Arsip Blog

Review Novel (dan Film) Critical Eleven

Saya tertarik membaca novelnya setelah film ini diputar di bioskop. Sebagai seorang penggemar film, saya lebih suka membaca bukunya terlebih dahulu, lalu langsung nonton filmnya. Film dan novel adalah dua media berbeda, jadi saya tidak suka menghakimi semua film pasti lebih jelek dari bukunya. Menurut saya, tidaklah adil membandingkan kedua media tersebut, karena tidak apple to apple. Saya lebih suka menilai apakah jiwa dari novelnya tersampaikan di filmnya. Ada perbedaan di sana sini wajar, karena kita menonton film yang audio visual, dibandingkan novel yang hanya murni tekstual. Hanya karena tidak seindah imajinasi kita, apa filmnya patut dicaci maki? Nggak fair menurut saya.

Img2

JW Eagan Quotes

Film yang menurut saya cukup baik menggambarkan jiwa novelnya adalah Disclosurenya Michael Chrichton dan Laskar Pelanginya Andrea Hirata. Yang gagal menurut saya adalah The Chambernya John Grisham. Balik ke Critical Eleven, saya mesti nonton dulu filmnya sebelum bisa berkomentar lebih lanjut. (Updated: saya sudah menonton filmnya, dan menurut saya, filmnya lebih menarik daripada novelnya dari sisi pesan yang ingin disampaikan! Ngambeknya Anya digambarkan secara proporsional dan tidak bertele-tele seperti di novel. Akting Reza Rahardian dan Adinia Wirasti cukup meyakinkan penonton. Latar belakang musik dan sinematografi sangat mendukung, terutama masa-masa di Amerika. Acungan jempol untuk Monty Tiwa yang sukses berat menyutradarai bersama Robert Ronny dan ikut menulis skenarionya. Beberapa penyesuaian cerita dilakukan dari apa yang ada di novelnya, dan membuat filmnya berasa lebih natural dan plausible. 8 skala 10 deh filmnya!).

Novel yang saya beli sampulnya bukan yang pesawat terbang, namun adegan Reza Rahardian memeluk Adinia Wirasti dari belakang di Amerika. Waktu saya intip di bagian awal bukunya, ternyata ini sudah cetakan kedua puluh! Luar biasa. Ini adalah novel Ika Natassa yang pertama saya baca. Novel setebal 335 halaman ini tidak butuh lama untuk membuat saya terus membacanya. Setiap menunggu kereta dan bergelantungan di commuter line saya selalu melahapnya, ditambah waktu malam dan hari libur.

Terus terang, judulnya lumayan catchy. Critical Eleven. Dalam dunia penerbangan, dikenal sebuah istilah yakni Critical Eleven, 11 menit paling kritis di dalam pesawat. Dimulai dari 3 menit setelah take off dan 8 menit sebelum landing — karena secara statistik, 80% kecelakaan pesawat, umumnya terjadi dalam rentang waktu 11 menit ini.

Di cerita ini, Critical Eleven menggambarkan 11 menit penting di momen pertemuan pertama, di mana 3 menit pertama bersifat kritis karena saat itulah kesan pertama mulai terbentuk, lalu ada 8 menit sebelum berpisah — saat ketika senyum, melihat tindak tanduknya, dan ekspresi wajah orang tersebut, menjadi pertanda apakah itu akan menjadi awal suatu hubungan atau hanya sekadar akhir dari pertemuan tidak ada artinya.

Ale (dalam filmnya diperankan oleh Reza Rahadian) dan Anya (Adinia Wirasti) pertama kali bertemu dalam penerbangan Jakarta – Sydney. Saat pertemuan terjadi, 3 menit pertama Anya mulai terpikat, 7 jam berikutnya mereka duduk bersebelahan dan saling mengenal lewat percakapan dan tawa satu sama lain, sampailah pada 8 menit sebelum berpisah. Sejak pertemuan itu berakhir, dalam hatinya, Ale yakin bahwa dia begitu menginginkan Anya. Dan dari peristiwa berkesan itu, Ale dan Anya menjalin hubungan dan melanjutkannya dalam sebuah mahligai pernikahan.

Kehidupan begitu indah dalam kehidupan mereka berdua, hingga sebuah musibah besar menimpa keluarga kecil mereka. Di titik ini Anya dan Ale diuji kesabaran, komitmen, dan pengorbanan mereka untuk menentukan apakah mitsaqon ghalidzha ini perlu dipertahankan atau disudahi.

Saya merasa bahwa istilah Critical Eleven ini tidak hanya masa sebelas menit yang paling menentukan dalam pertemuan dua orang manusia, namun juga dalam 11 tahun awal pernikahan. Setiap keluarga, memiliki badainya masing-masing. Dan badai terbesar, biasanya diuji dalam masa awal pernikahan. Tiga tahun di awal pernikahan dan delapan tahun berikutnya, biasanya bisa menentukan apakah pernikahannya cukup matang atau rapuh.

Dalam novel ini, cinta Anya dan Ale diuji. Ini masalah komitmen dan masalah apa yang kita butuhkan dalam hidup ini. Ketika masalah terjadi, apakah kita termasuk yang mendiamkannya dan berharap masalahnya beres sendiri, melibatkan orang ketiga, atau bersikap layaknya dua orang dewasa untuk mendiskusikannya dari hati ke hati mencari solusinya bersama.

Penuturan sudut pandang dalam novel ini mengingatkan saya pada novel Pada Sebuah Kapalnya N.H. Dini. Bedanya kalau N.H. Dini membagi sudut pandang tokoh utama lelaki dan wanita dalam dua bagian besar. Bagian awal sudut pandang sang wanita, dan bagian kedua akhir sudut pandang sang pria. Critical Eleven membagi sudut pandangnya secara bergantian. Dalam satu bab, Ika bisa bercerita dalam sudut pandang Anya, Ale, lalu balik ke Anya lagi, dan seterusnya. Terkadang kita bingung, ini yang lagi bicara siapa ya? Anya atau Ale. Pada saat itu saya terpaksa membalik halaman untuk mengetahuinya.

Ika menceritakan kisahnya terkadang menggunakan Bahasa Inggris (bahkan kalimat pertama dalam novel ini dituliskan dalam Bahasa Inggris), which is fine by me, namun ada orang yang memandang sinis : apakah Bahasa Indonesia tidak cukup ekspresif untuk mewakili seluruh penceritaan kisahnya? Menurut saya sah-sah saja, dan terkadang ada istilah yang memang lebih pas ketika diucapkan dalam Bahasa Inggris. Bukannya mau sok-sokan enggres, tapi di samping asyik, kadang lebih pas, karena Bahasa Inggris cukup ekspresif. Dalam beberapa huruf dan kata yang lebih sedikit bisa mewakili padanannya dalam Bahasa Indonesia. Tentu Ika memilih cara seperti ini bukan karena sok enggres dan tidak cinta Bahasa Indonesia. So please, give her a break!

Setiap pengarang memiliki ciri khas dalam bertutur. Saya suka Andrea Hirata karena dia jago mengocok perut pembacanya sekaligus bisa membuat kita menitikkan air mata. Pengalamannya yang luas selama di luar negeri dan kehidupannya yang keras membuatnya kaya dalam bertutur dan mengombang-ambingkan emosi kita. Ika Natassa memiliki wawasan cukup luas, humoris, dan gaul. Ini tergambarkan dalam penuturan kisahnya. Ada banyak one liner atau kutipan yang asyik atau lucu untuk kita resapi dalam hati, kita kenang, kita tertawakan, dan kita amini.

“The best thing for being sad,” replied Merlin, beginning to puff and blow, “is to learn something. That’s the only thing that never fails. You may grow old and trembling in your anatomies, you may lie awake at night listening to the disorder of your veins, you may miss your only love, you may see the world about you devastated by evil lunatics, or know your honour trampled in the sewers of baser minds. There is only one thing for it then — to learn. Learn why the world wags and what wags it. (T.H. White)

In life, there are no heroes and villains, only various states of compromise.

In marriage, when we win, we win big. But when we lost, we lost more than anything. We lost ourselves, and there’s nothing sadder than that.

I’m starting to speak to myself in the third-person. This is not healthy. (Anya)

Not everything that counts can be counted, and not everything that can be counted counts. (Albert Einstein)

Membaca novel ini, bagi mereka yang belum menikah bisa mulai membayangkan bahwa pernikahan bukan hanya nikmatnya saja. Tetapi badainya juga hadir satu paket. Dalam hal ini keimanan dan kepercayaan pada Tuhan YME sangatlah penting. Bukan hanya sekedar beriman, namun takwa yang sebenar-benarnya takwa juga penting untuk menghadapi badai ini. Beberapa tokoh dalam cerita, meski muslim, digambarkan minum alkohol dan tidak sholat. Ada review yang mempertanyakan hal ini. Muslim kok digambarkannya tidak begitu taat sih? Menurut saya, justru banyak kok di masyarakat kita yang muslim namun belum menjalankan syariah agama secara benar. Karena mungkin belum cukup belajar agama lebih dalam. Dan ini potret Jakarta dan juga negara kita. Kita ambil yang baik, tinggalkan yang buruk. Ika tidak menulis tokoh yang sangat tinggi akhlaknya, namun mencoba mengambil salah satu contoh yang ada di masyarakat sekarang. Kalau ingin tokohnya sangat baik dalam agama, coba baca novelnya Kang Abik (Habiburrahman El Shirazy), yang biasanya tokohnya anak pondok, novelnya Mbak Helvy Tiana Rosa, dsb.

