Laskar Pelangi (2008)


Sepulang mudik dari Tegal, kami merencanakan untuk menonton Laskar Pelangi. 3 dari tetralogi bukunya sudah dibaca, kini giliran filmnya keluar dan bisa dinikmati di layar perak. Soundtrack filmnya yang dibawakan Nidji sudah mulai diingat lirik reffnya oleh Rayyan. Bapak ama anaknya sama-sama doyan. Hehehe..

 
Kami menonton bersepuluh dengan teman-teman adik iparku yang kebetulan pas main ke rumah mertuaku. Setelah makan malam bersama di rumah mertua (karena kami lebaran di kampungku, jadi baru ketemu mertua Sabtu paginya).
 
Seperti menonton Ayat-ayat Cinta, saya sudah mempersiapkan secara mental untuk tidak membanding-bandingkan karya audio visual dengan karya tekstualnya. Menurut saya, jerih payah seorang sutradara, penulis skenario, produser, kamerawan, pengatur cahaya, aktor dan aktris, dan semua kru pendukung filmnya terlalu besar untuk dikomentari secara singkat “Ah, bagusan bukunya!”
 
Membaca buku tidak sama dengan menonton film. Produknya saja jelas berbeda. Minum jus jeruk berbeda dengan makan jeruknya secara langsung. Ketika minum jus jeruk, sudah tentu ada saripati yang hilang, yang mungkin ada ketika dimakan secara langsung. Namun selama esensinya sama, mestinya minum jus jeruk juga ok. Kecuali, pake gula tambahan dengan kadar tidak tepat yang justru menghancurkan pengalaman meminum jus tadi. Demikian juga dengan film. Selama esensi dari film terpenuhi, meski ada perbedaan sedikit di sana-sini, demi menghidupkan produk audio visualnya, maka saya tidak terlalu mempermasalahkannya. Wajar dong, minum jus dikasih irisan jeruk dipinggir gelas untuk estetika tanpa menghilangkan rasa jeruknya?
 
Demikian juga halnya dengan Laskar Pelangi dan Ayat-ayat Cinta, yang keduanya saya katakan berhasil menunjukkan esensi dari bukunya. Menurut pendapat saya, Laskar Pelangi ditulis oleh Andrea Hirata tidak untuk menunjukkan petualangan anak-anak Laskar Pelangi di sebuah pulau di Indonesia. Tidak. Andrea Hirata ingin menunjukkan bahwa bakat, usaha, dan doa membungkam kemustahilan. Beliau juga ingin menunjukkan bahwa usaha guru untuk mendidik secara ikhlas berbuah emas. Cita-cita dan impian adalah hak setiap manusia yang perlu dikejar, meski besar badai menghadang, dan topan menerjang. Nasib tidak ditunggu dari langit, namun untuk diperjuangkan. Takdir lain lagi. Takdir adalah skenario dari Tuhan yang menghendaki manusia meneruskan atau memodifikasi ikhtiar yang sudah dilakukan dengan goal yang sama atau yang lebih baik. Untuk sampai ke Sorbonne Perancis, Ikal memperjuangkan nasibnya. Takdir Lintang berbeda dengan takdir Ikal. Meski sama-sama berjuang, Lintang harus memodifikasi goalnya yang dulu ia impi-impikan. Gagalkah Lintang? Tidak! Lintang adalah salah satu bintang yang hidup di hati Ikal yang membuatnya terus menyalakan obor impiannya. Lintang berperan di hati para Laskar Pelangi dan Ibu Muslimah. Menafkahi keluarga adalah salah satu goal yang mulia di sisi Allah SWT. Sama halnya dengan menuntut ilmu hingga ujung dunia, dari buaian hingga liang lahat.
 
Sentra dari film adaptasi Riri Riza ada pada Ikal dan Lintang. Dibuka oleh Ikal dewasa yang baru lulus dari UI dan bersiap menuju Sorbonne, ia mudik untuk memberikan kabar gembira ini pada habitatnya di Belitong. Kisah cinta monyetnya dengan A Ling dan pengalaman Lintang ke sekolah yang dihadang buaya, dan diakhiri dengan pertemuan keduanya di pantai menegaskan hal ini.
 
Yang mencuri perhatian dalam film ini adalah pemeran Mahar. Mainnya sudah natural sekali dan bisa menghayati peran Mahar yang “nyeni” dan sok eksentrik. Akting Ikranegara sebagai Kepala Sekolah SD Muhammadiyah sangat bagus. Slamet Raharjo dan Jajang C. Noer meski tidak mendapat porsi yang banyak, namun bisa memerankan tokoh Belitong dengan baik.
 
Menurut saya, film Laskar Pelangi masih bisa dibuat sekuelnya sekali lagi, mengetengahkan Ikal dan Arai semasa SMA dan kuliah, dengan judul Sang Pemimpi.
 
Two thumbs up for this movie. Cuma sayang di akhir film, hanya ada tulisan mengenai pendidikan adalah hak WNI sesuai UUD 45. Akan lebih baik kalau dijelaskan sedikit Mahar gimana, Flo gimana, dst. Jadi untuk yang tidak membaca bukunya, tahu bagaimana nasib para Laskar Pelangi selain Ikal dan Lintang. Statistik di Indonesia yang menyebutkan jumlah SD yang rusak akan lebih menggugah hati nurani pemerintah, khususnya DepDikNas untuk lebih introspeksi, tidak hanya membuat program yang tidak penting, namun lebih menyentuh ke esensi pendidikan dasar di seluruh Indonesia yang layak dan terjangkau.
Iklan

Posted on Oktober 7, 2008, in Ulasan and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: