Tips Berkemah Keluarga Untuk Pemula

Indonesia bertaburan tempat yang indah untuk berkemah bersama keluarga. Seiring dengan bertambahnya lokasi perkemahan yang mendapatkan dukungan baik dari pihak swasta maupun pemerintah daerah, maka makin populerlah wisata berkemah yang ramah untuk keluarga.

Suasana pagi di Gunung Papandayan

Paparan gawai elektronik yang sudah membuat generasi milenial mager alias “malas gerak”, jalan-jalan ke mal yang lama-lama membosankan, dan plesiran mewah di vila dan hotel berbintang yang tidak menantang, semuanya membuat liburan berkemah keluarga menjadi pilihan berlibur yang unik.

Apa saja sih manfaatnya berkemah itu?

  • Mensyukuri karunia Tuhan atas alam yang begitu indah
  • Menyadarkan bahwa kita harus merawat alam ini dengan sebaik-baiknya agar terus memberikan manfaat bagi makhluk hidup di sekitarnya
  • Melatih kemampuan problem solving, atau pemecahan masalah dengan lebih baik
  • Memberikan efek relaksasi dan kedamaian dengan suasana tenang jauh dari hingar bingar keramaian dunia
  • Mendekatkan hubungan keluarga dan bekerja sama satu sama lain
  • Melatih anak-anak kemandirian dan kepedulian dengan alam sekitar
  • Menyehatkan badan karena udara yang segar dan aktivitas luar ruang di sekitar bumi perkemahan
  • Menyalurkan hobi fotografi alam dan pemotretan langit di malam hari
Tenda dalam Kelompok

Di zaman COVID-19 ini, menggunakan perbekalan milik sendiri terasa lebih nyaman dan aman. Kita tidak tahu tenda yang disewakan itu bersih atau tidak. Izinkan saya memberikan tips berkemah dengan peralatan yang kita punyai sendiri.

Lanjutkan membaca Tips Berkemah Keluarga Untuk Pemula

Berkemah di Kala New Normal

Dunia telah berubah. Covid-19 membawa warna yang berbeda dengan dunia kita sebelumnya. Inilah masa di mana kita menikmati setiap jengkal sudut rumah kita dalam waktu yang panjang. Ketika tempat umum ditutup di mana-mana, hanya rumah kita yang bisa kita nikmati sepanjang hari.

Bagi pencinta kehidupan luar rumah, khususnya para campers, berada di rumah berbulan-bulan akan menimbulkan kerinduan berkemah yang luar biasa. Bau rumput yang segar oleh embun pagi. Suara burung berkicauan di atas pepohonan di sekitar kita. Hangatnya mentari pagi yang menyapa malu-malu dari balik bukit nan indah. Wanginya semerbak teh atau kopi yang menemani pisang goreng atau roti panggang yang siap disantap untuk sarapan pagi. Semuanya menimbulkan kerinduan yang luar biasa.

Camping di Sukamantri Camping Ground
Pagi di Sukamantri

Di tengah bahaya ancaman Virus Corona, apakah kita masih bisa hidup berdampingan dengan aman? Bagaikan Pi dengan Richard Parker di film besutan Ang Lee, Life of Pi?

In the movie Life of Pi, was Richard Parker the illusion or the ...
Pi menerapkan physical distancing agar tidak menjadi korban

Saya bermaksud memberikan saran dalam melakukan kegiatan luar ruang, khususnya berkemah, di masa New Normal seperti saat ini:

Pilih Tempat dengan Protokol Kesehatan

Cari info orang yang bisa dihubungi apakah BuPer-nya sudah siap untuk digunakan. Jika sudah, tanyakan apa protokol keamanan dalam New Normal ini. Berkemah dengan jarak yang tidak berdekatan merupakan hal yang dianjurkan agar lebih aman dan kondusif. Tapi bila tidak ada aturan yang jelas dari pihak penyelenggara BuPer, orang yang tidak peduli bisa memasang tenda dekat dengan kita.

Tempat-tempat yang sering dijadikan kerumunan seperti api unggun, kebersihan toilet umum, dan warung makan di daerah BuPer harus diatur protokol keamanannya. Bila tidak diatur, sebaiknya Anda hindari tempat seperti ini demi keamanan dan kesehatan kita.