Novel ini agak terasa bertele-tele di bagian 2/3 menjelang berakhir. Penderitaan tokoh utama kok sepertinya berlarut-larut dan tidak kunjung dicari solusinya. Mungkin Ika merasa jika terlalu mudah konfliknya terasa ringan dan terlalu mudah untuk diceritakan. Namun efeknya adalah jika kompleksitasnya tidak rumit, malah seperti dibuat-buat dan bikin pembacanya geregetan. Mungkin kalau masalahnya dibuat lebih rumit dan berpotensi menimbulkan simalakama, akan lebih bisa diterima pembaca.

Kesimpulannya, secara keseluruhan saya menyukai novelnya. Akan lebih menarik jika kompleksitas masalah agak ditambah atau novelnya lebih diringkas. Saya akan mencoba membaca novel lain karangan Ika untuk lebih mengenal signaturenya.

Saya memberi nilai 7.5 skala 10. Cocok buat jomblo yang mau (baca: sudah kepengen banget) nikah (agar punya bayangan kalau nantinya gak jomblo lagi dan menikah), mereka yang sudah berumah tangga, maupun yang mengenang rumah tangganya. Membaca novel ini membuat saya ingin berbuat lebih untuk pasangan saya di rumah, bahwa cinta itu harus selalu dipupuk, jangan hanya take it for granted. Pernikahan adalah komitmen, komunikasi sangatlah penting dalam menyelesaikan masalah. Eskalasi kepada Tuhan YME juga sangat krusial agar kita tidak merasa dunia mau kiamat.

Terkadang, kita tidak pernah tahu bahwa kita memiliki sesuatu sampai kita kehilangannya.

 

Iklan

Review Kumpulan Cerpen DUNIA SUKAB

Sudah lama sekali saya baru bisa menyelesaikan sebuah buku. Padahal ada beberapa buku yang saya beli, namun selalu terhenti di tengah jalan. Penyebabnya ada beberapa. Di antaranya:
– kehilangan motivasi karena merasa kok tulisannya tidak seperti yang diharapkan
– beli bukunya dulu mungkin karena lapar mata
– gangguan telepon pintar, saking pintarnya membuat kita semakin bodoh. Baru mau melanjutkan sudah buka Facebook. Youtube. Whatsapp. Google. Dari bangun tidur, ke kamar mandi, sarapan, di Gojek menuju stasiun, menunggu kereta, gelantungan di kereta, di Gojek ke kantor, di sela-sela jam kantor, makan siang, pas di Gojek ke stasiun, menunggu kereta, gelantungan di kereta, di Gojek ke rumah, di kamar mandi, sambil makan malam, dan sebelum tidur. Coba bayangkan! Terus kapan bisa bacanya???

Ada yang senasib dengan saya? Ayo ngaku! Hahaha.. Saya sepertinya menderita penyakit nomophobia. Akhirnya saya bertekad mengurangi melirik iPhone, terutama di stasiun dan di kereta. Di manapun bisa membaca dengan enak, harus dipaksakan untuk membaca. Menyelesaikan yang dulu telah dimulai. Dan saat ini yang saya selesaikan adalah kumpulan cerpen salah satu cerpenis favorit saya, Seno Gumira Ajidarma.

Img2

Dari mana saya kenal tulisan beliau? Ceritanya begini. Almarhum ayah saya yang meninggal dunia empat tahun lalu, dulu adalah pelanggan Kompas yang setia. Saya paling suka dengan Kompas Minggu karena ada TTS dan cerpennya. Setiap kali saya baca tulisan beliau, saya suka. Dia terkadang pandai bermain mild twist dan sering menulis simbolisasi akan kehidupan sosial yang terjadi di Indonesia. Cerpennya banyak yang berisi kritikan sosial atau protes atau sekedar menggambarkan apa yang ia rasakan dalam melihat carut marutnya dunia Indonesia, politik, dan kehidupan sosial masyarakatnya.

Siapa itu Sukab? Baca nih asal-usul kenapa Sukab begitu melegenda.

Tanpa membawa-bawa teori, saya menjadi geli, karena tokoh fiktif ini rupa-rupanya lebih eksis ketimbang banyak manusia beneran, yang berdarah dan berdaging, tapi kehadiranya tidak pernah eksistensial, sehingga kemungkinan besar tidak pernah diperbincangkan oleh siapapun dalam konteks apapun seumur hidupnya. Padahal, dalam fiksi pun sukab bukanlah nama seorang tokoh. Sukab hanyalah sembarang nama yang saya pasangkan kepada setiap tokoh, sekedar karena saya malas “mengarang”, menyesuai-nyesuaikan nama dengan karakter tokoh supaya meyakinkan, dan lain sebagainya. Setiap kali saya kesulitan mencari nama, saya pasang saja nama Sukab. “Toh sama-sama fiktif ini,” pikir saya, “kenapa harus susah-susah cari nama?”

Membaca cerpen Seno, kita akan merasakan pekikan suara kritikan wong cilik, yang menembus penjuru tanah air, bukan melalui demo dan kekerasan, namun dalam bentuk sastra. Ia akan menghunjam batin dan nurani kita, sehingga kita bisa mulai untuk bergerak. Mulai untuk bersikap. Atau bahkan mulai untuk bertindak. Itulah kekuatan pikiran, rasa, dan tulisan Seno. Hati yang peka, nurani yang halus, akan merasakan ketidakadilan, keputusasaan, kesewenang-wenangan, dan pemberontakan yang diungkapkan Seno melalui karakter yang ia ciptakan. Salah satu bunglonnya ya itu, Sukab.

Kumpulan cerpen setebal 230 halaman ini berisi tiga bagian:
– Dunia Sukab 1 (delapan cerpen)
– Dunia Sukab 2 (enam cerpen)
– Dunia Sukab 3 (tiga cerpen).

Cerpen-cerpen itu pernah dipublikasikan dalam berbagai harian maupun majalah yang terentang dari tahun 1985 hingga tahun 2014. Kejadian kerusuhan 1998, di mana saya juga merasakannya, diwakili oleh cerpen-cerpen yang ditulis Seno seputar kejadian itu. Penyiksaan orang yang salah tangkap yang dulu jadi trend, ikut menjadi salah satu tema cerpennya.

Buat kamu yang suka cerpen, terutama penuh dengan kritik sosial politik, saya rekomendasikan untuk membaca buku ini!

Saya memberikan 8 skala 10.

Ulasan Buku “BLOGGING: HAVE FUN AND GET THE MONEY”

Semalam saya mencoba mencari buku yang ditulis oleh Carolina Ratri ini di Toko Buku Gunung Agung Senayan City. Ketika datang ke sana bukunya ternyata belum masuk. Dari pencarian di komputer, buku ini tidak dapat ditemukan, baik dengan menggunakan judul maupun pengarang.

IMG_5453

Menurut pramuniaga yang melayani saya dengan penuh kasih sayang antusias, kecepatan sebuah buku masuk ke tiap gerai buku berbeda-beda. Menurut hukum fisika, kecepatan sebuah benda berbanding lurus dengan jarak tempuh dan berbanding terbalik dengan waktu tempuh. Jika waktu tempuh pengiriman buku lama karena macet atau ban kempes, maka kecepatan masuknya buku ini bisa rendah juga. Walah ini kok malah membahas pelajaran fisika, ya?

OK, kembali ke laptop.  Saya termasuk orang yang kalau udah kebelet pengen sesuatu, harus kejadian. Jadi meski semalam saya gagal membawa pulang buku Blogging: Have Fun and Get the Money (BHFGM) ini, saya harus mendapatkannya hari ini. Padahal pagi tadi saya harus berada di German Center BSD yang jaraknya jauh dari kantor untuk keperluan BCP, dan baru sore kembali ke kantor di Senayan. Kalau mau beli buku langsung berarti harus menunggu pulang kantor dan bermacet-macet ria ke toko buku lain, misal Gramedia Plaza Semanggi atau Gramedia Pondok Indah. Hmm.. sayang waktu terbuang percuma hanya untuk mendapatkan buku ini di tangan. Mau tidak mau harus pintar-pintar memanfaatkan teknologi di era digital seperti yang pernah saya tulis sebelumnya.

Dari dalam kereta Commuter Line arah Stasiun Palmerah, saya langsung Googling mencari info telepon Gramedia Plaza Semanggi.

IMG_5462

Langsung saya telepon dan memastikan stok bukunya tersedia. Alhamdulillah, ada! Satu stok bahkan disimpan ke Customer Service agar dipastikan saya mendapatkan buku ini. Maklum ini buku masih hot, dan para blogger atau mereka yang ingin terjun ke dunia blogging bisa kalap ingin mendapatkan buku ini. Saya tentu saja tidak mau kehabisan.

Ketika berjalan menuju gedung kantor saya bekerja, langsung saya buka aplikasi GOJEK, pilih Go Mart, kemudian memasukkan Gramedia Semanggi.
IMG_5465

Setelah selesai menekan tombol ORDER, wajah kurir GOJEK muncul di layar HP saya.

IMG_5466

Sembari menunggu buku, saya melanjutkan pekerjaan saya, menghadiri meeting, membalas e-mail, dan sebagainya. Tidak lama kemudian buku yang saya tunggu-tunggu akhirnya hadir juga. Alhamdulillah!

Senyum manis Abang Gojek

Senyum manis Abang GOJEK menyerahkan buku yang diidam-idamkan!

Setelah jam kerja berakhir langsung saya buka plastik pembungkusnya dengan perlahan dan penuh kehati-hatian agar tidak menggores cover buku yang cantik ini. Sebelum membaca saya coba membuka-buka halamannya untuk melihat kualitas kertas, font tulisan yang digunakan, ilustrasi gambar dalam buku, dan tentu saja daftar isi.

