Get Married (2007)


Film yang naskahnya ditulis oleh Musfar Yasin ini benar-benar menarik untuk ditonton. Ide ceritanya sama sekali tidak mengekor dewan iblis yang menghantui bioskop kita (Pocong, Sundel Bolong, Suster Ngesot, Suster N, Kuntilanak, Hantu, Hantu Jeruk Purut, Lewat Tengah Malam, Genderuwo, Pulau Hantu, dsb). Juga tidak mengekor film-film cinta semata (tentang cinta, butterfly, cinta pertama, dsb). Idenya lumayan orisinil (cmiiw), meskipun sederhana. Filmnya mengkontraskan kebudayaan “kampung” betawi dan kebudayaan modern (orang kaya Indonesia yang kebule-bulean).

Mae (Nirina Zubir) adalah satu dari empat sekawan sarjana pengangguran, kelompok generasi muda yang (merasa) tidak berguna. Ketiga sohib lainnya cowok semua, yaitu Beny (Ringgo Agus Rahman), Eman (Aming), dan Guntoro (Desta). Sehari-hari mereka cuma nongkrong di pos kamling samping kali dekat rumah mereka, dari ngobrol ngalor ngidul, maen gaplek, atau saling mencibirkan nasib mereka yang masih pengangguran. Lama-lama, Ibu kandung Mae, Bu Mardi (Meriam Bellina), dan suaminya (Jaja Miharja), gerah juga melihat anaknya yang semata wayang itu tidak juga kunjung bekerja. Jadinya membebani kehidupan mereka yang pas-pasan itu. Akhirnya mereka memutuskan kalau Mae harus secepatnya menikah, sehingga tidak lagi jadi masalah yang membuat pusing kedua orangtuanya. Ide pembuka film ini mengingatkan kita pada filmnya Nicole Kidman Naomi Watts dan Edward Norton (Painted Veil). Bedanya film ini bergenre komedi, Painted Veil bergenre drama cinta berbalut tragedi.

Masalah terberat untuk Pak Mardi dan istrinya adalah si Mae anaknya tomboy dan cenderung jagoan. Nggak feminis sama sekali. Doyan berantem, duduk seenaknya, dan ngomong semau wudelnya sendiri. Ibaratnya, cowok sekampung udah nggak ada yang mau, atau kalau tidak nggak ada Ibu yang mau kalau calon mantunya kayak si Mae. Nah, konflik utama terjadi ketika seorang lelaki tampan dan kaya raya, yang bosan berpacaran dengan cewek-cewek kaya yang membosankan dan seragam, somehow, bertemu dengan Mae dan mereka saling jatuh cinta! Masalahnya ketiga teman Mae rupanya salah paham, dan mengira Mae tidak menyukai si cowok tampan yang bernama Rendy itu (Richard Kevin). Akhirnya si Rendy digebukin sampe jontor. Saking stressnya Bu Mardi mengetahui anaknya nggak kawin-kawin, akhirnya ia jatuh sakit. Mae mau nggak mau harus cepat menentukan jodohnya. Nah, siapakah yang bakal menikahi Mae? Jawabannya ada di akhir cerita.

Film ini membawa pesan moral yang dibawakan secara halus dan tidak menggurui, tidak seperti Nagabonar Part Deux. Film Nagabonar memang bersarat nasehat yang baik, komunikasi dua generasi berbeda zaman, dan diantarkan melalui keluguan seorang pejuang veteran RI. Namun chemistry antara Dedy Mizwar dan Tora Sudiro terasa garing di beberapa adegan. Secara pribadi saya lebih menyukai film Get Married ketimbang Nagabonar Jadi Dua. Ceritanya lebih mengalir. Coba lihat pas teman-teman Rendy mau balas dendam. Musfar Yasin ingin membuat kita menertawakan diri kita sendiri yang sering memecahkan masalah dengan jalan tipikal orang Indonesia (baca: kekerasan). Hal lain adalah memandang rendah orang kampung yang selalu distereotipkan tidak pernah makan bangku sekolahan dan kampungan. Dari sisi warga kampung, mereka juga sering berpendapat kalau si kaya juga nggak selalu baik, kalau kekayaannya diperoleh dari hasil jual narkoba atau korupsi. Hal-hal seperti ini disampaikan dengan baik dan divisualisasikan secara memuaskan oleh sang sutradara, Hanung Bramantyo. Rupanya Musfar memperbaiki kekuatan ceritanya (setelah Nagabonar yang ia tulis juga) di film ini.

Ada adegan yang lumayan moving, waktu Mae menangis ketika tahu cinta pertamanya digebukin sohib-sohibnya dan mereka ngaku kalau belum siap ditinggal kawin sama si Mae. Adegan tawuran digarap dengan baik sekali, tidak seperti adegan perkelahian di film Indonesia atau India sekalipun. Ini bukan adegan laga yang sekali tonjok musuhnya mental beberapa puluh meter. Kalau menurutku, adegannya lumayan realistis.

Tadinya aku dan keluarga mau nonton Stardust, film yang dibintangi oleh Robert De Niro dan Claire Danes. Tapi ternyata filmnya baru midnight dan belum turun di teater biasa. Jadinya nonton film ini. Tadinya udah siap-siap kecewa sama kinerja film Indonesia. Tapi aku keliru berat. Film ini benar-benar menghibur! Beberapa hal yang mengganggu tidak mengurangi anjuran untuk nonton film ini. Meriam Bellina logatnya kurang cocok jadi warga Betawi. Kebanting sama Jaja Miharja yang sudah super duper faseh. Beberapa percakapan dibuat serealistis mungkin, sehingga beberapa kali nama hewan penghuni Ragunan disebut-sebut. Untuk pemeran Mae, susah kalau bukan Nirina yang memainkannya. Desta dan Ringgo bisa digantikan siapa saja, tapi Aming susah untuk digantikan.Itulah mengapa syuting film ini sempat terhenti ketika Aming masuk rumah sakit dan dirawat inap di Bandung.

Bravo buat Musfar Yasin, Hanung Bramantyo, dan semua timnya.

Iklan

Posted on November 4, 2007, in Ulasan and tagged , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: