Steven Spielberg Menggebrak Box Office Melalui Ready Player One

 

Akhirnya Steven Spielberg, sutradara kawakan langganan Box Office, kembali mendulang dollar yang menembus 300 juta USD, sebuah rekor yang baru pecah setelah Tintin di 2011 lalu. Ready Player One yang diangkat dari novel Ernest Cline ini digarap Spielberg begitu megah, bahkan terlihat jelas hanya dari trailer-nya saja.

Ada setidaknya 5 alasan kenapa kamu gak boleh melewatkan film ini. Lanjutkan membaca Steven Spielberg Menggebrak Box Office Melalui Ready Player One

Man of Steel (2013)

It’s a bird! It’s a plane! Oww.. It’s an alien 🙂

Short review (no spoiler, promise):

I really enjoy this movie since it tells more about the background of Superman (Henry Cavill – Immortal), the conflict of his parents have in Krypton. It also describes the character of the troubled young Superman who seems outcast and lonely but helpful. I like how Nolan portrays Superman, like his Dark Knight approach to the Batman. Superman is an alien, but we can see his humanity side. The villain, General Zod, who is starred by my favourite antagonist actor, Michael Shannon (Premium Rush, Take Shelter, Boardwalk Empire), playing very convincing (“I will find him!!!” His promise to find Kal El aka Superman, like in the trailer). The visual effect is splendid. With the budget almost a quarter of billion dollar, Zack Snyder (director – known for 300 and Watchmen) and Christopher Nolan (Dark Knight trilogy) definitely have almost unlimited possibility of great actions. The limitation is only their imagination. The problems with this movie for me are some of the idea seems not that original (Matrix and Oblivion) and the romance between Lois Lane (Amy Adams) and Superman seems a little bit too pushed. Overall it is a good reboot of Superman. Recommended, 8/10.

Longer review (let me do it in Bahasa Indonesia), you still can read if you want in your language by using Translate This Blog link on top of this blog. Not perfect, but you’ll get the picture 🙂

[Awas, mungkin ada spoiler]

Beruntung sekali saya bisa nonton film ini bersama keluarga di IMAX Gandaria City. Meskipun menurut saya efek 3Dnya tidak terlalu signifikan, namun menonton di IMAX memberikan pengalaman luar biasa dalam menonton karena layarnya yang super lebar. Dengan menggunakan MTIX saya bisa membeli tiketnya tanpa mengantri beberapa hari sebelumnya. Film dengan durasi lebih kurang 2,5 jam ini tidak membosankan ditonton, dan memaksa Anda untuk menahan pipis sepanjang pertunjukan.

Yang membuat film ini berbeda dari pendahulunya adalah porsi latar belakang Superman bayi di Krypton dan segala konflik yang melibatkan ayah dan ibu kandung Superman sebelum ia dikirim ke bumi. Teknologi Krypton yang canggih digambarkan lebih organis ketimbang mesin seperti di bumi. Hanya saja yang membuat aneh adalah meski penghuni Krypton bisa dikatakan Alien, namun mereka tampak seperti manusia di bumi. Hewan-hewannya saja yang berbeda sama sekali dengan apa yang ada di bumi. Hal ini cukup janggal. Russel Crowe yang berperan sebagai Jor El bermain baik dan bisa diimbangi Jendral Zod (Shannon).

Film ini diceritakan dengan kilas balik Superman di Krypton, masa bayi, remaja, dewasa, dan kembali lagi ke Krypton, dan seterusnya. Penggambaran Superman di film ini cukup berbeda dengan Superman jaman Christopher Reeve. Selain tanpa celana dalam merah di luar, Supermannya berasa kurang humor. Sepertinya dibuat sangat humble, dan jaga image. Dari sisi kegantengan dan keatletisan, Henry Cavill bisa dipastikan akan memuaskan selera kaum hawa (dan gay mungkin). Sangat cocok sebagai Superman, bahkan sudah terasa oleh saya waktu ia main di film Immortal. Ayah Superman di bumi, Jonathan Kent, diperankan dengan baik oleh Kevin Costner. Juga sang ibu di bumi, diperankan dengan natural oleh Diane Lane.

Satu hal yang menurut saya dipaksakan adalah adegan ciuman antara Lois Lane dan Superman. Semua wanita bumi pasti kesengsem sama Superman. Tapi dengan hubungan yang sangat singkat, mereka sudah berciuman. Berbeda dengan Superman sebelumnya bahwa kedekatan mereka sudah cukup lama, sehingga wajar timbul rasa saling suka. Di akhir cerita baru Superman bekerja sebagai wartawan Daily Planet. Padahal seharusnya mereka tidak perlu berciuman di awal. Jadinya seperti dipaksakan sekali harus ada ciumannya. Padahal hanya berpelukan atau berpegangan tangan saja sudah cukup. (Kalau Supermannya muslim sih malah nggak boleh sentuhan. Bukan mahrom hahaha).