Inilah komentar saya dari sekilas pandang untuk mendapatkan kesan pertama, apakah buku ini tampak meyakinkan atau tidak. Sebagai seorang penulis buku yang bukunya pernah hadir di Gramedia dan Gunung Agung, saya tentu saja tertarik untuk membandingkan dengan buku yang pernah saya tulis dulu tentang dunia pemrograman beberapa tahun yang lalu, setidaknya dari segi fisik, bukan dari konten.

  1. Cover Buku
    Gambar ilustrasi cukup OK, menggambarkan seluk beluk dunia blogging. Judulnya ditulis dalam Bahasa Inggris, yang mencoba memberikan efek keren dan gaul, namun memiliki drawback juga. Pembaca yang tidak teliti dan melihat di rak buku dan menghindari buku asing, akan mengira ini buku yang menggunakan Bahasa Inggris. Coba bandingkan bila judulnya Asyiknya Ngeblog dan Dapat Duit! Saya rasa masih dapat efek gaulnya dan konsisten dengan isi bukunya yang memang menggunakan Bahasa Indonesia.
  2. Font yang digunakan enak dilihat, konsisten dengan pembagian seksi buku, termasuk penggunaan bahasa asing.
  3. Gambar ilustrasi mayoritas tetap jelas dilihat, meski sudah dicetak dalam bentuk buku. Biasanya ketika kita menulis buku di komputer, gambar ilustrasi memang jelas. Namun ketika dicetak gambarnya kabur. Penulis rupanya cukup teliti dalam memastikan gambar tetap enak dilihat meski ukurannya kecil.

Sampai tahap ini, saya merasa yakin (believe) dengan buku ini, meski baru sekilas. Percayalah, jika sering membaca buku, Anda akan mudah memutuskan untuk terus membaca atau tidak meski hanya melihat sekilas (padahal buku yang saya baca gak banyak-banyak amat hahahahahahahahahahahaha….Hush! Cukup menertawakan diri saya, kita fokus lagi ke buku ini).

Dari sisi konten penulis mengawali dengan cukup baik mengenai mengapa kita harus blogging, apa saja manfaatnya, dan ajakan blogging yang menghasilkan keuntungan secara finansial. Di bab pertama ini penulis mengajak kita blogging for fun hingga bisa mendapatkan banyak keuntungan, tanpa melupakan blogging for living with heart.

Di chapter 2, saya mendapatkan banyak sekali tips bagaimana kuatnya blog personal kita jika topik yang dibahas mengerucut pada topik tertentu. Istilahnya penulis adalah blog ber-niche. Jujur saya sudah mulai ngeblog dari jaman Friendster (duh ketahuan deh tuanya), Multiply jaya hingga sekarat dan mati, sampai akhirnya mengekspor kontennya ke WordPress ini. Dari dulu sampai sekarang hingga akhirnya saya baca buku ini, saya sempat tidak peduli dengan blog yang isinya mengerucut seperti ini. Saya hanya peduli bahwa saya akan berbagi apapun yang saya pikir bermanfaat atau apapun yang secara pribadi saya sukai. Ternyata dengan memiliki blog yang fokus topiknya akan memiliki banyak manfaat, misalnya lebih mudah dijadikan tambang uang, lebih mudah menjaring pembaca yang loyal, dan tentu saja membuat kita lebih fokus dalam menulis. Chapter 2 ini ditutup dengan gong yang sangat kuat, tips dasar SEO (Search Engine Optimization) alias bagaimana blog kita bisa dioptimalkan agar peringkat blog kita menjadi maksimal ketika dicari dari mesin pencari, misalnya Google.

Di chapter 3 kita diajak untuk meningkatkan kualitas kita dalam menulis. Berbagai tips menulis yang jarang kita dengar diberikan di sini.

Di chapter 4 penulis membahas mengenai Job Review, yaitu order ngeblog berbayar dari seseorang atau perusahaan sesuai pesanan. Aih indahnya ketika fase ini bisa kita dapatkan. Jangan kedip ketika baca bab ini. Eh.. gak mungkin ya kalau gak kedip? Maksud saya fokus baca di bagian ini karena banyak harta karun buat kita dapat penghasilan dari blogging. Ingat-ingat ya, chapter 4!

Di chapter 5, penulis menampilkan hasil wawancara dengan para blogger yang punya pengalaman mendulang uang dari blognya. Banyak tips penting dibagikan di sini. Highlight yang penting dan implementasikan!

Pada chapter 6, penulis membahas tentang cara mendapatkan uang dengan Ad Sense dan afiliasi dengan blog e-commerce macam Amazon, Lazada, dan Bilna. Ini jurus baru yang pernah saya endus di blog langganan saya, namun baru kali ini dipreteli jeroannya oleh penulis. Penting untuk disimak!

Terakhir, pada chapter 7, penulis memberikan tips untuk merawat blog yang kita kelola dengan memeriksa ada tidaknya pranala yang terputus, selalu terus meremajakan isinya, terus belajar agar materinya bertambah, dan terus berbagi kepada pembaca. Terakhir kita diminta bersilaturahim dengan sesama blogger, baik di dunia maya maupun dunia nyata.

Kesan saya terhadap buku yang memiliki 245 halaman ini adalah sangat positif! Saya merekomendasikan buku ini kepada siapa saja yang suka ngeblog, khususnya mereka yang ingin blognya bisa mendatangkan keuntungan, terutama secara finansial. Buku ini akan saya baca secara lebih mendalam lagi untuk membantu saya merapikan dan menyiapkan blog saya agar lebih menarik dan bisa mendatangkan keuntungan selain kepuasan pribadi. Jika ada yang mau pinjam buku ini, akan saya tolak mentah-mentah. Saya akan memintanya untuk membeli langsung di toko buku, karena buku ini akan bermanfaat dijadikan referensi dalam jangka waktu yang cukup panjang. Ini bukan masalah pelit atau tidak, tapi memang buku ini terlalu sayang untuk tidak dimiliki.

Weekly Photo Challenge: Treat

This week’s photo challenge theme is “Treat,” an intentionally open-ended prompt. For many, candies aren’t a favorite indulgence. Maybe you’re a savory food lover, or you’ve gone on a beautiful vacation to treat yourself. Perhaps some quiet time alone with a beloved novel is your greatest pleasure. This week, share with us a photo of something that you consider a marvelous treat.

One evening after a hard work day, I went to a pizza restaurant, ordered a cold lovely beverage and one big hot pizza with chilly and jalapeno. Those were not everything – one good book from Walter Isaacson to accompany me enjoying the evening. A full treat for my self.

Book and good beverage

Book and good beverage

So hot pizza

So hot pizza

Novel Terbaru Andrea Hirata : Ayah (2015)

Setelah sukses besar menerbitkan 8 novel edisi bahasa Indonesia (Laskar Pelangi, Sang pemimpi, Edensor, Maryamah Karpov, Padang Bulan, Cinta di Dalam Gelas, Sebelas Patriot, Laskar Pelangi Song Book), Andrea Hirata kembali menggebrak dengan novel terbarunya yang berjudul Ayah.

Novel ini menceritakan kisah cinta abadi Sabari kepada Marlena dan cinta Sabari kepada anaknya, Zorro. Dituliskan dengan gaya khas Andrea Hirata yang humoris, yang bisa membuat pembacanya terkena penyakit gila nomor 40, yaitu sindrom membaca bacaan kocak di tempat umum, tertawa atau terkekeh sambil memegang novel. Kisah ini berlatar belakang awal tahun 1990-an, salah satu di antaranya sekitar tahun 1993 ketika Lady Diana berkunjung ke Nepal. Kalau Anda pernah mendengar istilah cinta tidak harus memiliki, novel ini adalah salah satu contoh baik yang menggambarkan istilah tersebut. Cinta yang cukup dirasakan asalkan yang dicintai merasa bahagia, atau cukup bisa memandang wajahnya. Cinta yang selalu memberikan pengharapan, meski bagaikan pungguk merindukan bulan. Inilah cinta Sabari kepada Marlena. Suatu cinta yang tak bakal sanggup diriku memikulnya. Suatu perasaan yang demikian besar dan berat, hingga seolah-olah menjunjung bumi di atas kepala dan dada.

Seperti halnya Laskar Pelangi, novel ini juga terinspirasi dari kisah nyata yang diceritakan oleh seorang sahabat Andrea Hirata dan menceritakan kehidupan di Belitong. Ditulis setelah melakukan riset selama enam tahun, buku ini hampir mencapai 400 halaman yang dibagi ke dalam 67 bab. Terkadang babnya cukup pendek sehingga berkesan terlalu sedikit yang diceritakan. Saya merasakan bahwa begitu banyak yang akan dicurahkan dalam novel ini, namun ada beberapa poin penting di mana pembaca merasa suatu cerita bisa lebih menarik ketika dibuat lebih rinci, namun hanya singkat dikisahkannya. Mungkin karena ketagihan dengan cara menulis Andrea, pembaca merasa tidak puas ada bagian yang sangat rinci namun ada bagian lain yang penting dan butuh didetailkan tidak terjadi. Bagian akhir sebenarnya bisa diceritakan lebih rinci setelah pembaca bersabar mengikuti petualangan para tokoh utama dalam mengejar impiannya. Mungkin penyuntingan novel ini bisa dibuat lebih baik. Meskipun demikian, novel ini tetap menghibur pembacanya dengan humor-humor khas Andrea dan beberapa bisa membuat dada pembacanya basah karena terharu.

Kisah cinta dalam novel ini mengingatkan saya kepada film Love in the Time of Cholera yang dibintangi oleh Javier Bardem. Sedangkan kisah cinta ayah kepada anaknya mengingatkan saya pada film Kramer vs Kramer yang dibintangi oleh Dustin Hoffman dan Meryl Streep dan film The Pursuit of Happyness yang dibintangi Will Smith dan anak kandungnya.

