlepas dari pro kontra film ini, hal yang menarik adalah:

  1. Kegigihan dan keuletan Maya (10 tahun mencari jejak Osama) menunjukkan persistensi akan membuahkan hasil
  2. Teknologi yang dimiliki Amerika benar-benar canggih. Sangat berbeda dengan yang dimiliki TNI 🙂
  3. Ada salah satu petinggi CIA yang beragama Islam. Entah dia benar-benar muslim ataukah seperti Snouck Hurgronje, untuk memahami pikiran musuh caranya adalah berpikir dan bertindak seperti musuh. Wallahu ‘Alam

Mama (2013)

Mama menurutku adalah film horor terbaik sejak aku menonton Insidious. Film yang baru saja memenangkan Palm Springs International Film Festival ini membawa nama besar Guilllermo del Toro sebagai Executive Producernya. Dua kali aku tonton di bioskop tidak membuatku bosan dan tetap menikmati jalan ceritanya.

Film ini bercerita mengenai dua orang anak, kakak beradik keduanya perempuan, bernama Victoria dan Lily. Keduanya dibawa pergi oleh ayahnya ke sebuah kabin di tengah hutan di sebuah musim dingin. Ayahnya berencana untuk membunuh mereka setelah ia membunuh dua rekannya dan istrinya. Namun di dalam kabin itu sesuatu menyelamatkan kedua anak itu dan membunuh ayah mereka. Sejak saat itu mereka berdua tumbuh besar dirawat makhluk itu. Lima tahun berlalu, paman mereka yang tak pernah berhenti berusaha mencari keberadaan mereka akhirnya berhasil membawa mereka pulang. Namun demikian, makhluk yang memelihara mereka juga ikut bersama kedua anak kecil tersebut. Bagaimanakah paman mereka dan pasangannya bisa bertahan dari makhluk yang juga menyayangi kedua anak itu? Akankah mereka menjadi korban dari makhluk itu? Saksikan film yang menyeramkan dan banyak memberikan kekagetan dalam beberapa adegannya.

Yang saya suka dari film ini adalah:

  1. Casting yang baik. Semua pemainnya bermain bagus dan meyakinkan, termasuk pemeran Victoria dan Lily
  2. Cerita yang menyentuh hati sekaligus menimbulkan ketegangan
  3. Tempo yang pas, tidak lambat dan tidak terlalu cepat, sehingga pendalaman karakter tokoh pentingnya cukup pas buat penonton

Bagi mereka yang kecewa dengan film yang ditulis Guillermo del Toro sebelumnya, Don’t Be Afraid of the Dark, jangan khawatir, film ini akan dicintai penggemar film horor. 8/10, recommended for horror lover!

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Modus Anomali (2012)

Film terbaru Joko Anwar ini membuatku penasaran. Setelah puas dengan besutannya di Pintu Terlarang, tentu saja aku tergerak untuk mencicipi karyanya yang paling gres. Iklannya ada di mana-mana, bahkan posternya dipasang di KRL Commuter Line yang aku naiki setiap hari.

Filmnya bercerita mengenai seorang lelaki yang bangun dari timbunan tanah di tengah hutan. Ia lupa akan jati dirinya dan berusaha mencari tahu siapa dia dan mengapa ia ada di sana. Satu demi satu petunjuk ia ikuti hingga akhirnya ia mengetahui siapa dirinya.

Filmnya tergolong suspense thriller, dengan pengambilan gambar yang shaky agar penonton diajak merasakan kepeningan si tokoh yang kebingungan di tengah hutan. Film yang idenya cukup cerdas ini bukannya tanpa anomali. Sebenarnya akan lebih baik kalau tidak ada telepon sama sekali dalam cerita ini. Adanya telepon justru menjadi plot hole yang bisa merusak cerita. Hal lain adalah penggunaan bahasa Inggris yang kurang luwes diucapkan para pemainnya. Dengan tampang Asia, semua pemainnya jadi terlihat kagok menggunakan Bahasa Inggris. Mungkin Joko mempersiapkan film ini di kancah dunia internasional agar tanpa perlu dibuat subtitlenya. Hasilnya justru kurang believable buat penonton Indonesia.

Idenya sekali lagi menarik, menyimpan twist di belakang, namun story tellingnya bisa dibuat lebih baik. Beberapa adegan di dalam gudang dan cara bercanda Marsha Timothy dan Surya Saputra kurang meyakinkan. Syuting yang cuma dua minggu seperti dikejar setoran. Pintu Terlarang jauh lebih meyakinkan dan membuat penasaran.

Buat saya 6/10, berasa sangat pendek, lumayan untuk tontonan alternatif.

Poster Modus Anomali

Devil (2010)

Film yang ide ceritanya berasal dari otak M. Night Shyamalan ini bercerita mengenai setan yang menyaru menjadi salah seorang penumpang lift yang macet di sebuah gedung bertingkat. Di dalam lift ada 3 lelaki dan 2 wanita yang terjebak. Satu demi satu mereka tewas dan yang masih hidup saling mencurigai satu sama lainnya. Apakah motivasi pembunuhan ini? Mengapa setan membunuhi mereka? Siapakah di antara mereka yang merupakan setan?

Apapun alasannya, setan tidak punya hak untuk datang ke lift dan main bunuh-bunuh orang seenaknya. Sudah ada yang mengatur peradilannya. Di dunia atau di akherat.

Penonton memang dibuat penasaran dan menebak-nebak siapa yang jadi setannya. Sulit untuk ditebak, tetapi setelah ketahuan tetap kurang masuk akal setan main bunuh-bunuh orang di lift seenak jidatnya.

Skor 6/10.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Buried (2010)

Ini bukan film untuk semua orang. Kebanyakan orang mungkin akan kesal dengan film ini. Beberapa memuji luar biasa, sisanya akan memaki habis. Bagaimana tidak? Film ini dari awal hingga akhir hanya menampilkan 1 orang peran utama. Ryan Renolds memerankan supir truk yang diculik dan dikubur dalam sebuah peti dalam tanah oleh penculiknya. Di dalamnya dia dibekali handphone, sebuah pemantik api, senter, dan lampu fluoresence. Penculiknya minta dia merekam dirinya dan mengirimkannya ke youtube untuk meminta uang tebusan agar ia bisa dibebaskan. Ia menelpon FBI dan tempatnya ia bekerja untuk memberi petunjuk agar ia bisa dilacak posisinya dan ditemukan. Berhasilkah ia pada akhirnya diselamatkan dan berkumpul bersama keluarganya ataukah ia akan tetap terbaring selamanya kembali pada Sang Pencipta?

Ryan Renolds bermain sangat total di film ini. Ia harus menampilkan sosok orang yang frustasi, ketakutan, marah, takut, sedih, dan sebagainya bercampur aduk menjadi satu. Film ini mengingatkan pada Moon, film yang juga diperankan oleh satu orang di sebagian besar waktunya, yang diperankan dengan baik oleh Sam Rockwell. Kemudian film ini juga mengingatkan pada Open Water, dua pasang suami istri yang menyelam di tengah laut dan tertinggal oleh kelompoknya.

Film ini akan membawa Anda pada perasaan claustrophobia dan membuat Anda shocked jika membayangkan Anda yang diculik dan dikubur hidup-hidup!

Score 7/10. (Idenya menarik namun ada beberapa adegan yang kurang masuk akal atau bisa dianggap flaw / plot hole).

Shutter Island (2010)


Film besutan Martin Scorcese ini akan membuat Anda tegang dari awal hingga akhir. Tokoh utamanya adalah anak kesayangan Scorcese yaitu Dicaprio. Ia beradu akting dengan Ben Kingsley (Gandhi, Sneaker) yg berperan sebagai kepala rs jiwa di sebuah pulau terpencil. Dicaprio memerankan seorang US marshalls yg menyelidiki hilangnya seorang pasien dari rumah sakit jiwa yang membuat Alcatraz seperti Disneyland. Lambat laun ia mencurigai adanya konspirasi yg membuat pasien di sana diterapi secara kejam hanya supaya mereka menjadi penurut. Berhasilkah ia memecahkan kasusnya atau ia justru menjadi segila para pasien di sana?

Awas… spoiler…

Film ini mengingatkanku pada film thriller Joko Anwar, Pintu Terlarang. Bedanya, Pintu menjelaskan sedikit cerita sebenarnya, sedang Shutter Island menjelaskan cukup gamblang. Padahal film seperti Pintu dan Sixth Senselah yang lebih memukul penonton dengan twist yang tak terlupakan.

Anyway, film ini mendapat skor 8.5 / 10 ala Wisnu.
Gak nyesel nonton midnite di premiere.

Edge of Darkness (2010)

Film yang dibintangi Mel Gibson ini penuh dengan konspirasi tingkat tinggi. Kepulangan anaknya dari Boston ke Massachusetts bukannya menjadi ajang pertemuan kangen-kangenan. Anaknya ditembak mati di beranda rumahnya ketika mereka berdua mau ke dokter. Kemarahan luar biasa menggelegak dan menguasai Mel Gibson. Sedikit demi sedikit petunjuk ia dapatkan dan mendapatkan bahwa anaknya bukan korban salah tembak penjahat yang mengincar dirinya, namun memang mengincar anaknya.

Siapa sajakah yang terlibat dalam konspirasi ini? Akankah ia bisa membuktikan siapa yang bersalah? Ataukah ia menjadi korban konspirasi itu.
Melihat film ini, Mel Gibson memang sudah terlihat menua. But he’s still got it.

Saksikan di teater kesayangan Anda.

The Taking of Pelham 123 (2009)

Denzel Washington dan John Travolta bermain bersama dalam film ini, sebagai tokoh protagonis dan antagonis. Denzel seorang pegawai KA yang secara tidak sengaja terhubung dengan seorang kriminal (Travolta) yang membajak sebuah kereta, Pelham 123. Film yang disutradarai Tony Scott (Top Gun, Enemy of The State, Last Boy Scout) ini menyajikan thriller ala 24, dengan setting waktu real time.

Travolta memerankan Ryder, seorang kriminal yang tidak segan membunuh orang tak berdosa, demi uang semata. Denzel memerankan Walter Garber, petinggi jawatan kereta yang sedang diturunkan posisinya karena dalam tuduhan menerima suap.

Apakah tuntutan 10 juta dollar yang diminta Ryder dalam waktu 1 jam berhasil dipenuhi New York? Ataukah seluruh penumpang menjadi korban kebiadaban teroris?

Filmnya lumayan mengasyikkan dinikmati, dari awal hingga akhir, membuat Anda malas beranjak dari kursi, meski kebelet pipis. Saran saya, pipis dulu sebelum nonton agar tidak terganggu bolak-balik. Hehehe..

7 out of 10.