Bagaimana dengan adegan pertarungan Jendral Zod dan kawan-kawannya melawan manusia di bumi dan Superman? Luar biasa. Adegan pertarungannya sangat dahsyat, ala blockbuster di musim panas. Dijamin puas. Kekurangan yang sudah saya sebutkan di paling atas, adalah film ini seperti kurang orisinil. Ide mesin dunia yang dimiliki Zod merupakan gabungan Battle of Terra dan Oblivion. Bagaimana bayi dikembangbiakkan di Krypton, mengingatkan pada adegan serupa di Matrix.

Tips untuk menonton film ini:

  1. Kencinglah sebelum nonton. Filmnya bagus, pasti sayang meninggalkan bioskop untuk kencing;
  2. Buat muslim, pastikan film berdurasi 2,5 jam tidak menghilangkan waktu sholat Anda. Cek jam main. Jika terpaksa, keluar pada saat azan untuk sholat. Tanya saja sama teman sebelah tadi kelewatan apa. Bisa gantian keluarnya;
  3. Bawa makanan dan minuman yang cukup untuk menemani aksi tanpa henti ini;
  4. Tidak perlu menunggu adegan tambahan setelah film selesai karena memang tidak ada. Segeralah kencing di toilet, karena 2,5 jam Anda menahan kencing.

Oblivion (2013)

Film terbaru yang dibintangi Tom Cruise ini berkisah tentang seorang pekerja di bumi yang telah hancur karena serangan alien. Tom berperan sebagai Jack Harper yang tugasnya memperbaiki robot terbang berwarna putih yang menjaga bumi dari serangan pemakan bangkai. Kehidupannya yang harmonis bersama partnernya mulai terganggu oleh seorang wanita yang sering muncul dalam mimpinya. Pada suatu hari ia melihat sebuah pesawat jatuh dari angkasa dan fakta-fakta baru bermunculan yang membuatnya mempertanyakan hakikat kehidupannya selama ini.

Film yang berdurasi 2 jam lebih sedikit ini sebenarnya berpotensi menarik. Nilai jualnya selain Tom Cruise yang berakting prima ini adalah visual efek yang memukau, terutama dunia yang hancur. Bulan yang remuk redam, Pentagon yang hancur, gedung bertingkat yang terkubur tanah,  dan jembatan yang hancur cukup menarik untuk dilihat. Namun sayang, idenya banyak mengambil dari film-film fiksi ilmiah sebelumnya seperti Matrix, Moon, Wall-E, dan Independence Day. Jika Anda belum pernah menonton film Moon yang dibintangi Sam Rockwell, Anda akan memuji twist yang disuguhkan di pertengahan film. Namun bila sudah melihat semua film di atas, maka perasaan yang muncul di benak Anda adalah “saya sudah pernah melihat ini sebelumnya”. Rasa kekaguman akan berkurang karena element of surprisenya menjadi lemah.

Film yang diperkirakan menelan biaya 1,2 trilyun ini juga berasa terlalu panjang. Ada beberapa adegan yang harusnya bisa dipangkas untuk memadatkan cerita. Namun dari sudut pandang teknologi yang disajikan, cukup believable dan menarik buat mata kita.

Tips untuk menonton film ini:

  • jika Anda sudah menonton film yang sudah saya sebutkan di atas, terutama Moon, siapkan mental untuk menerima film ini tidak terlalu fresh / orisinal idenya
  • pastikan ada sesuatu yang bisa dimakan buat cemilan karena filmnya cenderung agak lambat di awal. Daripada ngantuk mendingan ngemil, kan?
  • untuk Anda penggemar Sci Fi dan Tom Cruise, jangan ragu untuk menontonnya, tapi jangan berharap banyak
  • film ini memanjakan mata, sehingga menonton di Imax 2D akan memberikan nuansa epik

Overall, 7/10.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

 

Looper (2012)

Akhirnya sempat juga nulis resensi Looper. Film yang mencuri perhatian kritikus ini dibesut oleh Rian Johnson yang juga menulis ceritanya. Film-filmnya sebelum film ini kurang disorot masyarakat kita. Tapi ini merupakan kerja sama yang ketiga dengan Joseph Gordon Levitt yang sedang naik daun, persis ulat bulu. Di bioskop tanah air saja si Levitt membintangi dua film, Premium Rush dan film ini.

Ceritanya melibatkan perjalanan waktu, yang sayangnya masih saja mengandung time paradox. Well, untuk menikmati film ini, abaikan paradoks yang ditimbulkan dari perjalanan ke masa silam. Ceritanya adalah Joe, seorang pembunuh bayaran dengan korban dari masa depan, atau disebut Looper, menjumpai salah satu korbannya adalah dirinya sendiri. What??? Ya, ceritanya di masa depan, orang tidak membunuh di masanya karena bisa terlacak. Oleh karenanya kalau mau membunuh seseorang, kirimkan saja ke masa silam lalu dibunuh Looper, mayatnya dikremasi. Secara hukum aman, karena korbannya toh tidak pernah ada. Sementara di masa depan, mayatnya tidak ditemukan. Perfect crime. Joe dari masa depan diperankan oleh aktor laga gaek, Bruce Willis. Levitt sendiri mukanya dipermak agar mendekati wajah Bruce Willis waktu muda. Gila, sempat pangling diriku melihat Levitt, dan langsung mengingat wajahnya di Premium Rush dan Dark Knight (juga 500 Days with Summer), yang memang beda banget!

Buat Anda yang doyan science fiction terutama perjalanan menembus waktu, film ini jelas jangan sampai dilewatkan. Terjadinya perulangan dan kilas balik dalam perjalanan waktu membuat kita cukup berfikir mengenai alurnya. Meskipun demikian kekompleksan ceritanya masih kalah dibandingkan Inception besutan Christopher Nolan. Ritme film juga sempat menurun ketika Levitt dekat dengan Emily Blunt, yang memerankan seorang Ibu dari seorang anak kecil, yang ketika dewasanya dikenal dengan Rainmaker. Rainmaker ini membunuhi para Looper dan membunuh istri Joe di masa depan. Inti cerita film ini adalah bagaimana Joe dari masa depan berusaha menggagalkan pembunuhan istrinya denga kembali ke masa lalu. Di lain pihak Joe dari masa depan ingin melindungi Ibu Rainmaker dan Rainmaker itu sendiri di masa kecil.

Bagaimanakah akhir jalan ceritanya? Silakan saksikan sendiri filmnya! Awas jangan ngantuk di bagian sepertiga akhir ketika temponya melambat.

Score akhir 7,5 / 10.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

[AWAS SPOILER – JANGAN TERUSKAN KALAU TIDAK INGIN TAHU AKHIR CERITA FILMNYA]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kalau saya jadi penulis cerita film ini, saya tidak akan mengirim Joe masa depan ke masa lalu untuk membunuh Rainmaker. Lebih baik membesarkannya dengan sepenuh hati dan kalau bisa mengawini ibunya. Masalah selesai tanpa harus membunuh dirinya sendiri. 🙂

 

Total Recall (2012)

Beberapa hari ini aku ngeliatin review Total Recall di IMDB dan Rotten Tomatoes. IMDB cuma kasih 6.4 dan di Rotten Tomatoes konsensusnya dibilang Total Recall is not an affair to remember. Tomat busuk 32% dari kritikus. Padahal kalau mengingat film dengan judul sama 22 tahun silam yang dibintangi Arnold Schwarzenegger, kita akan berharap film ini akan lebih atau minimal sama dahsyatnya. Yang tadinya antusias jadi tidak berharap banyak. Meskipun demikian tetaplah diriku penasaran dengan filmnya. Akhirnya selepas buka puasa dan maghriban, aku meluncur ke FX untuk melihat film ini. Ternyata meski sama-sama mengambil ide dari cerpen Philip K. Dick yang berjudul We Can Remember It for You Wholesale, film ini sedikit berbeda dengan pendahulunya. Kalau dulu latar belakangnya di Mars dan banyak mutan, sekarang hanya di bumi dengan polusi sangat parah.

Ceritanya adalah Douglas Quaid yang diperankan oleh Colin Farrell beberapa hari selalu bermimpi hal yang sama di mana ia dikejar, ditembak, dan ditangkap. Sepulang dari bar bersama teman kerjanya Douglas iseng mampir ke Rekall, sebuah tempat yang menyediakan jasa penanaman impian dalam otak sesuai fantasi pelanggannya. Tanpa disadari ia berhasil membunuh banyak tentara yang mencoba menangkapnya. Bingung, kalut, dan gelisah mengenai apa yang terjadi padanya, ketika ia pulang untuk curhat pada istrinya yang seksi yang diperankan Kate Beckinsale, ternyata istrinya menyembunyikan rahasia yang tak terungkap. Pertanyaannya, berhasilkah ia menanamkan impiannya? Mengapa ia akan dibunuh oleh tentara? Siapa sebenarnya istrinya yang selama ini ia kenal?  Saksikan sendiri filmnya di bioskop kesayangan Anda.