Ayah

Ayah

Novel ini saya ganjar dengan nilai 8 / 10. Wajib baca buat penggemar tetralogi Laskar Pelangi.

Dari Soekarno sampai SBY – Intrik dan Lobi Politik Para Penguasa

Ingin tahu kelebihan dan kelemahan semua presiden kita dari Soekarno sampai SBY? Baca buku ini. Karakteristik masing-masing presiden digali dari informan yang merupakan orang-orang terdekat masing-masing di zamannya.

Membaca buku ini membuat kita tahu dari masing-masing Presiden:

·Tipe-tipe kepemimpinan (Dominance, Influencing, Steadiness, dan Compliance)

·Sifat dan karakteristik komunikasi (High, Medium, and Low Context)

Kuatnya fakta-fakta yang disajikan dari berbagai sumber, membuat kita kadang tercengang dan manggut-manggut ketika tahu intrik dan strategi masing-masing presiden. Ada yang bikin ketawa sendiri, dan ada yang merasa patut dikasihani.

Semua presiden kita ada kelebihan dan kekurangan masing-masing. Membaca buku ini (mungkin) sangat mempengaruhi pilihan kita pada pilihan CaPres mendatang.

Buku ini ditulis oleh Prof. Dr. Tjipta Lesmana, M.A, seorang dosen, wartawan, dan kolumnis. Ini adalah bukunya yang kesembilan. Buku lainnya adalah Kapitalisme Soviet (1987), Tragedi Prioritas (1987), Runtuhnya Kekuasaan Komunis (1993), Pornografi dalam Media Massa (1995) dan Pencemaran Nama Baik dan Kebebasan Pers (2005).

Maryamah Karpov

Maryamah Karpov adalah buku keempat dari tetralogi Laskar Pelangi. Buku ini merupakan detail dari ketiga buku pendahulunya. Proses pencarian A Ling menjadi puncak dari buku ini, namun seperti ketiga buku pendahulunya, Andrea Hirata tetap menegaskan satu hal, yaitu harapan dan impian. Diawali dari kepulangan Ikal setelah menempuh S2 di Sorbonne hingga hasil usaha Ikal mencari A Ling.Menurutku bukunya tetap lucu, meski nggak seceria Sang Pemimpi. Membaca buku terakhir ini seperti menonton film La Vita E Bella (Life is Beautiful). Indah sekali.

Wajib dibaca oleh semua orang, terutama yang sudah membaca ketiga buku sebelumnya.

 

The Starbucks Experience

Tanggal 4 Oktober yang lalu kami sekeluarga mampir ke Gramedia Pondok Indah, dan saya memborong 4 buku. 3 untuk saya, 1 untuk istri. Saya membeli The Starbucks Experience, The Apple Way, dan Warren Buffet. Istri pengen membaca buku ketiga dari tetralogi Twilight.

Ok, saya coba review satu buku yang baru selesai pagi ini dalam perjalanan Bandung – Jakarta, naik travel Bimo dengan VW Caravell. Terus terang saya tidak begitu sering membeli kopi di Starbucks. Saya kurang begitu suka kopi, apalagi kopi kental pahit. Kalau minum kopi sukanya yang ringan-ringan saja. Nah saya lebih suka coklat. Hal lain mengapa jarang ke Starbucks karena harganya menurut saya cukup mahal untuk ukuran kantong. Yah kadang-kadang saja beli ke sana. Saya tertarik membaca buku The Starbuck Experience, pertama karena desain covernya yang menarik. Dengan logo Starbucks yang terkenal itu terletak di tengah halaman dan ada gambar kertas pelindung dari panas yang melingkar di tengah, mengingatkan kita gelas Starbucks. Catchy. Hal lain adalah saya tertarik dengan perusahaan yang sangat terkenal ini, dan pernah masuk jajaran 10 besar bareng-bareng Microsoft dan Google.

Buku ini ditulis tidak untuk mengajak Anda minum kopi di sana. Tidak. Tetapi karena keunikan bisnis dan tanggung jawab sosial perusahaan inilah yang mencoba ditularkan penulis kepada pembacanya.

Ada 5 hal yang dianggap penulis penting untuk kita serap dan telah dipraktekkan oleh Starbucks:
1. Lakukan dengan Cara Anda
2. Semuanya Penting (jangan remehkan detail)
3. Surprise and Delight (kejutan yang menyenangkan)
4. Terbuka terhadap Kritik
5. Leave Your Mark (ciri khas)

Salah satu hal yang mencengangkan adalah saham Starbucks sejak th 1992 telah meningkat sebesar 5000%! Buku ini enak dibaca secara penulisnya adalah konsultan, terbiasa memberikan pelatihan, dan juga seorang penyiar radio!

Hard cover dengan sampul menarik, buku setebal 233 halaman ini renyah dengan pengalaman Starbucks yang banyak diambil dari para mitra dan pelanggan yang terinspirasi dengan tujuan mulia Starbucks.


