#FFKamis – Arisan Tanpa Undian

“Sayang, sore ini kita jadi ketemuan, kan?” rayu Anwar lewat iPhonenya.

“Sepertinya bisa. Sekitar jam empat ya” bisik Tini perlahan.

“Mau ketemuan di mana? Tempat biasa?”

“Jangan di Hotel Perwira. Bagaimana kalau di Hotel Rita dekat Mal Pajajaran?”

“Ok, sampai ketemu nanti ya. Love you!”

“Love you too” jawab Tini sambil mematikan Samsungnya lalu menghubungi Samsul, suaminya.

“Mas, sore ini Mamah ada arisan di rumah Bu Joko ya.”

“Oh ya, kebetulan Papah juga masih meeting di Puncak, Mah” jawab Samsul.

“Sampai ketemu nanti malam ya Pah! Muach!”

“Muach muach muach!”

Setelah menutup telepon Samsul kembali ke pelukan sekretarisnya yang seksi.

nap


Postingan tepat 100 kata ini adalah kontribusi Flash Fiction Kamis, dengan topik Arisan. Gambar dari sini.

#FFKamis – Cintaku Pupus di Waru Doyong

“Dek, sudah tak tahan Mas untuk meminang dirimu” kata Tanto dengan mupeng.

“Sabar ya Mas. Inilah mengapa aku mengajakmu pulang kampung sekarang. Sudah saatnya keluargaku mengenalmu, Mas sayang..” timpal Rianti dengan penuh kelembutan.

“Tapi.. apa ayahmu mau menerimaku yang supir bus ini sebagai menantunya? Apalagi Mas sudah punya istri.”

“Jangan kuatir Mas. Cinta kita akan menaklukan kekerasan ayahku. Percayalah padaku.”

“Dek, kok kita berhenti di sini?” tanya Tanto keheranan.

“Ini kampungku, Mas. Biarpun rumah di sini sempit-sempit tapi kami saling berdekatan satu sama lain.”Img3

Keesokan harinya warga kampung menemukan Tanto tergeletak pingsan di sebuah tempat pemakaman umum Desa Waru Doyong.


Kontribusi Flash Fiction Kamis  berjumlah 100 kata dengan topik Kampung. Gambar dari sini.

#FFKamis – Tragedi Kolak Biji Salak

Setiap tahunnya, selama bulan Ramadan, hanya takjil kolak biji salak buatan tetanggaku yang kunanti. Ketika azan berkumandang, beduk ditabuh bertalu-talu, dan doa berbuka puasa dipanjatkan, kolak buatan Rina yang cantik itu sudah siap untuk kusantap.

Sore itu, Ramadan hari ke-18, rumahnya sudah banyak orang. Luar biasa pikirku. Banyak sekali ternyata yang menyukai kolak biji salak buatan Rina.

bijisalak.jpg

“Mbak, antri beli kolak juga ya?” tanyaku pada seorang wanita di depan rumahnya.

“Nggak, Mas. Loh belum tahu ya? Rina ditemukan meninggal di dapurnya tadi siang. Kolaknya tumpah berceceran di lantai dapurnya”.

Aku diam terpaku memikirkan harus berbuka puasa pakai apa hari itu.


Jumlah kata dalam flash fiction Kamis ini yang bertema Takjil adalah tepat 100 kata. Gambar di ambil dari sini.

#FF Kamis – Jones

Malam minggu ini aku mau membunuh nama julukanku. Kau pasti pernah mendengarnya. Jones. Jomblo ngenes. Julukan ini disematkan padaku setelah kegagalan cintaku yang berulang. Ada yang bertahan sebulan dan ada yang seminggu (ini yang paling sering). Aku sudah siap tempur untuk menembak Rani, pujaan hatiku, malam ini.

Img4

 

“Halo, Andi?” suara Rani di seberang telepon.

“Ya, Ran? Tumben nelpon?” kataku tidak percaya ditelpon Rani.

“Aku mau ngajakin kamu nonton Conjuring 2. Mau gak?”

OMG. “What??? Yes!” pekikku dalam hati.

“Nanti malam?” tanyaku.

“Iya, aku ajak pacarku, kamu ajak juga pacarmu ya. Kita double date!”

Mataku berkunang-kunang dan lidahku mendadak terasa kelu.


Tulisan ini adalah kontribusi Flash Fiction yang sedianya dibuat setiap hari Kamis. Temanya adalah Rencana. Jumlah kata  harus tepat 100 kata. Gambar dapat dari sini.

#FFKamis – Kebaya Pertama

Suara dering telepon mengagetkan Rina di kamarnya.

“Hai Tamara! Apa kabar?”
“Baik, Rin! Eh elo jadi kan datang di Metro TV pagi ini?”
“Jadi doong.. Eh gue baru mau pake kebaya nih buat syuting.”
“Oke kalau gituu.. ketemu di sana yaa, Cyiin?”
“Okeeee.. byeeeee!” tutup Rina.

Rina memilih bra,  celana dalam, dan kebaya bermotif batik yang dia beli secara online. Kebaya ini adalah kebaya pertama yang ia pakai seumur hidupnya.

Sesampainya di studio TV, seorang lelaki memberikan sebuah map berisi naskah yang harus ia pelajari.

“Rinaldi Indrawan?” tanyanya ragu.
“Iya, Mas. Panggil saja saya Rina,” kata Rina sambil tersipu malu.

Img1


Tulisan fiksi ini ditulis sebagai bentuk kontribusi #FFKamis dengan topik Kebaya. Jumlah kata harus tepat 100, tidak boleh kurang dan tidak boleh lebih. Gambar diambil dari sini.

 

 

#FF Kamis – Inem yang Bawel

“Mar, rumahmu mati lampu, gak?” tanya Inem.

“Sekarang? Nggak tuh Nem. Nyala kok.” jawab Marni.

“Kamu mah enak. Rumah lega. Viewnya keren. Lah aku? Mana sempit, panas pula!” gerutu Inem. “Apa yang salah coba? Rumah gelap terus. AC mati. Bisa mati aku lama-lama.”

“Sabar saja Nem. Kita harus bersyukur apa yang diberikan kepada kita. Jangan mengeluh terus.”

“Ah kamu ngomong enak. Rumah adem. Terang. Coba gantian sama aku. Baru kamu bisa ngrasain penderitaanku.”

Tiba-tiba beberapa orang mendekati Inem dan Marni.

“Yaa siiiin…”

“Ssssttt… ada yang kirim doa buat kita, Nem. Jangan ngomong dulu yaa.. “ kata Marni dari liang kuburnya.


 

Tulisan ini dibuat sebagai partisipasi untuk #FFKamis dengan topik “ROH”, dengan batasan tepat mengandung 100 kata. Lihat cerita lainnya di sini.

#FF Kamis – Menang Tender

white

“Mah, alhamdulillah project Papah goal, Mah! Project yang sudah lama Papah harapkan!”, teriak Toni pada istrinya via telepon.

Istrinya tetap bergeming, meneteskan air mata. Tanpa suara.

“Mah, mengapa diam saja? Mengapa kau menangis, Mah? Harusnya Mamah gembira!”, lanjut Toni tak habis pikir.

“Bertahun-tahun kita berusaha agar project ini bisa kita dapatkan dengan susah payah. Setelah kita dapatkan kenapa engkau tidak turut bahagia, Mah?”, tanya Toni dengan suara bergetar.

“Bu Toni, sabar ya. Insya Allah Bapak khusnul khatimah”, kata Pak RW.

“Wahai Toni bin Fulan, kendaraan menuju surga sudah siap. Apakah engkau siap?”, sebuah suara membimbing Toni ke arah cahaya putih.