Sebagai petunjuk (awas spoiler), ending film ini mengingatkan film yang diperankan Liam Neeson yang berjudul Unknown. Tahu kan di mana letak kemiripan endingnya?

Kalau Anda bertanya apakah Anda bakalan menyukai film ini, maka pertimbangkan hal-hal berikut:

  1. Kalau Anda belum menonton Total Recall versi Arnold, kemungkinan besar Anda akan menyukai film ini
  2. Kalau Anda sudah menonton versi sebelumnya dari Paul Verhoven, sebaiknya lupakan masa lalu, agar lebih tenang dan menikmati film ini
  3. Special efeknya bagus sekali dan mencengangkan. Bisa jadi kandidat Oscar nih.

Buat saya film ini bisalah dapat 7.5 / 10. Cukup memuaskan, selama tidak membandingkan dengan versi 22 tahun yang silam.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

 

Alien, Prometheus, dan Sejarah Umat Manusia

Bagi penggemar film Science Fiction, seharusnya tidak asing dengan film Alien yang berkali-kali dibuat saking larisnya.

Film Alien yang pertama hadir di tahun 1979 dan menempati ranking ke-41 dari 250 film terbaik sepanjang masa versi IMDB. Film yang dibesut oleh Ridley Scott ini memenangkan piala oscar untuk kategori Special FX terbaik dan berbagai penghargaan lainnya seperti Saturn Award, BAFTA Film Award, DVDX Award, Hugo, Sierra Award, dan National Film Registry. Bisa dibilang ini adalah salah satu film fiksi ilmiah terbaik di zamannya dan model aliennya menginspirasikan banyak film lain.

Sekuelnya, Aliens,  ditayangkan 7 tahun kemudian dengan sutradara besar James Cameron (The Terminator, The Abyss, Titanic, Avatar). Dari 250 film terbaik sepanjang masa versi IMDB film ini bercokol di tangga ke-59 ketika artikel ini ditulis. Film ini juga memenangkan 2 Oscar untuk Visual Efek dan Sounds Editing. Penghargaan lainnya adalah ASCAP Award, Saturn Award, BAFTA Film Award, DVDX Award, Hugo, dan Sierra Award.

Film berikutnya, Alien: Resurrection disutradarai Jean Pierre Jeunet (Amelie dan A Very Long Engagement), melempem dibandingkan kedua pendahulunya. Jean Pierre lebih sukses membintangi film drama dengan balutan cinta ketimbang action thriller.

Seperti kekurangan ide, film tentang alien dibuat dan dikawinkan dengan predator, demi menangguk pundi-pundi dari franchise Alien ini. Hasilnya sangat mengecewakan.

Kini Ridley Scott kembali memegang kursi sutradara, membintangi prekuel Alien. Film ini tidak menganut pendekatan slasher + rollcoaster yang justru diminati penggemar setia Alien, namun lebih ke arah filosofi dan perenungan. Bagi mereka yang mengharapkan aksi laga dari awal hingga akhir seperti Alien dan Aliens cenderung akan kecewa seberat-beratnya. Mungkin seiring berjalannya usia Ridley Scott yang sudah mulai menua, cerita yang ia coba sajikan lebih berat, lebih dewasa, dan lebih memikirkan tentang sejarah kehidupan itu sendiri, termasuk umat manusia.

Prometheus adalah pesawat luar angkasa yang berisi ilmuwan untuk menyelidiki kehidupan alien yang petunjuknya ditemukan di gua-gua di seluruh dunia. Ketika mereka sampai di planet yang diduga ada alien dan leluhur umat manusia, mereka menjumpai hal yang mengerikan yang tidak hanya mengancam seluruh kru, namun juga kelangsungan hidup seluruh umat manusia.

Penampilan Michael Fassbender (pemeran Magneto di X-Men First Class) sebagai android sangat meyakinkan dan memukau. Noomi Rapace yang menjadi tokoh wanita bad ass ala Sigourney Weaver cukup meyakinkan secara dia pernah memerankan wanita yang selalu mendapat kekerasan dari sekitarnya di trilogi The Girl with the Dragoon Tattoo. Charlize Theron yang memerankan sebagai pemimpin dalam perjalanan tersebut memiliki karakter dingin dan sinis, mirip penampilannya yang dingin di Snow White and the Huntsman.

Filmnya menurut saya cukup menarik, membuat penasaran, dan sedikit menguak misteri film Alien sebelumnya, dengan meninggalkan lebih banyak misteri.. Saya beri skor 8/10. Di akhir film ada indikasi akan adanya sekuel, yang diharapkan akan lebih menarik dan memuaskan para penggemar sejati Alien.

============================================================================

Berikut ini adalah tulisan mengenai misteri dalam film Prometheus yang dapat merusak misteri film bagi Anda yang belum menonton. Jika Anda belum menonton film Prometheus dan tidak ingin misterinya diketahui sebelum menonton, jangan teruskan membaca artikel ini. Nanti kalau sudah menonton filmnya, silakan buka kembali postingan ini.

============================================================================

Pada awalnya film Prometheus disebut sebagai prekuel Alien, namun Ridley Scott mengubah keputusannya dengan menjadikan film ini sebagai film yang berdiri sendiri, dan bukan prekuel langsung dari Alien. Melihat dari adegan di awal film, terlihat Ridley Scott merupakan pendukung teori Darwin. Adegan yang terlihat adalah sesosok tubuh mirip manusia dengan badan sangat atletis dan tinggi besar meminum sebuah cairan kental yang membuat tubuhnya hancur dan terurai di samping air terjun. DNA manusia itu kemudian melebur di dalam air sungai yang menjadi awal mula kehidupan di muka bumi. Sayang sekali saya sendiri bukan pendukung teori Darwin. Teori ini waktu aku SMA dulu sudah menuai kontroversi, karena guru Biologiku memulai pelajaran dengan kata-kata, “Mari kita kesampingkan dulu pelajaran agama yang pernah kita pelajari…”.

Ada dua hal yang buat saya tidak masuk akal, yaitu teori Darwin itu sendiri dan adegan awal Prometheus di mana nenek moyang manusia berasal dari alien yang menghancurkan tubuhnya dengan melarutkan DNAnya ke sungai. Untuk teori Darwin itu sendiri buat saya sudah hancur-sehancurnya, setelah membaca teori yang buat saya lebih masuk akal dengan cara membuktikan secara terbalik dan sesuai dengan hukum alam. Teori Darwin dibantah dalam 20 pertanyaan, yang dapat dibaca di sini. Untuk adegan di filmnya sendiri, pertanyaannya adalah mengapa si alien yang notabene manusia menghancurkan tubuhnya hanya untuk menghasilkan manusia juga? Mengapa tidak make love saja dengan alien wanita yang jelas tidak menyiksa dan lebih enak 🙂 Adegan setelah alien meminum dan tampak kaget juga membuat saya berpikir alien ini lagi dikerjain, dibohongi bahwa meminumnya akan membuatnya hebat, bukannya menjadi mati. Hanya Ridley Scott yang tahu jawaban pastinya. Prometheus sendiri adalah mitologi Yunani di mana ia adalah Titan pelayan dewa yang mencuri api untuk diberikan kepada manusia, yang berakibat baik dan buruk. Film ini seperti menceritakan pencarian jati diri Ridley Scott akan pertanyaan dalam hidup ini, apakah manusia diciptakan atau terjadi secara kebetulan melalui teori evolusi. Ridley dalam usianya yang senja mempertanyakan eksistensi Tuhan dan ia gambarkan dalam film ini.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Splinter (2008)

Splinter Poster

Film ini dapat dikategorikan sebagai film thriller kelas B. Temanya sederhana dan sudah berkali-kali dijadikan topik untuk film zombie. Alkisah sepasang kekasih ingin berlibur di hutan. Namun karena tendanya terbakar, akhirnya mereka memutuskan untuk menginap di motel saja. Di tengah jalan rupanya mereka bertemu dengan pasangan kriminal yang akan melarikan diri dan mobilnya bermasalah. Sepasang kekasih ini akhirnya disandra oleh sepasang buronan tersebut. Mobil mereka menabrak sesuatu dan terornya mulai muncul. Parasit berbentuk duri landak yang sensitif terhadap suhu tinggi dapat menginfeksi manusia dan menjadikannya zombie. Mereka berempat terjebak dalam sebuah pompa bensin yang pemiliknya sudah terkena parasit ini.

Splinter Poster

Akankah mereka berhasil kabur dari kepungan parasit aneh ini?

Menurut saya visual efeknya lumayan, meski tidak istimewa. Pengambilan gambar cukup memusingkan dan tidak pernah jelas menampilkan zombie yang penuh infeksi. Cerita dan dialog sangat cheesy. Menarik posternya dan idenya, sayang kurang menghibur. Kalau penasaran cukup dvd/vcd saja. Film ini bisa Anda lewati.

Skorku adalah 3/10.