Dilan (2018): Sebuah Review dan Kenangan Zaman Old

Minggu lalu, pas ada kondangan di daerah Pejaten bersama bujangku yang kelas 3 SMP, kami menyempatkan nonton Dilan di Pejaten Village. Biasanya saya gak demen nonton teen flick ginian. Tapi bujang kelihatannya pengen nonton karena sudah baca novelnya. Saya baca reviewnya sekilas kok lagi happening, semua orang sibuk membahas tentang film ini. Dan konon, hingga tulisan ini diposting, penontonnya sudah tembus 1 juta. Angka yang fantastis, bukan? Dan faktor lain yang membuat saya penasaran adalah setting ceritanya di tahun 1990. Ini sedikit banyak akan mengingatkan masa SMP-SMA saya dulu hehehe…

Saya sendiri belum baca bukunya, yang berjumlah tiga jilid. Dilan 1990, Dilan 1991, dan Milea. Dari akhir film ada keterangan: “Sampai Jumpa di Dilan 1991”, itu berarti akan ada sekuelnya dan hampir mustahil tidak dibuat sampai yang ketiganya. Untungnya belum baca buku sebelum nonton adalah kita tidak perlu sibuk membandingkan dan mengkhawatirkan apakah filmnya sesuai bukunya atau tidak. Gak perlu protes pemainnya sesuai imajinasi kita atau enggak, dst. Menurut Pidi Baiq, bukunya ditulis dari kisah nyata seseorang yang bernama Milea. Jadi ini bukan murni fiksi.

Kesan apa saat dan setelah menontonnya?

Lanjutkan membaca Dilan (2018): Sebuah Review dan Kenangan Zaman Old

Kuliner di Bandung

Ketika menginap di Bandung awal tahun baru 2016 lalu, di samping mengunjungi museum Geologi, kami juga menyempatkan diri untuk mencicipi kuliner yang ada di Bandung.

Mie Yamin Akung

Makan siang pertama kami pilih makan di Mie Yamin Akung di Jl. Lodaya Bandung. Mienya porsinya lumayan banyak, belum pakai topping. Jadi mie semangkok, toppingnya di mangkok lainnya saking banyaknya. Jadi kalau perut kapasitasnya gak gede, mending pesan mienya setengah, lalu toppingnya separuh saja dulu. Prioritaskan di pangsitnya yang lembut dan bakso. Siomay dan tahu kapasitasnya gede. Bisa buat berdua sih kalau pesan full.

 

bandung (136 of 192)
Es Duren yang Amazing
bandung (134 of 192)
Mie Yamin yang Awesome
bandung (135 of 192)
Toppingnya Gokil Abis

Kalau mau ke sini jangan pada hari Jumat, karena memang setiap hari Jumat tutup. Datanglah pada hari selain hari Jumat dari jam 10.00 – 20.00 WIB. Sebaiknya hindari jam makan siang di hari libur. Datanglah di hari kerja kalau bisa.

Seafood HDL Cilaki

Secara kami sekeluarga doyan seafood, dari ikan sampai kepiting, tentu saja saya kangen makan di Seafood HDL Cilaki yang terkenal dengan porsi jumbo dan hot platenya. Saran saya makan seporsi untuk dua orang. Rasanya cukup enak namun ikannya agak bau lumpur. Kepiting Singapore sausnya mirip saus padang, enak banget!

bandung (20 of 192)
Cah Kangkung Ayam dan Kepiting
bandung (21 of 192)
Kepiting Saus Singapore ini Maknyus Tenan
bandung (23 of 192)
Ikan Goreng Kriuknya enak di tepungnya (sayang agak bau lumpur)

Terakhir, kalau ke Bandung jangan lupa makan Seblak. Berdasarkan rekomendasi dari teman, saya pilih Seblak Basah Deu Tjenghar.

bandung (143 of 192)

Toppingnya siomay garing dan ceker maknyus tenan!

Bagaimana pengalaman Anda di Bandung? Ada favorit lain?