Jangan Lupa Masker

Ketika Anda terpaksa harus berbincang-bincang dengan orang lain dalam jarak dekat, selalu kenakan masker. Masker adalah wujud bahwa Anda menghargai orang lain di zaman New Normal seperti sekarang ini. Masker kain cukup saya kira untuk dipakai.

Bawa Hand Sanitizer dan Sabun Cuci Tangan

Selalu sediakan sabun cuci tangan ketika pergi ke toilet umum dan letakkan hand sanitizer di dekat tenda kita untuk membersihkan tangan sebelum beraktifitas. Setelah menyentuh keran, gunakan Hand Sanitizer untuk membersihkan tangan Anda sebelum keluar toilet.

Atur Jarak Antar Tenda

Atur jarak tenda dengan teman atau keluarga kita, juga dengan orang dari pihak luar. Jika perlu gunakan tali rafia untuk menentukan batas aman agar orang lain tidak meletakkan tenda terlalu dekat dengan tenda kita.

Atur jarak dan konsultasikan dengan pihak penyelenggara

Hindari Kegiatan Kontak Fisik dengan Banyak Orang

Saat ini banyak komunitas berkemah yang mengadakan berkemah bersama dalam jumlah besar dengan kegiatan yang seringkali berdekatan satu sama lain. Di waktu sebelum COVID-19, hal ini tidak masalah. Namun di masa New Normal yang baru akan berlaku ini, menghindari acara seperti ini justru disarankan, kecuali mereka benar-benar mengubah acaranya agar tetap aman. Pastikan ketua acara mereka punya aturan yang jelas untuk hal ini. Ini juga berlaku ketika foto bersama. Jaga jarak setidaknya satu meter antar keluarga. Jangan terlalu dekat.

Memasak Sendiri Lebih Baik

Jika memungkinkan, masaklah sendiri untuk keluarga inti. Hal ini tetap paling aman dibandingkan berbagi makanan dengan banyak orang atau membeli di warung makan yang tidak jelas standar kesehatannya. Sebelum pandemik, berbagi makanan sudah biasa dan seru. Namun sekarang harus dilakukan dengan ekstra hati-hati. Pastikan yang memasak menggunakan masker. Selalu mencuci tangan sebelum memasak. Gunakan alat makan sendiri dan tidak dicampur dengan keluarga lainnya.

Bawa kompor portable

Hindari Kolam Renang tanpa Kaporit

Beberapa BuPer menyediakan kolam renang. Tanpa kaporit, bakteri dan virus bisa hidup bebas, meski air dibuat mengalir. Sedapat mungkin hindari air menggenang yang memungkinkan virus tinggal secara lama di sana.

Pastikan Berjemur dan Beraktivitas Fisik

Matahari pagi adalah sumber vitamin D. Berjemurlah di pagi hari untuk kesehatan kita, jangan mager dengan tidur saja di dalam tenda. Lakukan aktivitas fisik yang menyehatkan badan.

Berolahraga

Demikianlah usulan saya untuk tetap beraktivitas di luar ruang dengan tetap menjaga protokol kesehatan. Jika ada masukan lain, tambahkan di kolom komentar, ya!

Berkemah di Gunung Papandayan

Beberapa waktu yang lalu di awal bulan Oktober 2019, saya sekeluarga dan 30 orang lain yang sebagian besar adalah teman kantor, pergi berkemah ke Gunung Papandayan di Garut. Teman-teman di kantor menyewa bus sementara saya dan satu keluarga lain membawa mobil sendiri karena pergi bersama keluarga. Dari Serpong kami berangkat sekitar pukul setengah sebelas malam dan sampai di Garut menjelang subuh. Jalanan cukup lancar, tidak ada kemacetan yang berarti. Panduan kami hanya Waze saja sampai ke Camp David Papandayan.

Di Sumedang, selepas tol Cileunyi, kami mampir makan tahu Sumedang yang masih hangat dan tahunya baru keluar dari pabrik. Jam menunjukkan sekitar pukul tiga pagi dini hari. Sungguh nikmat sekali. Azan subuh berkumandang ketika kami sudah dekat Garut dan kami memenuhi panggilan untuk menunaikan kewajiban sholat subuh berjamaah di Masjid Al Kholil.

Kami menikmati pemandangan indah daerah Garut dan sekitarnya. Ketika melewati daerah Mekarbakti, saya berhenti dulu di tengah jalan sambil mengambil gambar.

Sebuah bukit di pagi hari di daerah Mekarbakti Garut

Perjalanan menuju Camp David Papandayan cukup menanjak dan membuat mesin mobil terkadang harus bertahan di gigi satu. Di kiri dan kanan jalan semakin lama semakin jauh dari perumahan warga. Akhirnya kami tiba di Camp David yang memiliki lahan parkir beraspal halus dan sangat luas. Saya yakin campur tangan pemerintah daerah setempat yang memungkinkan fasilitas yang membanggakan ini bisa tersedia.

Gerbang Selamat Datang

Bila kita pergi ke base camp gunung lain, keindahan mungkin baru bisa dinikmati setelah kita mendaki. Ini tidak berlaku bagi Gunung Papandayan. Dari lahan parkirnya saja keindahannya sudah terlihat. Toilet bersih berjajar. Warung makan dan penyewaan mendaki gunung banyak tersedia. Tempat untuk berfoto-foto ada.

Lahan parkir yang super luas dengan latar belakang gunung nan indah

Berkemah (lagi) di Curug Cipamingkis dengan Suasana Baru

Beberapa waktu yang lalu, saya dan teman-teman kantor memutuskan untuk berkemah di Curug Cipamingkis. Ada beberapa keluarga yang ikut, total sekitar 30-an orang, dengan berbagai usia. Ini adalah kunjungan kami yang kedua, setelah kunjungan bersama mertua sebelumnya yang pernah saya bahas di artikel tentang Curug Cipamingkis ini dua tahun lalu. Kali ini tiap orang harus membayar 60 ribu rupiah untuk menginap semalam (sewa lahan), berenang di dua kolam renang, dan ke air terjun.

Acara kali ini dihadiri beberapa keluarga teman saya di kantor dan di Quora. Total ada sekitar 30-an orang yang memeriahkan acara kali ini.

Ada banyak perubahan yang terjadi dalam dua tahun terakhir. Warung tenda yang masih beratapkan kayu kini sudah diganti yang lebih resmi dengan atap baja ringan.

Sebelah kiri, dua tahun lalu, masih terpisah per warung. Kini sudah menyambung dengan toilet umum di tengah

Begini penampakan warung yang terletak di samping water park buat anak-anak.

Warung dan Water Park

Di samping warung dan di tepi sungai, dulu masih bisa mendirikan tenda persis di tepi sungai tanpa harus menyeberang. Sekarang harus menyeberang sungai. Di tempat saya mendirikan tenda kini menjadi lahan parkir berbatu koral yang dipecah-pecah, dan di tepi sungai diberi villa berbentuk tenda dalam tiga warna.

Perbedaan yang cukup signifikan

Berikut penampilan lebih dekat ketiga villa yang berwarna ngejreng dan beratap seperti tenda itu.

Saat kami ke sana, air sungai masih kering karena sudah cukup lama tidak hujan. Meskipun demikian pasokan air untuk mandi dan kolam renang sangat aman.

Sungai dan Jembatan Cinta di Cipamingkis

Saya dan Dony Alpha membawa masing-masing lima tenda untuk dipergunakan kawan lain yang belum memiliki tenda. Tenda berbagai jenis warna dan ukuran semuanya bisa digunakan dengan baik untuk tidur. Mau lihat penampakannya?

Tenda Beramai-ramai dan Keceriaan Anak-anak

Inilah penampakan tenda-tenda kami.

Mau lihat kolam renangnya seperti apa? Nih monggo…

Kolam renang baru di Curug Cipamingkis

Meskipun dingin, tapi lama-lama tubuh kita akan menyesuaikan kok. Saya sendiri sengaja membawa baju renang one piece agar tidak terlalu dingin. Sangat menyenangkan dan bisa mengisi waktu dengan olahraga ketika berkemah di Curug Cipamingkis ini.

Setelah sorenya berenang, malamnya ibu-ibu memasak dan anak-anak menonton film, bermain Nintendo Switch, dan bermain board games.

Menonton film bersama

Ibu-ibu memasak, dipimpin oleh Mbak Sum dari keluarga Ridwan yang sudah terkenal pembuat nasi kebuli enak.

Tenda tidak perlu boring. Dengan sedikit sentuhan lampu, bisa menyegarkan suasana menjadi lebih meriah
Memasak di depan tenda kerlap-kerlip

Bagaimana dengan keseruan lainnya?

Kami juga berfoto di rumah pohon dan air terjun. Secara ringkas, trailer version dari acara ini bisa dilihat di video berikut.

Video Trailer Camping Bareng

Oh ya, meski masih tidak ada sinyal semua provider, tapi ada Wifi di dekat kantor Pos Depan Cipamingkis. Silakan serahkan gadget Anda, nanti password wifinya diisikan 🙂 Gratis kok.

Demikian yang bisa saya sampaikan kali ini mengenai kunjungan kedua ke Curug Cipamingkis. Sangat menyenangkan sekali karena yang ikut sangat ramai dan semua berpartisipasi dalam menyemarakkan acara seru ini. Board game dari Splendor, Exploding Kitten, Donuts for Go Nuts, hingga Werewolf semuanya dimainkan dengan semangat.

Saya merekomendasikan tempat ini untuk berlibur bersama keluarga dan menyatu dengan alam.

Accidentally in Vacation Part 3 at The Paseban

Hari Jumat kemarin, pas long weekend, kami sekeluarga mendapatkan serendipity. Jadi ceritanya gini. Seminggu sebelumnya, saya lumayan galau, mau ke mana pas liburan panjang itu. Ada beberapa pilihan yang terlintas di pikiran, yaitu:

  • Berkemah bersama K3I bersama teman kantor, Dony Alpha  di BuPer Cijalu, Purwakarta
  • Camping di Ranca Upas, Ciwidey seperti yang sudah pernah kami lakukan sebelumnya
  • Camping di Curug Panjang, daerah Mega Mendung bersama teman kantor, Marvin Sigar
  • Camping di Sawarna

Persiapan Packing
Persiapan Camping

Setelah packing dan melakukan beberapa pertimbangan, saya ingin menghindari tol Cikampek, yang saat ini sering macet karena pembangunan, apalagi pas liburan panjang. Jadi Cijalu dan Ranca Upas saya coret dari pilihan. Sawarna menarik, karena kami belum pernah sejauh itu berpetualang. Namun memikirkan hawa yang panas untuk berkemah (di pinggir pantai) dan jauhnya perjalanan, bisa 5-8 jam perjalanan, dengan kondisi jalan yang mungkin kurang begitu bagus, akhirnya Sawarna saya coret untuk saat ini. Dengan longsornya daerah Puncak dan ditutupnya jalur Gunung Mas sampai Ciloto, saya berpikir seharusnya volume kendaraan akan berkurang karena yang akan ke Puncak dan Cianjur akan mengambil jalur Jonggol. Jadi saya putuskan untuk camping di Curug Panjang.

Lanjutkan membaca Accidentally in Vacation Part 3 at The Paseban

Camping di TNGP Cibodas

Minggu lalu kami sekeluarga pergi berkemah di Cibodas Golf Camping Ground dekat Cimacan. Lokasinya setelah Puncak Pass kalau dari Jakarta. Kalau mau ke sini pakai angkutan umum, naik saja elf atau bis dari Bogor, arah Cianjur. Nanti tinggal turun di pertigaan Cibodas, naik angkot sekitar 2 km ke Taman Nasional Gede Pangrango.

Img7

Ridwan, teman saya sekantor juga membawa keluarganya untuk camping bersama. Winny Marlina, teman blogger lama, ikutan bersama juga. Sayang dua temannya tidak bisa ikutan karena ada aktivitas dadakan terkait pekerjaan.

Ini kali ketiga saya datang ke TNGP. Pertama kali bersama rekan-rekan sekantor untuk mendaki Gunung Gede sekitar empat tahun silam. Yang kedua, tadinya mau naik ke Pangrango namun karena ada sesuatu hal, kami hanya trekking ke Curug Cibeureum sekitar dua tahun yang lalu. Nah kali ini kami membawa keluarga, dan ingin mengenalkan indahnya kawasan TNGP Cibodas, sambil camping dan trekking ke air terjun Cibeureum.

Berkemah di Cibodas Golf Camping Ground sangat direkomendasikan. Mengapa?

Lanjutkan membaca Camping di TNGP Cibodas

Berkemah di Situ Gunung

Halo, outdoor lovers! Kali ini saya akan berbagi pengalaman berkemah di tempat baru buat kami, di Situ Gunung, Cisaat, Sukabumi, Jawa Barat, Indonesia. Seperti biasa saya akan ndongeng, cerita ngalor-ngidul selama kami melakukan perjalanan, so bear with me aja lah ya.

Oh ya, buat kalian yang baru pertama kali mampir dan pengen kepo pengalaman berkemah saya sebelumnya, monggo dibaca di pranala berikut ini:
1. Ranca Upas Ciwidey, Bandung,
2. Sukamantri, Bogor
3. Gunung Lembu, Purwakarta
4. Cipamingkis, Bogor
5. Guci, Tegal
6. Tambang Ayam, Anyer
7. Cidahu, Sukabumi

Berangkat dari Serpong hari Jum’at (12 Mei 2017) sekitar jam 11 siang. Akhirnya berhenti untuk sholat Jum’at dan makan siang dulu di Masjid Al Madinah sebelah Rumah Sehat Dompet Dhuafa di daerah Parung, Bogor. Masjidnya bagus, cukup luas dengan bentuk memanjang, dan toiletnya wangi banget! Ah keputusan tepat untuk singgah dan sholat di masjid ini.

Kami berangkat meninggalkan masjid untuk menuju Sukabumi sekitar pukul 2 siang. Berhenti untuk sholat ashar, sholat maghrib, dan makan nasi goreng kambing dengan total istirahat sekitar dua jam. Kami sampai di lokasi sekitar pukul 8 malam. Itu berarti total di jalan dari Parung ke Sukabumi sekitar 4 jam, sudah termasuk kemacetan di beberapa titik di Sukabumi.

Buat kamu-kamu yang males kena macet atau tidak ada kendaraan pribadi, saya sarankan bisa menggunakan kereta api dari Stasiun Paledang Bogor yang berdekatan dengan Stasiun Bogor. Ada kereta ekonomi AC dan juga eksekutif Pangrango. Turun saja di Stasiun Cisaat, lalu sewa angkot ke lokasi. Memang kalau berkemah rempong ala kami agar ribet juga kalau sewa angkot. Bawaannya banyak. Tenda tidur dua (salah satunya turbo tent yang segede gaban), satu tenda payung untuk masak, flysheet, alas tenda, dua kompor, dua kasur pompa, bantal, selimut, jaket, pakaian ganti, berbagai bahan makanan seperti kentang, mie, sosis, roti, dan alat makan seperti mangkok, piring, gelas, dan sebagainya. Lebih cocok backpackeran kalau mau naik kereta api.

Img4.jpg
Kereta Pangrango

Nah karena sampai di sana sudah malam dan banyak perabotan yang kami bawa, akhirnya kami putuskan malam itu tidak langsung berkemah di area wisata. Untungnya, sekitar 10 meter sebelum pintu masuk ada penginapan, Villa Cemara. Dari salah satu teman pencinta outdoor, kabarnya villa ini pemiliknya cukup ramah (Ibu Tuti), dan memang benar adanya. Buat kalian yang ingin menikmati indahnya Situ Gunung dan Curug Sawer tanpa ingin berkemah, bisa memilih untuk menginap di sini. Saya sarankan untuk booking sebelum datang, karena bisa saja penuh. Untung saja waktu itu kami masih mendapatkan dua kamar kosong di rumah bata. Dua kamar kosong yang tersisa berisi masing-masing tiga dan dua tempat tidur dengan kamar mandi di dalam. Air panas tersedia lho. Biaya menginap di kamar dengan tiga tempat tidur pada malam itu adalah 500 ribu semalam dan yang dua kamar 300 ribu semalam. Karena kami berlima bersama asisten RT, saya mengambil kedua kamar itu, agar kata anak pertama kami, saya dan istri bisa mendapatkan quality time. Hahaha.. dasar bocah kelas 2 SMP sekarang udah ngerti aja.. Sebenarnya bisa sih kami menginap dalam 1 kamar berlima dengan menggelar kasur pompa, namun ya itu.. saya dan istri tidak bisa mendapatkan “quality time”. 

Kebetulan kami juga membawa Wifi Portable dengan Kartu XL dengan kekuatan sinyal yang sangat kuat. Maklum saja di dekat situ ada tower XL. Sinyal Telkomsel kurang begitu kuat di daerah Situ Gunung. Jadi malam itu kami tetap bisa berkomunikasi dengan Whatsapp secara nyaman.

Pagi setelah sarapan kami bersiap-siap dengan memasukkan semua perabotan lenong ke dalam mobil, lalu pergi ke tempat wisata.

WhatsApp Image 2017-05-13 at 8.52.25 AM
Ini tiket masuk di pintu gerbang

WhatsApp Image 2017-05-13 at 8.52.26 AM
Tarif sesuai Peraturan Pemerintah RI

WhatsApp Image 2017-05-13 at 8.52.25 AM (1)
Nah, tarif 29 ribu, namun kami bayar 35 ribu

Meski bandrol tertulis 29 ribu rupiah, namun kami diharuskan membayar 35 ribu rupiah dengan alasan untuk uang kebersihan dan sebagainya. Well, baiklah. Kami berlima hanya empat yang harus bayar, Aila yang masih kelas 1 SD gratis.

Setelah urusan administrasi beres, kami segera bergegas menuju danau. Dari pintu gerbang jaraknya sekitar 700 meter. Bisa naik ojek ke sana, namun kami memutuskan untuk berjalan kaki membakar kalori sambil menikmati sejuknya alam.

Perjalanan menuju danau berbatu-batu seperti terlihat pada gambar di atas. Anak saya yang kelas 1 SD sangat menikmati perjalanan dan tidak memberatkan dia sama sekali.

Begitu sampai di danau, kami semua takjub akan keindahan alam ciptaan Ilahi. Begitu sempurna. Lanjutkan membaca Berkemah di Situ Gunung

5 Alasan Mengapa Kamu Harus Berkemah di Cipamingkis – Bogor

Pengen liburan berkesan bersama teman atau keluarga yang terjangkau dan menarik? Yuk camping ceria di Cipamingkis Bogor! Rekreasi asyik itu tidak harus ke luar negeri, lho. Di Indonesia, begitu banyak tempat wisata menarik yang mudah dan murah dijangkau.

Berikut ini saya sampaikan lima alasan mengapa kamu yang tinggal di kawasan Jabodetabek harus berkemah di sini.

Alasan #1 – Dekat dari Jakarta

Di mana sih Cipamingkis ini? Tempat wisata ini terletak di Desa Wargajaya, Kecamatan Suka Makmur, Kabupaten Bogor, Propinsi Jawa Barat. Lokasi Lat Longnya adalah 6° 38′ 24.65″ S  107° 0′ 41.40″ E. Untuk navigasi ke sana bisa menggunakan Waze atau Google Maps, dengan destinasi Curug Cipamingkis. Dari Depok lebih kurang 60 km. Tidak jauh, kan?

Img2

Alasan #2 – Murah Meriah

Tarif masuk tanpa menginap cuma 10 ribu rupiah saja. Kalau menginap 31 ribu per orang dewasa. Parkir motor 2000 rupiah, dan mobil 4000 rupiah. Boleh membawa tenda sendiri atau menyewa dari mereka. Tinggal bilang mau kapasitas berapa orang, akan langsung didirikan, diberi matras dan fly sheet. Kapasitas empat orang cukup membayar 150 ribu semalam. Saya sendiri sudah memiliki 4 tenda sehingga ketika berkemah di sini dengan total 15 orang, saya tinggal mendirikan tenda dan fly sheet.

Mobil atau Motor bisa diparkir di samping tenda. Jadi tidak perlu kesulitan membawa barang untuk dibawa keluar masuk mobil. Listrik kalau mau bisa sewa. Saya sendiri membawa kasur pompa dan menggunakan pompa listrik dengan ikut memompa di warung terdekat.

Alasan #3 – Fasilitas Lengkap

Di sekitar tenda banyak warung yang bisa melayani tamu untuk makan dan minum 24 jam! Dari minuman susu jahe, teh, hingga kopi semua siap! Anda membawa sendiri? Bisa minta air panas. Indomie telur siap, dengan berbagai rasa. Nasi putih dan nasi goreng ada. Gorengan tinggal comot.

cipamingkis (6 of 125)
Warung Makan Berjejer

WhatsApp Image 2017-04-04 at 7.03.30 PM
Memompa kasur tiup di warung

Toilet? Ada 12 pintu. Tinggal pilih saja. Kalau sudah membayar untuk menginap tidak lagi perlu bayar 2000 rupiah per ke kamar mandi.

WhatsApp Image 2017-04-04 at 7.03.29 PM (1)
12 pintu toilet jongkok dengan ember dan air yang mengucur 24 jam nonstop

Musholla? Lengkap dengan sajadah, sarung, dan mukena.

Alasan #4 – Banyak Instagrammable Spot

Ada beberapa spot yang bagus untuk dijadikan tempat selfie:

  • Air terjun

waterfall-1

 

  • Patung kuda

WhatsApp Image 2017-04-04 at 7.21.32 PM

  • Geladak kapal di atas sungai

cipamingkis (65 of 125)

  • Rumah Pohon

cipamingkis (115 of 125)

Alasan #5 – Cocok untuk Segala Usia

Banyak tempat wisata yang hanya cocok untuk pendaki gunung. Tempat ini cocok untuk segala usia. Kami menginap di sini total 14 orang, 9 dewasa, 3 anak, dan 2 balita. Berkemah melatih anak untuk mandiri, tidak takut dengan alam luas, terbiasa menghadapi segala cuaca, memecahkan masalah bersama secara gotong-royong, mengikatkan hubungan batin sesama anggota keluarga, mensyukuri karunia Ilahi akan keindahan alam dan berusaha terus menjaganya, dan banyak lagi alasan positif lainnya.

Nah, tunggu apa lagi? Ayoooo jangan mager! Cuma butuh niat aja kok buat ke sana.

Tips ke sana:

  • Jangan lupa bawa perlengkapan camping jika punya, jika tidak bisa sewa
  • Membawa kompor portable dan bahan makanan akan lebih menghemat
  • Membawa kendaraan dengan CC besar akan membantu karena banyak tanjakan terjal (30 derajat)
  • Lampu tenda akan membantu menghemat listrik (bohlam usb, dsb)
  • Payung dan jas hujan sebaiknya dibawa
  • Sendal gunung akan membantu ke air terjun, jangan sandal jepit biasa
  • Karena tidak ada sinyal provider saat tulisan ini ditulis di area camping, pastikan orang rumah atau keluarga tahu agar tidak khawatir. Semoga provider telko segera memberi akses buat warga setempat dan pengunjung yang datang.

Selamat berlibur dan terima kasih sudah mampir di sini. Oh ya kalau ada pertanyaan jangan ragu tanyakan di kolom komentar di bawah, ya!

Liburan Sekolah ala Wisnu Widiarta

Banyak cara untuk menghabiskan waktu liburan sekolah. Ada yang ke luar negeri, macam Singapore, Vietnam, Hongkong, Malaysia, bahkan Canada sampai ke Eropa. Ada juga yang memilih ke luar kota, Bandung, Sukabumi, Bogor, Jogja, Malang, dan Bali. Nah Wisnu Widiarta punya cara yang berbeda untuk Muhammad Rayyan Ramadhan, putra pertamanya.

Rayyan dari masih kecil suka sekali bermain kemah-kemahan. Dimulai dari waktu masih ngontrak di pinggir jalan daerah Pacuan Kuda Pamulang, aku punya ide unik dengan menggelar kasur di beranda rumah. Dengan memasang tali di masing-masing pilar rumah maka aku punya tempat untuk menggantung sprei sehingga tidak terpapar angin.

Setelah menempati rumah sendiri dan punya halaman kuputuskan untuk membeli sebuah tenda yang bisa digunakan berkemah di gunung sekalipun. Air hujan tidak merembes dan muat untuk 5 orang dewasa. Setelah pulang kerja aku mampir ke Ace Hardware di Living World untuk membawa pulang sebuah tenda yang cepat didirikan dan kuat rangkanya.

Karena berkemah di samping rumah, agak curang sedikit. Aku pasang kabel rol listrik, sehingga tendanya dilengkapi dengan iPad dan Laptop yang terhubung ke Internet melalui WiFi, Speaker Altec Lansing dengan dudukan iPod Touch plus radio FM, dan sebuah kipas angin kecil untuk mengusir gerahnya panas di daerah Serpong.

Takut sama serangga? Depan dan belakang tenda dipasangi obat nyamuk yang bertahan 10 jam. Di sekeliling tenda ditaburi garam dan kapur anti kecoa dan semut.

Siapa bilang liburan asyik dan unik harus jauh dari rumah?

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.