Membaca buku ini, kita terinspirasi untuk lebih melakukan tanggung jawab sosial. Bisnis tetaplah bisnis, namun peduli pada komunitas di sekitar kita dan menyumbangkan sesuatu agar dunia menjadi lebih baik, adalah pilihan yang terpuji. Setelah membaca buku ini saya mungkin tidak akan menjadi pelanggan tetap Starbucks, tetapi saya merasa berterimakasih bahwa jika kelak nanti saya memiliki bisnis sendiri, setidaknya ada bekal untuk melakukan hal positif bagi dunia.

Selamat menjadi luar biasa dengan hal biasa!

Kumpulan Cerpen Islami : Lukisan Kaligrafi

Lukisan Kaligrafi adalah Kumpulan Cerpen karya A. Mustofa Bisri yang sebagian besar sudah pernah dimuat di media masa (tahun 2002 – 2003). Cerpen yang ada dalam buku ini adalah:
-Gus Jakfar
-Gus Muslih
-Amplop-amplop Abu-abu
-Bidadari Itu Dibawa Jibril
-Ning Ummi
-Iseng
-Lebaran Tinggal Satu Hari Lagi
-Lukisan Kaligrafi
-Kang Amin
-Kang Kasanun
-Ndara Mat Amit
-Mbah Sidiq
-Mubalig Kondang
-Ngelmu Sigar Raga
-Mbok Yem

Saya beli buku ini di Gramedia Pondok Indah sudah Cetakan III, di samping beberapa buku lainnya (Twilight untuk istri, yang filmnya tahun ini bakal keluar).

Wah membaca cerpen-cerpennya Mustofa Bisri, saya banyak menemukan ironi dalam karya-karyanya. Unsur ironi ini menjadi menarik karena mempunyai efek mengejutkan dan membuat penasaran bagi pembacanya. Ditulis dengan gaya sederhana dan mudah dipahami masyarakat awam. Ceritanya singkat namun menawarkan konsep yang dalam tentang pemahaman dan implementasi Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Beberapa hal yang bisa saya tarik dari cerita-cerita beliau:
– Jangan menyombongkan ilmu yang kita miliki meski lebih di atas rata-rata orang kebanyakan.. karena dibalik kelebihan kita, mungkin itu adalah cobaan, yang justru akhirnya malah jadi bumerang, menjadikan kelemahan kita
– Keimanan perlu dimaintenance, agar tidak bobrok dan malah tersesat
– Jangan meremehkan apa yang kita tidak sukai, karena bisa jadi kita justru dapat lebih buruk dari apa yang kita tidak sukai itu
– Beberapa cerita mengandung romantisme dan dagelan di cerita lainnya lebih ke arah supranatural (mirip beberapa cerpennnya Danarto)
– Orang yang terlalu mengkultuskan orang lain seringnya malah pada akhirnya menghinakan orang yang dikultuskannya.

Harga di bawah 20 rebu, jelas layak dikonsumsi sambil ngabuburit.

 

A Thousand Splendid Suns

Aku lebih suka buku ini ketimbang The Kite Runner. Khaled sangat jago mengarang cerita yang terasa seperti dokumenter. Kepiawaiannya menggambarkan setting fiksi berbalut kejadian nyata yang terjadi di Afghanistan membuat kita seolah membaca kisah nyata.

Hebat sekali! Sangat dalam penggambaran karakternya dan menyentuh hati kita. Membuat kita mengerti bagaimana Afghanistan porak-poranda. Bagaimana negara yang selalu terjadi pertumpahan darah itu mengisahkan kisah cinta di tengah bencana.

Dari dua buku yang kubaca, ada beberapa ciri khas Khaled:
1. Menceritakan kisah yang mirip dokumenter
2. Mengisahkan tokoh utama bukanlah tokoh suci dari sisi agama (pasti ada aib dari sisi agama yang dimiliki tokoh utama, yang membuatnya jadi sangat manusiawi)
3. Ada tokoh yang dikisahkan di awal lalu hilang (dan kita menganggapnya demikian), lalu tiba-tiba muncul di akhir cerita, mempengaruhi klimaks cerita
4. Tokoh utama bisa menderita semenderita-menderitanya, lalu cerah di bagian akhir
5. Selalu ada tokoh yang menyesal hingga akhirnya mati, tidak dapat tercapai cita-citanya

Membaca novel Khaled seperti dibawa naik jet coaster. Kita pilih naik, tapi setelah naik menyesal dan pingin cepat turun, tapi setelah asyik malah pengin lagi, dan tidak mau berhenti. Yang membuat menyesakkan dada adalah ceritanya yang bisa memilukan dan menyayat hati.

Recommended deh buat pecinta novel.

Pengin denger wawancara dengan pengarangnya tentang buku ini? Klik aja di sini.

Foto-fotonya bisa dilihat di sini

Gambar dari Amazon. Bukunya dah ada di gramedia.