Jalan-jalan ke Museum Geologi Bandung

Sewaktu kami menginap di Hotel Jayakarta Bandung, saya mengajak anak-anak untuk pergi ke Museum Geologi di Bandung. Jadi tidak hanya jalan-jalan menghabiskan waktu namun juga bisa mendapatkan ilmu.

Kami benar-benar tidak menyangka, hanya dengan uang masuk 3000 rupiah, kami bisa mendapatkan informasi dengan teknologi tinggi tentang terbentuknya alam semesta, terjadinya gempa bumi, tsunami, sejarah manusia purba, info batu-batuan, dan sebagainya. Informasi ini tidak mudah dijumpai dari tempat lain dan disuguhkan dengan tekonologi audio visual. Bahkan simulator gempa juga ada! Sebuah tempat berbentuk persegi dengan tombol yang bisa dipilih untuk menentukan skala gempa tersedia dan siap mengguncang tubuh Anda! Seru!

Buat mereka yang suka batu akik, pasti tergila-gila melihat banyak batuan indah di sini. Fosil hewan dan manusia purba juga dipamerkan di museum ini. Sangat menyenangkan sekali ada museum yang dilengkapi teknologi canggih seperti ini.

Semoga nantinya makin banyak museum yang dilengkapi teknologi canggih seperti museum ini, sehingga tidak membosankan bagi pengunjungnya.

Menginap di Hotel Jayakarta Bandung

Sudah bertahun-tahun lamanya saya tidak menginjakkan kaki ke Kota Bandung. Alasannya sangatlah klise. Bandung di week end adalah kemacetan panjang sejak papan informasi di jalan tol Cipularang menunjukkan arah keluar Pasteur mulai terlihat. Berikut ini adalah salah satu contoh kemacetan yang sempat direkam oleh OkeZone.

pundgd8mxu

Terakhir lewat Cipularang sekitar satu atau dua tahun lalu untuk pergi camping ke Ciwidey keluar Kopo tanpa mampir ke Bandung. Berangkat lancar, pulang macet luar biasa karena bertepatan libur Nyepi.

Belajar dari pengalaman traumatis itu kami berencana jalan-jalan ke Bandung tidak di hari libur nasional. Kebetulan saya dapat cuti besar tahun ini sehingga kami sekeluarga memutuskan untuk cuti di 4 Januari 2016 hingga 8 Januari 2016. Di saat semua orang telah lelah berwisata dari sebelum Natal hingga tahun baru dan kembali bekerja, kami baru mulai berpetualang. Anti mainstream. Jadi boleh dikata kami tidak berkontribusi terhadap lengsernya Dirjen Perhubungan Darat, Pak Djoko Sasono seperti diberitakan di sini.

Strategi ini ternyata sangat tepat. Banyak sekali yang terjebak macet di jalan tol dan di berbagai kota besar karena banyak orang memanfaatkan libur bersama dan panjang di Natal tahun lalu. Kami sendiri yang memilih berlibur setelah tahun baru, merasakan jalan tol yang nyaman dan tempat wisata yang tidak padat di Bandung dan sekitarnya.

bandung (1 of 192)
Bersiap Liburan
bandung (2 of 192)
Perabotan Lenong hahaha…

Kami berangkat jam 9 pagi sempat mengalami sedikit kemacetan di daerah Bekasi karena ada kecelakaan truk terbalik.

bandung (3 of 192)
Kecelakaan di dekat pintu tol Cikarang

Kami memilih menginap di Hotel Jayakarta Bandung yang berbintang 4 dan memiliki rate bagus di Traveloka, 50% diskon dari tarif walk in selama dua malam.

Berikut adalah foto-foto selama menginap di sana.

bandung (137 of 192)
Foto di kamar

Review dari kami:

  • Kamar lumayan OK, AC dingin, ada balkon
  • Kolam renang dingin airnya kurang begitu bersih. Yang asyik kolam whirlpoolnya yang hangat
  • Tempat main buat anak dekat kolam renang lumayan asyik
  • Makanan (sarapan) sangat biasa saja. Mending makan di luar

Paginya saya mencoba mengenal daerah sekitar sambil berolahraga jalan di pagi hari sampai ke Dago Atas. Lumayanlah buat cari keringat.

Overall, kami memberi rating 7/10 untuk pengalaman menginap di sana.

Selama menginap di sana kami mengunjungi beberapa tempat :

  • Seafood HDL Cilaki (cocok buat penyuka seafood porsi jumbo alias makan rame-rame)
  • Mie Akung di Jl. Lodaya (mie yaminnya enak dan toppingnya besar-besar. Pastikan separuh saja mienya, toppingnya setengah atau full. Es duren jangan lupa)
  • Seblak Deu TjengHar (murah dan uenak. Topping siomay keringnya asyik)

bandung (143 of 192).jpg

Bersilaturahim dengan teman SMA (Indah Wulandari) juga saya sempatkan, mumpung lagi ke Bandung.

Kami juga menyempatkan pergi mengunjungi Museum Geologi yang hi tech dan memberikan banyak informasi buat anak-anak. Foto-foto bisa dilihat di postingan berikutnya.

Setelah menginap dua malam di daerah Juanda ini, kami pindah ke villa di Lembang milik temannya teman. Lumayan murah. 750 ribu untuk tiga hari dua malam, bisa untuk 10 orang. Bisa masak pula karena semua peralatan masak sudah disiapkan.

Di sana kami mengunjungi de Ranch dan Sari Ater. Review dan gambar-gambar ada di postingan selanjutnya.

Camping di Ranca Upas – Ciwidey – Bandung

Tenda kami

Libur panjang Nyepi kemarin kami habiskan dengan berkemah di Ranca Upas, Ciwidey, Bandung. Tadinya mau camping bersama rekan kantor, Dony Alpha, yang sudah pernah ke sana duluan beberapa waktu lalu. Sayang anak-anaknya sedang sakit, jadi terpaksa batal ke Ciwidey. Karena sudah direncanakan akhirnya kami tetap berkemah, berlima minus istri yang mendapat tugas ke luar kota selama tiga hari. Malam sebelum keberangkatan, istri tercinta belanja makanan untuk dimasak selama camping. Tadinya mau sharing juga sama keluarga Dony, namun karena ada force majeur, bekalnya jadi terasa berlimpah 🙂

Bekal Makanan
Bekal Makanan

Saya, Rayyan, Aila, Angga (adik istri), dan Mbak Saroh bangun pukul 4 pagi untuk mempersiapkan segala sesuatunya, seperti sholat, sarapan, dan memasukkan barang-barang ke mobil. Apa saja yang kami bawa ke sana?

  • Tenda untuk 5 orang merk Turbo Tent, beli di Ace Hw. Pengen tahu speknya?
  • Kompor gas portable, beli di Ace Hw juga, dengan 4 kaleng gas dari Lotte Mart, sekalengnya sekitar 10 ribuan
  • Piring, gelas, mangkok, dan sendok buat piknik
  • Teflon buat menggoreng, panci kecil untuk masak indomie
  • Poci tanah liat dengan gula batu untuk ngeteh di suhu dingin 🙂
  • Beberapa bed cover dan pakaian antidingin berupa jaket tebal untuk menghangatkan badan
  • Aqua galon dan pompanya. Selama 3 hari 2 malam, untuk minum dan masak kami menghabiskan sekitar 3/4 galon. Ada Alfamart dekat Ranca Upas, sekitar 4 km dari BuPer. Jadi kalau membutuhkan cemilan, kopi, stmj, indomie, senter, kaos, sandal, dsb, bisa ke sini. Butuh cash? Bisa pakai BCA Tunai di situ. Nggak punya BCA? Pastikan mengambil uang di daerah Soreang, mumpung masih banyak ATM
  • Alat bantu penerangan. Kami membawa 1 lampu emergency yang ada di rumah yang biasa digunakan kalau mati listrik, 1 senter besar, 2 senter kecil, 1 lampu badai dengan baterai, dan 1 head lamp. Berguna kalau mau pipis ke WC atau mengambil barang di dalam tenda di malam hari
  • Terpal dan tambang untuk membuat bivak. Semakin lebar semakin baik.
  • Berbagai alat masak untuk menanak nasi, dsb
  • Pakaian ganti, kupluk, long john, dan pakaian renang (ada kolam air panas lho)

Apa saja yang kami tidak bawa dan kami harap membawanya?

  • Meja lipat kecil untuk makanan. Sebenarnya sudah disiapkan di garasi, tetapi karena barang-barang sudah masuk, tidak jadi dibawa karena bingung membawanya 🙂
  • Alas duduk dari plastik. Ruang vestibule di depan tenda bisa diberi alas duduk dari plastik ini untuk menampung barang-barang atau tambahan 1 orang. Kami membawa tikar lipat yang agak rentan terhadap air, jadi tidak bisa untuk duduk.
  • Keset untuk membersihkan kaki sebelum masuk tenda (akhirnya beli di Alfamart seharga 11 ribuan)
  • Ember dan gayung. Sebenarnya di depan Alfamart jual, namun maghrib sudah tutup. Jadi batal beli. Ember berguna untuk mencuci piring atau peralatan masak lainnya, membasuh kaki, dsb
  • Radio/TV dengan batere. Ketika hari sepi, mendengarkan musik atau berita sangat menghibur. Untung tetangga membawa radio sehingga kami bisa ikut terhibur
  • 1 tambahan kompor. Menggunakan 1 kompor portable untuk memasak air, nasi, dan lauk pauk untuk 5 orang, terasa sangat lama. Kalau misalnya ada 2 kompor, satu bisa untuk memasak nasi dan lainnya bisa memasak indomie atau lauk pauk lainnya.

Walhasil pukul 6 pagi berangkat dari rumah menuju tol Serpong, JORR, Cikunir, Cikampek, Cipularang, dan keluar di Kopo. Sempat berhenti satu jam untuk berbagai keperluan di Rest Area Cikampek.

Setelah keluar tol Kopo, kami merasa hari itu jalanan cukup macet ditambah ada kampanye PKS. Tapi kami menikmati saja perjalanan ini. Sampai Soreang sekitar pukul 1 siang. Kami memutuskan untuk sholat dan makan siang di Restoran Mawar di daerah Soreang. Ikan Gurame Saus Kacangnya dan Karedok Leuncanya maknyus!

Setelah makan dan sholat kami langsung menuju perkemahan Ranca Upas yang mulai mendung. Kami harus tiba sebelum hujan turun. Tidak berapa lama perjalanan yang menanjak itu akhirnya sampailah sudah. Berlima untuk 3 hari 2 malam dan mobil kami membayar 125 ribu rupiah. Karena berlima akhirnya kami menyewa satu tenda lagi dengan alasnya untuk dua malam sebesar 200 ribu rupiah. Petugas di sana membantu memasangkan tenda kami dan tenda sewaan, termasuk sebuah terpal untuk dijadikan bivak tempat berteduh ketika memasak di dekat tenda. Memiliki tenda sendiri benar-benar menghemat biaya untuk keperluan tenda.

Pagi hari setelah subuh, saya berjalan-jalan membawa kamera untuk mengambil gambar pemandangan di sekitar tenda sambil mengumpulkan beberapa informasi untuk dibagikan kepada anggota keluarga lainnya.  Nah sekarang kita lihat fasilitas-fasilitas yang ada di sana.

Fasilitas yang ada di Buper ini adalah:

  • Paint Ball (cocok kalau jumlah pesertanya banyak – dijamin seru karena perangnya bernuansa hutan)
  • Outbound (flying fox, rumah pohon, bungee trampolin, jembatan burma, dsb juga cocok kalau pesertanya banyak)
  • Kolam renang air panas (tiketnya 15 ribu per orang. Sayang tempat bilasnya sedikit, padahal yang datang banyak)
  • Penangkaran rusa (bisa membeli wortel seharga 5000 untuk diberi makan ke rusanya)
  • Sewa sepeda gunung (20 ribu per jam – asyik bisa membakar kalori memutari kompleks yang luas ini)
  • Trekking ke bukit

Dari pintu masuk yang ada tiketnya, di sebelah kiri sering digunakan untuk motocross. Saya sempat mengambil gambar aksi motor dan mobil offroad yang berlaga di situ.

Setelah puas menonton mereka berlaga, saya dan Rayyan menyewa sepeda dan membakar kalori selama hampir satu jam, naik tanjakan yang melelahkan namun sangat mengasyikkan!

Melihat-lihat pemandangan sekitar tempat camping adalah salah satu cara untuk memanfaatkan waktu di sana. Berikut ini adalah beberapa gambar yang saya ambil di tempat Berenang air panas dan beberapa tempat lainnya.

Kesan waktu mengunjungi kolam renang adalah airnya tidak kotor, lumayan lah. Airnya hangat, tidak panas, jadi tidak menyakiti kulit. Sayang tempat bilasnya kurang banyak. Dan waktu itu perosotannya sedang diperbaiki sehingga mengurangi potensi fun yang ada. Untuk perusahaan atau outbond dengan banyak peserta, Ranca Upas menjadi salah satu pilihan yang menarik.

Bagi Aila, yang paling menyenangkan di sini selain berenang di air panas adalah memberi makan rusa. Untuk melihat rusa tidak perlu membayar. Jika ingin memberi makan, bias membeli wortel seharga 5000 per plastiknya.

Di hari ketiga, setelah sarapan dan saying good bye ke rusa-rusa yang lucu, kami menyempatkan diri ke Situ Patenggang yang tidak jauh dari buper ini. Keluar tinggal belok kanan dalam waktu lima belas menit sudah sampai. Kami juga sempat mengambil foto di perkebunan the Walini yang menghijau.

Tidak jauh dari Walini, sampailah kami ke Situ Patenggang. Tempatnya sangat indah, apalagi kalau dikunjungi bersama kekasih hati. Berikut ini adalah hasil jepretan di sana.

Singkat cerita, liburan yang menyenangkan bersama keluarga tidak harus di hotel mewah berbintang lima. Berkemah di bawah jutaan bintang mensyukuri ciptaan Tuhan lebih bermakna. Berkemah melatih anak-anak hidup berdampingan dengan alam, melatih kemandirian, menguatkan fisik, dan banyak hal positif lainnya.

Berkemah di Ranca Upas Ciwidey merupakan pilihan yang menarik buat anak-anak karena ada fasilitas penangkaran rusa dan kolam renang air panas. Di sekitar buper juga ada tempat wisata Kawah Putih (yang in shaa Allah akan dikunjungi di lain waktu), kebun teh Walini, dan Situ Patenggang yang menawarkan keindahan alam.

Pembaca, apakah punya kandidat tempat berkemah yang menarik untuk Keluarga lainnya? Bagikan di komentar ya..

Jalan-jalan ke Kampung Gajah dan Kampung Daun

Kampung Gajah

Beberapa waktu yang lalu kami sekeluarga memutuskan untuk pergi ke Bandung setelah mungkin sekitar 3-4 tahun tidak pergi ke sana. Alasannya adalah trauma. Trauma dengan macet di Bandung dan Puncak. Jadi kami sangat menghindari pergi ke Puncak atau ke Bandung. Sehari sebelumnya, pas hari Jumat, saya bertanya kepada teman-teman di kantor. Ke mana lagi ya liburan di seputar Jakarta? Taman Mini bosen. Dufan bosen. Tenda Mongolia sudah. Michael Resort sudah. Sentul dan sekitarnya sudah. Ragunan bosen. Taman Safari sudah. Gunung Bunder dan air terjunnya sudah. Anyer gitu-gitu aja. Ujung Genteng, Tanjung Lesung, dan Sawarna kejauhan. Musti cuti 1 atau 2 hari di luar Sabtu Minggu supaya tidak terlalu lelah dan liburannya cukup dinikmati. Mal bosen. Museum? Di TMII bosen. Di luar TMII biasanya tidak terawat, bau debu, dan auranya Conjuring. Trus aku lebih suka outdoor. Mau camping lagi musim hujan. Akhirnya ada yang menganjurkan ke Kampung Gajah di Lembang. Setelah google, foto-fotonya sepertinya asyik. Ya sudah Sabtu habis subuh langsung google cari hotel. Sari Ater yang ada air panasnya habis. Full booked. Akhirnya nemu di Setiabudi, Banana Inn Hotel yang berbintang 4. Not bad, affordable, gak terlalu jauh dari kota, dan gak terlalu jauh juga dari Kampung Gajah. Dekat Paris Van Java kalau mau ke mal.

Berikut adalah foto-foto di hotel.

Hari pertama kami berencana ke Tangkuban Perahu, namun karena hujan dan sudah sore dianjurkan tidak ke sana oleh teman yang tinggal di Bandung. Diusulkan pagi harinya saja, baru ke Kampung Gajah. Jadi sore itu kami berenang saja di hotel.

Paginya setelah sarapan mereka berenang lagi di hotel setelah sarapan. Akhirnya keluar hotel pas check out dan langsung ke Kampung Gajah. Sayang di sana hujan terus sehingga sebagian besar permainan outdoor tidak dioperasikan. Akhirnya kami hanya mencoba naik robot Bumblebee (sangat tidak sepadan dengan harganya, 150 ribu rupiah hanya untuk 2 putaran). Mesinnya dari motor Mio yang tidak bertenaga dengan beban berat di atasnya. Menurut saya, tidak perlu dicoba. Anak-anak sih senang. Tapi harganya semahal itu, sangat tidak layak untuk dicoba. Yang kedua kami mencoba Rumah Teror, di man pengunjung wahana naik kereta di atas rel masuk ke ruangan super gelap, dengan boneka, pocong, dan petugas berpakaian yang mencoba menakut-nakuti kami. Sebagai penggemar film Conjuring dan Insidious, wahana ini tampak menggelikan ali-alih menakutkan. Hanya saya dan Rayyan yang mencoba. Aila dan mamahnya lihat-lihat baju di toko. Tipikal para wanita. Sigh.

Setelah itu kami cabut untuk makan siang di Kampung Daun. Begitu parkir dan mencoba reservasi, menunggu antrian ke-10. Akhirnya sambil menunggu reservasi saya memesan 3 kerak telor, bala-bala, ketan bakar, pisang aroma, dan segelas bandrek. Suhu yang dingin dibalut hujan yang tak berhenti dibalas dengan kenikmatan bandrek hangat dengan kelapa dan jagung muda. Rasanya AMAZING.

Setelah kami mendapat giliran, di dekat air terjun, perut kami sudah kenyang, sehingga hanya memesan minum saja. Harga makanannya cukup mahal. Tempatnya sangat bagus. Romantis dan indah. Yang dijual di sini adalah keindahannya. Setelah puas berfoto-foto, kami pulang ke Jakarta, dengan tidak lupa memakan dengan nikmat ikan wader garing dan ayam goreng Ciganea di Rest Area tol. AMAZING. Murah dan super nikmat.

Kesimpulan:

– Pesan hotel jauh-jauh hari, lewat online lebih murah daripada telpon langsung ke hotelnya
– Bawa kasur pompa supaya tidak perlu bayar extra bed
– Ke Kampung Gajah, datanglah di musim panas. Jangan musim hujan. Tidak seperti di Trans Studio yang tertutup, aman segala cuaca.
– Ke Kampung Daun enaknya minum-minum dan makan cemilannya. Makan di luar yang enak dan murah, mampir ke Kampung Daun untuk dapat suasananya

Selamat berlibur.

Kalau ada yang punya alternatif fotografi outdoor di Jakarta atau tempat wisata seputar Jakarta lainnya, mohon dishare di komentar yaa.. TIA.