(Hukum) Karma X-Files


Suatu sore, setelah Jumat yang melelahkan oleh customer yang inginnya cepat dilayani tanpa mau tahu proses detail teknisnya, aku berjalan gontai ke sebuah mal untuk melepaskan kepenatan. Aku melirik arloji di tanganku, waktu hampir menjelang maghrib.
Segera kulangkahkan kaki ke musholla di lantai 3, sambil kusms atasanku.
Mereka langsung kujelaskan duduk perkaranya dan mengupdate status pekerjaan, bahwa aku telah melakukan semua yang bisa kulakukan, dan kini menemui kebuntuan karena ketidakrasionalan seorang client yang jabatannya cukup tinggi.
Ekskalasi, atau raising exception, ketika suatu masalah tidak bisa diselesaikan, adalah prosedur di tempat kerjaku. Setelah sholat, aku pesan makanan cepat saji ala Jepang untuk mengusir laparnya perut.

Tak lama kemudian, aku melangkah menuju studio XXI, dan aku berencana refreshing dengan X-Files, I Want to Believe, yang diputar pertama kali hari itu. Tiketnya 50 rebu. Darn. Mahal amat. Biasanya nonton cuma 35 rebu berdua. Ya udah aku tanya ke Mbaknya. Mbak ada program khusus nggak? Dia bilang ada, pake Kartu Kredit BCA. Karena sendiri, akhirnya aku berencana beli dua tiket, 1 untuk X-Files.
Ada beberapa pilihan, akhirnya pilihan jatuh ke Karma. X-Files karena penasaran, apa lagi yang mau ditawarkan setelah sekian lama. Dan Karma karena poster dan trailernya lumayan menjanjikan.

Ini pendapatku (maaf kalau ada spoiler).


X-Files
Film yang bertahun-tahun lamanya muncul sebagai film seri TV di SCTV dan banyak penggemarnya ini benar-benar mengecewakan.
Cerita kriminalnya kelihatan sekali hanya tempelan. Dulu, Scully dan Mulder adalah dua anggota FBI unit khusus yang bekerja secara
profesional untuk menangani kasus yang diluar nalar atau hal-hal yang berkaitan dengan superstitious alias takhayul, macam manusia serigala,
alien, dan hal-hal lainnya. Scully mencoba melakukan pendekatan ilmiah, dan Mulder dengan believe dan intuisinya. Mereka bekerja sangat profesional
dan mengesampingkan perasaan mereka satu sama lain. Seperti falsafah Jawa, tresna jalaran saka kulina. Cinta bisa bersemi dari seringnya berjumpa.
Nah di film ini Scully dan Mulder sudah tidak lagi anggota FBI. Dan hubungan mereka bahkan sudah sangat jauh. Namun terlambat.
Chemistry antara keduanya sudah terlihat hambar. Mereka tampak tak bisa bersatu karena Scully berpegang teguh pada logika dan bukti nyata, sedangkan
Mulder dengan intuisinya. Mereka sudah bersatu, namun dipisahkan oleh hal yang dulu justru menyatukan mereka.
X-Files yang sekarang, I Want to Believe, hanya ingin menunjukkan kepada penonton yang mungkin dulu tidak mengikuti ceritanya.
Hasilnya, film ini kayak dibuat dari 0 lagi, dan tentu saja memuakkan buat para penggemarnya. Kisah cinta yang ditampilkan sudah tidak lagi
ditunggu-tunggu dan terlambat. Chris Carter, what’s wrong with you? This installment should be titled I Want to Puke.

Karma
Film ini disutradari oleh Allan Lunardi. Ceritanya ditulis oleh Salman Aristo. Sudah terlihat bahwa ini film horor dari posternya.
Tampak seorang wanita hamil yang perutnya dicengkeram hantu berpakaian cina dari belakang. Dari para pemainnya rata-rata pemain muda,
namun ada yang senior seperti Damsyik dan Adi Kurdi. Dari seluruh pemain, cuma Adi Kurdi yang aktingnya paling natural. Nggak heran.
Perannya sangat kuat di film Kartini yang dulu diperankan Yenni Rahman (Dialognya yang terkenal, “Ni, maturo Ni..”).
Di film Karma Adi Kurdi menjadi tukang foto keluarga Guan dari mudanya.

Film ini bercerita tentang kematian-kematian yang misterius dalam Keluarga Guan. Salah satu keturunannya,
Armand (Joe Taslim – atlet Judo Sea Games) jatuh cinta pada Sandra (Dominique Agisca).
Armand adalah putra dari istri kedua Phillip (Hengky Solaiman), ayahnya, anak pertama dari kakeknya, Tiong Guan (H.I.M. Damsyik).
Keluarga Guan, terutama para Ibu meninggal secara misterius setelah melahirkan anak perempuan.
Hubungan Armand dan Sandra tidak disetujui keluarga Sandra. Maka saat mengandung anak Armand di luar nikah dan diusir oleh keluarganya,
Sandra tidak peduli dan pulang ke Indonesia karena Armand berjanji untuk menikahinya.
Kejadian-kejadian aneh muncul sejak malam pertama Sandra tinggal di rumah keluarga barunya itu.
Sandra selalu dihantui sosok seorang wanita berpakaian pengantin Cina kuno dan suara-suara yang menyuruhnya pergi dari rumah itu.
Karena cintanya pada Armand dan tengah hamil 6 bulan, Sandra bersikeras untuk tetap tinggal dan menguak misteri
di balik malapetaka yang terjadi pada semua perempuan di keluarga Guan, meskipun jiwanya terancam.

Dari awal, dialognya buruk, klise, dan humor yang dilontarkan super kriuk. Super jayus supranus. Coba deh perhatikan, Sandra sering nyletuk,
cuma dia doang yang nyengir. Penontonnya mah boring. Musiknya lumayan. Hantunya difilter warna kelabu. Not bad. Dari niatnya untuk tidak
membuat film horor dengan penampakan hantu yang klise udah bisa dihargai. Sayang kedodoran dari segi cerita dan DIALOG.
Plot hole juga tampak di sana sini.

X-Files dan Karma adalah contoh dua film yang nggak banget untuk ditonton di bioskop.

Iklan

Posted on Juli 29, 2008, in Ulasan and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: